Selasa, 02 April 2013

[ JAKARTA ] Three Days

Tiga hari yang luar biasa, sebenernya bukan luar biasa juga namun daripada saya bilang 3 hari yang menyebalkan juga kurang enak. Setelah kepindahan dari kantor lama di Bintaro ke Tebet JakSel saya mendapati beberapa penyesuaian diri dengan lingkungan baru. Perubahan harga kos- kosan dan harga makanan adalah yang utama mempengaruhi. Sudah pasti harga kos- kosan di Tebet lebih mahal daripada di Bintaro, disusul oleh harga makanan yang dibeberapa jenis lebih mahal. Waktu berjalan tak terasa begitu saja, sudah satu bulan lebih saya tinggal di Tebet. Sempat diawal waktu penyesuaian saya mengalami turun berat badan, mungkin di sebabkan belum terbiasa dan teratur makan di lingkungan yang baru. Tidak menjadi mengapa bisa jadi hal seperti itu adalah sudah lumrah, namun ada 3 hari yang menjadi luar biasa atau special. Tercetuslah ide untuk menuliskan 3 hari yang tidak biasa itu.
I. 
Satu hari yang pertama adalah ketika berencana pergi ke kota wisata cibubur dengan tujuan utama adalah kampung cina. Dengan dimulai mencari informasi bagaimana menuju kesana. Tibalah di hari H, saya menuju Blok-M sebagai transit pertama saya. Via bus transjakarta yang menampilkan cinema super besar di sepanjang jalan menuju Blok-M. Menikmati pemandangan dari atas bus transjakarta begitu menarik dengan objek kegiatan di sekitar jalan atau jalur bus. Berbagai macam bentuk manusia ada semua di tampilkan dalam layar super besar. Darisana pula sesungguhnya jika kita mau pun dapat mengambil banyak pelajaran yang baik. Banyak sekali tipe dan jenis manusia di jakrta ini yang sangat sulit untuk di klasifikasikan karena banyaknya. Tetiba di Blok-M maka cinema yang diputar akan berubah menjadi human interest di dalam pasar bawah tanah yang biasa di sebut lorong Blok-M. Harga yang di tawarkan sangat murah sehingga membuat pasar bawah tanah ini sangat ramai di kunjungi orang. Sekelebat saya menikmati aroma pasar, gemuruh teriakan dagangan, padat lalulalang manusia berganti menjadi gemuruh teriakan destination atau tujuan arah bus kopaja ataupun metromini. Satu setengah jam saya berdiri diantara riuhpikuk orang kesana kemari serta kepulan asap pekat menyembur dari pantat bus mini namun bus yang saya harapkan tak jua datang. Setelah menyerah dan memaksakan diri untuk bertanya namun masih ragu karena duit dalam kantong diatas 50ribuan semua, akhirnya saya menunggu seorang selesai bertanya. "Pak kalau ke arah cileungsi lewat sini juga gak???" asongan : "iya mas lewat" *dengan ekspresi datar, "kok sudah satu jam lebih tidak lewat ya pak???" asongan : "kalo hari sabtu memang tidak ada yang beroprasi mas busnya!!! *ekspresi wajah mulai bete" , "ohhh, kalo mau naek bus transjakarta diimana pak???" asongan : "turun aja mas cari di bawah!!! *makin jelas si bapak bete menjawab pertanyaan saya". Saya sadar dan tau kenapa si bapak asongan bete mendapati pertanyaan saya, biasanya saya menggunakan jurus maut yaitu beli dulu baru bertanya. Seperti yang dilakukan si bapak sebelum saya bertanya ke asongan itu, dia membeli minuman yang harganya duakali lipat namun nampak biasa saja karena dia juga butuh informasinya. Sengaja saya tidak ikutan membeli kemudian baru bertanya agar mulus dan lancar, karena saya mengetes apakah saya akan mendapati perlakuan yang sama atau tidak dengan si bapak yang membeli dahulu kemudian bertanya. Jelas bukan jawabannya "membeli" info lebih lancar rupanya daripada meminta info.

Bus tujuan cileungsi tidak beroperasi di hari sabtu minggu karena sepi penumpang maka saya mengarahkan diri menuju Kota Tua. Kembali menaiki bus Transjakarta trayek Blok-M <--> Kota saya melesat tanpa berpindah bus. Belum sampai satu jam berdetak saya rupanya sudah tiba di halte busway kota. Melewati lorong- lorong saya mampir sebentar di mushola menunggu saat dzuhur tiba. Berakhirnya shalat dzuhur saya melanjutkan perjalanan menuju kawasan museum fatahillah, dengan segala keramaian dan terik panas membakar kulit, keringat membasahkan tubuh saya menikmatinya dengan mengarahkan kamera kecil saya krek, krek saya dapatkan beberapa foto. Anak kecil seumuran anak Sekolah Dasar berseliweran bermain kejar mengejar di area lapang halaman museum menarik perhatian saya untuk mendekat. Sesungguhnya mereka ini adalah model dengan bayaran seiklasnya untuk di foto bersama pengunjung. Meninggalkan kawasan museum saya bertolak menuju tebet untuk pulang kekosan karena hari sangat panas dan bikin malas. Tanpa di dudag tanpa di nyana- nyana saya malah bertemu yunior saya sewaktu masih aktif di laboratorium Bengkel Mekatronika, di lanjutkan dengan obrolan ringan mengenai berbagai destinasi dan after graduate lalu membahas kamera saya kemana kenapa berubah menjadi kecil.




























II.
Hari Dua
Dua hari berurutan di awal bulan april terisi momen yang kurang enak. Berawal dari tidur panjang setelah selesai shalat subuh kembali tidur dan baru bangun menjelang dzuhur. Masih dengan malas menempel di kepala dan punggung membuat saya berleha leha saja di kamar sambil mendengarkan lagu kedamaian. Tak lama kemudian kira- kira pukul 14:xx di depan kos-kosan mendadak ramai sekali, ketika ku tengok keluar rupanya sedang ada persiapan shoting acara salah satu stasiun TV. Semliweran kabar burung terbang kesana kemari konon katanya bakal datang artis humor Narji dan artis Sinetron Andika. Terasa musik yang kudengar semakin pelan namun volume tak sedikitpun saua kecilkan, rupanya suara di dalam kamar kalah dengan ramainya riuh- riuh penduduk kampung yang memadati area sekitar TKP. Dalam luasnya megapolitan seperti Jakarta ini rupanya masih ada kampung yang penduduknya beneran hidup dalam suasana kampung. Bagaimana tidak??? dengan hadirnya seorang Narji dan Andika hebohnya mengalahkan kedatangan pak RT atau RW yang sesungguhnya memiliki peranan jauh lebih penting daripada seorang artis. Trus bagaimana dengan saya sendiri??? ya saya juga ikut menikmati keramaian yang ada. Berbeda halnya dengan penduduk setempat, saya lebih tertarik dengan keadaan yang begitu ramai berjubal sehingga menampilkan begitu banyak objek yang dapat difoto.

Gambar di samping kiri adalah menampilkan kiprah seorang art director yang sibuk kesana kemari menyiapkan acara dan artis bintang tamunya. Mbak ini lah yang lebih berjasa dan banyak bekerja namun cuma di balik layar. Wajahnya yang manis dan menawan menarik saya untuk mengarahkan kamera kepadanya, ya gadis berkerudung biru saya menjulukinya.






Masih dengan orang di balik layar keceriaan acara SC*TV dengan judul it bu la ga. Terlihat seorang crew keamanan artis sedang bersungut- sungut beradu mulut dengan penduduk yang menunggu kedatangan artis. Si ibu pun tak mau kalah karena merasa dia pemilik desa yang di gunakan shoting. Tak berkurang sedikitpun keberanian si ibu meskipun sedang menyusui anaknya dengan payudara palsu :P





Berbeda dengan crew berkaos hitam ini, mereka tidak bersungut- sungut untuk mendesak para pengunjung agar mundur sedikit dari jalan para artis yang akan lewat. Mempersiapkan peralatan shoting sudah menjadi kebiasaan crew berkaos hitam ini, tanpa bantuan crew inipun saya yakin betul acara bakal kacau balau bahkan tidak berjalan di TV.






Tidak selesai begitu saja, namun setibanya para artis di lokasi membuat keramaian semakin memuncak dan membanjiri jalan sempit depan kosan. Anak- anak kecil, para gadis remaja, bapak- bapak paruh baya, ibu- ibu beserta anak bayinya, serta kakek kakekpun gak ingin kalah ketinggalan serunya menengok wajah Narji yang ikonik.

narji tertutup oleh para pengunjung

iba saya melihat anak bayinya yang sedang di susui dengan payudara palsu

mendekati kedatangan Narji jalanan semakin terbanjiri



























Tentu kejadian seperti ini sedikit mengganggu saya yang akan keluar dari kosan karena benar benar tepat terjadi di depan kosan saya. Semua foto hanya saya ambil dari atas kosan karena daripada mubadzir tidak di jepret. Waktu menunjukkan pada 16:xx yang artinya saya harus segera berangkat kekantor namun apa daya jika jalanan sedang di blokir sayapun tak bisa keluar dari kos-kosan. Sabar mennunggu beberapa saat akhirnya acara selesai juga dan saya pun dapat berangkat menuju kantor.

Narji yang berkaos biru di belakang kaos merah



























III.
Hari Tiga
Hari tiga adalah hari ini yaitu pada tanggal 2 april 2013, dimana hari ini adalah hari yang penuh kejutan. Bangun tidur mandi dan bla bla seperti pada umumnya. Melangkah keluar dan mata menuju ke sebuah warung makan untuk mengisi perut sebelum ke ambasador mall. Seusai makan dan berjalan sedikit menuju jalan raya saya dikejutkan oleh sebuah mobil sedan hitam mulus. Posisi saya di tepi jalan sudah mepet dengan GOT, namun apa yang di lakukan sopir tak tau tata krama itu??? srettt dia menyerempet saya sehingga lengan saya terkena spion mobil mulus dia. Alhamdulillah tidak terjadi luka parah tapi lumayan mengagetkan dan sedikit nyut- nyut. Semoga Tuhan memberkatinya agar lain kali sopir tak tau sopan santun itu berhati- hati dan menghormati pengguna jalan lainnya.

Lanjut ke jalan raya menunggu ada angkot 44 lewat menuju Ambasador mall. Tetumbenan hari ini angkot yang lewat hampir penuh semua sampai ketika sudah 15 menit lebih menunggu baru ada angkot yang tidak penuh. Tak lama saya tiba di depan Ambasador mall tak pakai lama saya langsung masuk ke dalam mall. Muter- muter di sekitar lantai 3 mencari Gramedia kok tidak ada, apakah sudah tutup??? ternyata salah lantai hahahaha. Sesuai saran cleaning service saya menuju dua lantai di bawahnya letak Gramedia di depan lift tengah. Masuk Gramedia yang pertama saya tuju adalah biografi mencari buku hasil tulisan sujiwo tejo namun buku yang ada sudah saya beli keduanya. Berpindah ke arah novel barangkali ada novel tentang perjalanan yang bagus, rupanya belum ada novel perjalanan selain titik nol. Tinggalin novel berganti ke fotografi, sekedar membaca training mandiri secara singkat ya satu jam sudah cukup mencuri ilmu disini. Berakhir dengan membeli buku Titik Nol dan Emha Ainun Najib.

Sebelum pulang dan masuk kerja saya sempatkan mampir keude temen saya di foodcourt Ambas lantai 4, Keude Anak Nanggro namanya. Sambil menikmati teh tarik yang mantap tiada dua saya sambil membaca sebentar buku Emha :).


Pulang bersiap untuk bekerja mencari sesuap nasi. Sesampainya di depan kosan rupanya shoting berlangsung kembali seperti hari yang lalu. Ya ramai dan ramai memenuhi jalan depan kosan saya, decak heran yang saya lakukan melihat keramaianya. Perkiraan shoting cuma sehari rupanya masih ada shoting lanjutan dalam acara yang sama yaitu it bu la ga. Kehebohan pendudukan masih belum berubah bahkan bisa dibilang makin menggila dengan kehadiran artis cewe yang cantik dan sexy. Saya sendiri tidak ikut dalam euforia dan kehebohan pesta masyarakat it bu la ga namun tetap interest  dengan gegap gempita yang terjadi di depan kosan. Sambil melihat saya arahakan kamera kecil ke beberapa sudut yang menarik dan unik. Tak lupa juga mengarahkan ketika sorak sorai meneriakin artis yang keluar dari rumah menuju area shoting sebagai bukti saya tidak membual besar.

Jalanan sesak penuh penduduk menyerbu


Anak- anak sekolah bukannya pulang dulu malah langsung nungguin Narji
Bidik- bidik sraphhh...
Anak- anak dan orang dewasa siap dengan handphone kameranya

Narji, artis cewe dan Andika di tengah kerumunan warga



Ini dia yang membuat depan kosan saya ramai riuh



























Dibalik keberhasilan itu semua pasti ada orang orang di balik layar yang jasanya tak terlihat oleh pemirsa TV, Justru orang orang ini yang membuat saya salut. Dengan kejadian ini saya jadi inget tentang si "bertepuk tangan di tepi jalan", ya orang yang membuat orang lain lebih terkenang atau terkenal dengan menghilangkan dirinya. Atau dalam versi naik gunung adalah Porter yang mempersilahkan pendaki atau penaklukh gunung sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak gunung.




























Mungkin semua crew dan artis tidak sadar jika di sebelah mereka adalah rumah keabadian. Dengan hamparan tanah berumput subur yang menjadi tempat peristirahatan terakhir jasad tak bernyawa tak jauh dari lokasi shoting. Hanya berbatas pagar setebal 10cm kuburan kassablanka ini tak membuat takut para crew dan artisnya