Minggu, 05 Mei 2013

[ JAKARTA ] Merasakan Jakarta Yang "Lain", Pulau Perak

Malam masih menjadi perebutan antara bulan dan matahari. Dalam heningnya lolongan anjing dan aumannya bagai srigala menambah kesunyian menuju pagi. Sebelum alarm berdening membangunkanku auman anjing bagai srigala mendahului membuatku terbangun. 03.30 pagi buta aku sudah terbangun dan siap- siap untuk meninggalkan Tebet. Sembari menunggu adzan subuh berkumandang aku sempatkan sarapan lebih dahulu dengan membuat mie instan dan sereal sebagai pengganjal perut. Usai sembahyang subuh segera kutinggalkan rumah kos-kosan berlantai dua di tepi jalan itu. Berjalan menggendong tas sebesar kulkas dua pintu yang lama teranggurkan karena sudah lama aku tidak naik gunung. Belum genap 10menit berjalan sudah sampai di jalan raya yang sepi hanya sesekali ada mobil pribadi yang lewat, angkot yang kutunggu malah takkunjung lewat. Akhirnya tak lama kudengar lirih suara kernek bus mikro berkata “karet- kareettt”. Kukejar bis mikro yang berjalan perlahan tersebut. Setibanya di halte busway karet waktu masih pukul 05:16 wib yang artinya masih cukup sampai untuk tiba di muara angke. Alhamdulillah perjalanan lancar dari halte Karet hingga Penjaringan jalur busway steril dari “sampah” jalanan pagi itu. Dari penjaringan menyambung angkot 01 menuju pasar ikan muara angke. Setibanya di kawasan Muara Angke tinggal sedikit lagi masuk ke area pasar Muara Angke malah macet tanpa pergerakan sama sekali. Ternyata ada truk mogok dan memblokir akses masuk ke area pasar muara angke, maka terpaksa aku jalan kaki menuju pom bensin tempat miting poin.
==========================================================================
==========================================================================
Masih seperti satu tahun yang lalu dermaga muara angke penuh sesak dengan manusia, teriakan teriakan dari petugas pom bensin pun sepertinya masih sama saja yaitu melarang merokok dan jangan menghalangi jalan. Waktu menunjukkan semakin mepet dengan jam keberangkatan menuju pulau harapan. Sang pemandu pun sudah menunggu di perahu yang akan menyebrangkan melauti menuju pulau Harapan. Dengan menginjakkan kaki di beberapa perahu untuk dapat ke perahu Bahtera. Estimasi 3jam perjalanan pun melambat menjadi 4 jam pukul 11:00 kami baru tiba di pulau Harapan. Sambil berkoordinasi dengan perahu carteran beberapa diantara kami yang sebagian besar belum saling kenal ada yang repacking tas, ada yang beli makan, ada yang membuat kopi dengan trangia, ada juga yang melamun. Perahu carter siap dan penumpang sudah isi tenaga dengan lauk ikan maka sailing trip menuju pulau Perak pun di mulai.
=========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
==========================================================================
===========================================================================
==========================================================================
setelah capek bersnorkling ria dan bersailing dengan perahu kami bersantai di pulau perak. Hingga menikmati sunset dengan sebelumnya ada beberapa yang mendirikan tenda dan mempersiapkan makan malam. Saya sendiri malah memilih hunting foto dan menunggu sunset hehehehe
==========================================================================
==========================================================================
selesai makan malam bintang bertaburan mulai meredup dan menyiutkan niat saya untuk motret milky way karena memang tidak akan dapat hasil. makanya saya memilih tidur saja agar dapat bangun subuh dan segera hunting sunrise hehehehe
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
==========================================================================
Setelah usai menikmati keindahan sunrise pagi itu kami bersiap untuk menyelesaikan sisa selam selam di bawah air. tak begitu ingat saya urutan ke pulau apa saja waktu itu, seingat saya sebelum balik ke muara angke kami mampir di pulau kayu angin bira kecil dan pulau bunder kemudian baru transit di pulau harapan. Di pulau kayu angin bira dunia bawah airnya memang lebih yahud tak menyesal saya paksakan untuk turun karena sesungguhnya saya sudah capek. mendapatkan beberapa foto dan sedikit olah raga renang lagi yang memaksa. Di pulau bunder saya cuma tiduran di perahu karena memang sudah lemes dan capek 😛
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================
===========================================================================

[ JAKARTA ] Merasakan Jakarta Yang "Lain", Pulau Perak

Malam masih menjadi perebutan antara bulan dan matahari. Dalam heningnya lolongan anjing dan aumannya bagai srigala menambah kesunyian menuju pagi. Sebelum alarm berdening membangunkanku auman anjing bagai srigala mendahului membuatku terbangun. 03.30 pagi buta aku sudah terbangun dan siap- siap untuk meninggalkan Tebet. Sembari menunggu adzan subuh berkumandang aku sempatkan sarapan lebih dahulu dengan membuat mie instan dan sereal sebagai pengganjal perut. Usai sembahyang subuh segera kutinggalkan rumah kos-kosan berlantai dua di tepi jalan itu. Berjalan menggendong tas sebesar kulkas dua pintu yang lama teranggurkan karena sudah lama aku tidak naik gunung. Belum genap 10menit berjalan sudah sampai di jalan raya yang sepi hanya sesekali ada mobil pribadi yang lewat, angkot yang kutunggu malah takkunjung lewat. Akhirnya tak lama kudengar lirih suara kernek bus mikro berkata "karet- kareettt". Kukejar bis mikro yang berjalan perlahan tersebut. Setibanya di halte busway karet waktu masih pukul 05:16 wib yang artinya masih cukup sampai untuk tiba di muara angke. Alhamdulillah perjalanan lancar dari halte Karet hingga Penjaringan jalur busway steril dari "sampah" jalanan pagi itu. Dari penjaringan menyambung angkot 01 menuju pasar ikan muara angke. Setibanya di kawasan Muara Angke tinggal sedikit lagi masuk ke area pasar Muara Angke malah macet tanpa pergerakan sama sekali. Ternyata ada truk mogok dan memblokir akses masuk ke area pasar muara angke, maka terpaksa aku jalan kaki menuju pom bensin tempat miting poin.



























Masih seperti satu tahun yang lalu dermaga muara angke penuh sesak dengan manusia, teriakan teriakan dari petugas pom bensin pun sepertinya masih sama saja yaitu melarang merokok dan jangan menghalangi jalan. Waktu menunjukkan semakin mepet dengan jam keberangkatan menuju pulau harapan. Sang pemandu pun sudah menunggu di perahu yang akan menyebrangkan melauti menuju pulau Harapan. Dengan menginjakkan kaki di beberapa perahu untuk dapat ke perahu Bahtera. Estimasi 3jam perjalanan pun melambat menjadi 4 jam pukul 11:00 kami baru tiba di pulau Harapan. Sambil berkoordinasi dengan perahu carteran beberapa diantara kami yang sebagian besar belum saling kenal ada yang repacking tas, ada yang beli makan, ada yang membuat kopi dengan trangia, ada juga yang melamun. Perahu carter siap dan penumpang sudah isi tenaga dengan lauk ikan maka sailing trip menuju pulau Perak pun di mulai.


































setelah capek bersnorkling ria dan bersailing dengan perahu kami bersantai di pulau perak. Hingga menikmati sunset dengan sebelumnya ada beberapa yang mendirikan tenda dan mempersiapkan makan malam. Saya sendiri malah memilih hunting foto dan menunggu sunset hehehehe


























selesai makan malam bintang bertaburan mulai meredup dan menyiutkan niat saya untuk motret milky way karena memang tidak akan dapat hasil. makanya saya memilih tidur saja agar dapat bangun subuh dan segera hunting sunrise hehehehe



























Setelah usai menikmati keindahan sunrise pagi itu kami bersiap untuk menyelesaikan sisa selam selam di bawah air. tak begitu ingat saya urutan ke pulau apa saja waktu itu, seingat saya sebelum balik ke muara angke kami mampir di pulau kayu angin bira kecil dan pulau bunder kemudian baru transit di pulau harapan. Di pulau kayu angin bira dunia bawah airnya memang lebih yahud tak menyesal saya paksakan untuk turun karena sesungguhnya saya sudah capek. mendapatkan beberapa foto dan sedikit olah raga renang lagi yang memaksa. Di pulau bunder saya cuma tiduran di perahu karena memang sudah lemes dan capek :P












Senin, 08 April 2013

[ BOYOLALI ] Perjalanan Pulang Ke Kampung Halaman

Pulang kampung sudah biasa bahkan menjadi hal yang sangat biasa di lakukan orang- orang yang mengadu nasib di megapolitan jakarta. Pada Jumat 5 april 2013 pukul 09:00 dimulai perjalanan dari kos-kosan di daerah tebet dalam. Berjalan kaki menuju jalan raya kemudian di sambung naik angkot 44 menuju terowongan kasablanka. Masih biasa saja dan bahkan tak ada satupun yang special, ada cewe cantik di pinggir- pinggir jalanpun sudah biasa. Rock & Roll di mulai ketika menaiki KOPAJA P20 menuju terminal lebak bulus. Seorang kawan bernama Timbul yang sangat juarang naik kendaraan umum di daerah Jakarta mulai mengeluarkan perilaku ndesonya yang bikin saya ketawa sendiri. Tak lamapun dari tempat kami naik Kopaja ada sebuah bus Kopaja lain yang sedang mogok di tepi jalan. Perlahan bus yang saya naiki mendekati kopaja yang sedang mogok, pikir saya akan mendapat operan penumpang atau meminjami alat buat memperbaiki kopaja mogok. Namun apa yang terjadi fakta berkata lain, ya tak terduga oleh pikir kami berdua sebuah bus yang kami naiki mendorong kopaja mogok tanpa alat bantu alias kopaja sehat menabrakkan ke kopaja mogok dan didorong hingga mesin berbunyi,.. gregg greggg gregggg ngenggggg ngengggg.... jalanlah kopaja mogok tersebut. Benar diluar perkiraan, memang Jakarta ini ada ada saja.

Eh tak lamapun kopaja yang saya naiki malah mengoperkan penumpang ke kopaja lain, padahal bus masih sehat dan selesai membantu kawannya mendorong hingga jalan. Setelah berganti bis tak ada hal- hal yang begitu special alias biasa saja. Sesampainya di terminal Lebak bulus masih pukul 10:30 dan kami berdua langsung masuk saja ke arah loket penjualan tiket. Masih jauh kami dari loket sudah di hampiri oleh CALO tidak jelas dan menanyakan "mas mau kemana?? ke Jawa??" , dengan tegas saya menjawab : "GAK mas saya sudah beli tiket bisnya". Tak mau kalah si CALO bertanya lagi, " tiket apa mas??? saya nanya aja kok". Karena males meladeni saya jawab ngawur saja dan langsung meinggalkannya dan berbelok ke salah satu agen bis, yaitu Pahala Kencana. 




















Karena kami harus mencari masjid yang menggelar shalat jumat dan sesuai saran temen saya yang di PI, maka saya segera menuju masjid raya Pondok Indah. Tak disangka malah kami bertemu dengan kawan lama waktu masih di Bintaro dulu, ya Mahrus namanya sekarang sudah bekerja di eriksen. Sebenernya si ada hal lain juga nyari masjid di Pondok Indah, karena saya ingin bertemu seseorang. Selesai shalat jumat saya dan Timbul menemui seseorang tersebut di Gramedia Pondok Indah Mall. Sambil makan dan minum kami bertiga mengobrol di kantin Pondok Indah Mall. Hampir setahun lebih saya tidak bertemu dengan dia, ya kalo di perhatikan ada beberapa perubahan yang terjadi :). Tapi perubahan itu bukanlah sesuatu yang tabu atau salah, karena saya sendiri pun menyukai perubahan :D.



Pertemuan yang singkat karena dia harus kembali bekerja dan saya harus melanjutkan perjalanan menuju Boyolali. Pukul 14: 50 kami berdua sampai di Lebak Bulus lagi dan menunggu sampai bus menuju Boyolali dan Bojonegoro datang. Karena berbarengan temen saya Zusuf memilih naik bis yang sama dengan saya. Tak lama menunggu bus datang pukul 15: 30 telat setengah jam dari pemberitahuan, ya ternyata bis yang seharusnya sedang di perbaiki dan sedang menunggu sparepart. Bus cadangan yang di pakai pun bukan bus cadangan yang seadanya namun malah bus baru belum pernah di pakai. Perjalanan dari Jakarta hingga Cirebon saya habiskan untuk tidur karena memang capek. Perjalanan yang sesungguhnya baru di mulai dari cirebon setelah istirahat makan. Dengan bergantinya sopir bus berganti pula gaya menyopirnya. 

Tak lama bus berjalan ada salah satu penumpang yang mengambil alih posisi tempat duduk kernek, dan ternyata orang tersebut salah satu bismania. Sepertinya orang ini ingin menjajal kemampuan bus Pahala Kencana. Sopir pun menanggapi dengan senang hati alias meladeni maunya si penumpang tersebut. Di panas- panasin kalau bus PO. Haryanto adalah paling kenceng setau orang tersebut dan posisi bus Haryanto di depan sangat jauh, mungkin keselip beberapa belas bus. Karena sopir tak mau kalah maka diajaklah si bismania tersebut untuk kebut-kebutan mengejar Haryanto. Saya sendiri suka kebut- kebutan namun sempet takut juga soalnya saya berposisi sebagai penumpang. Apa mau di kata maka mari di nikmati saja. Beberapa ratus meter dari rumah makan di depan bus kami sudah ada Laju prima dan Haryanto serta di paling depan ada Kramat djati. Saya pikir Haryanto yang dimaksud bismania itu adalah yang di depan kami, maka segera selesailah balapan bus malam itu, ternyata bukan yang biru di depan kami itu namun yang merahlah yang katanya suka ngebut. 3 bus di awal sudah di tinggalkan. Lanjut dengan meninggalkan truk- truk besar setelah beberapa belas kilometer nampak konvoi bus besar di depan. Rupanya ada Laju prima, Armada Jaya Perkasa, Kramat djati, Harapan Jaya dan Lorena. Kata sopirnya Armada Jaya Perkasa bus jelek- jelek namun sopirnya yang berani mengendarai dengan kencang, sayapun juga ikut berpikir kok ini bus sampai di Jawa Tengah ya??? kan Armada daerah kekuasaannya di Merak - Jakarta. Tak lama pun 5 bus berhasil di tinggalkan lagi.

Tak lain seperti yang sudah sudah, di Tegal pasti terjadi kemacetan dan terjadi buka tutup jalan separo. Kesempatan di manfaatkan sopir untuk secepatnya enyah dari kemacetan panjang dengan mengambil jalur kanan, dan sempat melihat beberapa bis di sisi kiri ikut dalam kemacetan diantaranya : Kramat dajti, Harapan Jaya, Sumba Putra, Sindoro Satriamas, GMS, Tunggal Dara, Rosalia Indah. "Lumayan ada 7 bus tadi ya kalo gak salah sudah kita tinggalkan???" kata sopirnya. Mendekati daerah kendal gas makin di injak dalam dalam karena jalurnya yang mulus dan lurus. Tak lama kemudian ada beberapa bus di depan yang sedang saling mendahului. Ternyata setelah dekat ada Haryanto (merah), "nah itu yang katanya kenceng mas!!" teriak si bismania. Haryanto mencoba mendahului Rosalia Indah dan Langsung Jaya dan berhasil lah Haryanto, di susul bus kami Pahala Kencana mendahului Rosalia Indah dan Langsung Jaya. Ternyata benar Haryanto merah ini tak menyerah begitu saja, kami cukup lama di asapi kenalpot si Haryanto merah ini. Sebelum masuk Alas Roban Haryanto merah akhirnya bisa diatasi, namun di tengah jalur Alas roban ada konvoi lagi tak mau kalah maka ikutlah bus kami dalam konvoi itu. Ada Rosalia Indah, Kramat Djati, Langsung Jaya, Gunung Mulia, Harapan Jaya, dan Nusantara. Jika ada yang pernah lewat Alas roban pasti tau seperti apa trek dan medan disana :). Lumayan menantang juga untuk ukuran bus yang besar ini kebut- kebutan dan saling mendahului. Urutan paling depan Rosalia Indah kemudian Kramat Djati, Gunung Mulia, Nusantara, Harapan Jaya dan Langsung Jaya, dengan mudah Harapan Jaya dan Langsung Jaya menyerahkan diri untuk kami dahului. Menyusul Nusantara menyerahkan diri, namun masih 3 bus yang alot untuk di dahului yaitu RI, KD, dan GM, namun setelah keluar jalur Alas Roban ketiganyapun beres di tinggalkan. Mendekati Semarang masih bertemu dengan bus Dahlia Indah, Tunggal Daya, Armada Jaya P, Santoso, GMS, Sumba Putra dan berhasil kami dahului. Namun ada yang membuat kaget yaitu Di paling depan ada Rosalia Indah dan Haryanto merah, sepertinya si HR merah mengambil jalur yang berbeda ketika masuk Alas Roban. Jadi balapan bertiga lah menuju Semarang, Rosalia Indah yang termasuk bukan bus baru lagi pun masih ngotot ngebut tak mau kalah dengan Haryanto dan Pahala Kencana. Seperti yang sudah sudah yaitu keduanya berhasil di tinggalkan oleh kami. "Gimana bus apalagi yang ingin di jajal??? kayaknya minimal sudah satu bus setiap perwakilan perusahaan ya???" ucap si sopir karena bus kami di urutan paling depan. "kayaknya kita belum bertemu sama Shantika dan Bejeu deh mas!!" balas si bismania. Ternyata memang tidak terkejar kedua bus tersebut karena Shantika dan Bejeu masuk deretan bus yang ngebut juga.

Karena dari Cirebon bus sudah di paksa ngebut terus maka Solarnya boros banget kata sopirnya. Setelah isi solar full tank dan keluar dari kota Semarang sopir mengendarai bus dengan santai agar lebih irit daripada pas kebut-kebutan. Alhasil sampai di Boyolali masih pukul 03:45 pagi buta, rekor terpagi dalam sepanjang sejarah perjalanan BDG- BYL dan JKT- BYL.

Sampai dirumah shalat subuh dan lanjut tidur karena dalam perjalanan belum tidur hahahaha. Sore harinya saya dan keluarga merayakan ulang tahun adek saya Rizka Hanifah Mubarika pada tanggal 7 april. Selamat ulang tahun ya dek Rizka semoga panjang umur, nanti lulus dengan nilai yang bagus dan di terima di SMA favorit , amin amin amin.

foto diambil ketika makan malam bersama di SS

Pada hari Minggu saya pagi - pagi sepulang dari pengajian bersama keluarga sudah bersiap untuk datang ke kawinan kawan saya di wisma haji Boyolali, ya kawinan Rizkiyani Astuti kawan waktu SMA. Selesai mandi mendapat pertanyaan "headshot" dari adek saya " Mas lha koe kapan nikahe???" duarrrrr pertanyaan itu di sambar ibu dan ayah saya "lha wes due pacar durung rif???". Dengan tenang saya cuma bisa menjawab "dereng e pak, selow ae.... :P ". Malahan mau di kenalin sama anaknya temen ayah waktu ngajar di SMA N 2 Boyolali dulu.

Minggu 7 April 2013 di mulai di Smansa Boy menemui Sas dan lanjut ke Wisma haji bertemu Zusuf yang sudah standby kemudian menunggu Handis sebentar dan kami masuk bersama ke gedung acara pernikahan. Selesai acara pukul 12: xx saya langsung mampir ke terminal untuk memvbeli tiket bus pulang ke Jakarta dengan bus yang sama yaitu Pahala Kencana. Berangkat pukul 16: 15 WIB dari Terminal Boyolali. Kali ini bus tak sengebut waktu perjalanan pulang ke Boyolali, karena beda sopir dan beda bus.