Tampilkan posting dengan label jelajah. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label jelajah. Tampilkan semua posting

Senin, 14 Oktober 2013

[ BANTEN ] Ujung Kulon

Dua tahun lebih keinginan saya terpendam untuk dapat mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon ini. Dengar dari berbagai cerita, membaca dari berbagai media cetak, dan melihat foto dari berbagai media maya membuat saya benar- benar ingin mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon. Letaknya yang di poncot ujung barat pulau Jawa dan masih sangat jarang di kunjungi orang membuat perjalanan menuju kesana tidaklah mudah.

Kali ini saya tidak sendiri atau cuma bepergian dengan grup kecil namun saya ngikut Cak Hafiz & Cak Andi serta satu temen baru lagi yaitu bang Diky. Berangkat dari Plasa Semanggi sebagai meeting poin awal kami hari jumat pukul 21:00. Selesai absen peserta satu demi satu akhirnya lengkap juga dan kami siap berangkat menuju Ujung Kulon. pukul 22:00 dan sempat berhenti di rest area Tol Serang untuk sekedar melengkapi logistik. Selesai istirahat sejenak dan sekedar membeli minuman dingin kami segera melanjutkan perjalanan. Saya terbiasa memanfaatkan waktu perjalanan malam hari untuk tidur karena tidak ada juga yang dapat di nikmati sepanjang perjalanan. Selang beberapa jam perjalanan sekiranya sudah menunjukka pukul 03:xx WIB bus yang kami tumpangi sering melakukan rem mendadak dan banting setir kanan kiri, rupanya jalanan yang kami lalui mulai jelek dan naik turun. Mulai pukul 03:xx itulah saya tidak dapat menikmati tertidur pulas lagi. Tak beberapa lama pukul 04:00 WIB kami sudah tiba di desa Sumur, desa terakhir yang dapat di lalui kendaraan darat untuk menuju Ujung Kulon.



Jumat, 04 Oktober 2013

[ MALANG ] Jelajah Liar Mahameru & Bromo [ INI INDONESIA ]

Setelah beberapa kali terdapat hambatan- hambatan yang akan menggagalkan acara pendakian menuju Mahameru dan Bromo. Tibalah saatnya periksa kesehatan ke klinik untuk mendapatkan surat keterangan sehat. Semenjak 3 hari sebelum datang ke klinik saya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan Jantung. Ada saatnya denyut jantung sangat lemah memompa darah mengalir ke seluruh tubuh. Sepertinya karena kecapean setelah di gempur shift yang membabi buta dua minggu belakangan. Nut... nut... nut Tensimeter menekan lengan kiri saya. Pengukuran pertama saya masih rileks namun terjadi keanehan karena Tensimeter tidak menunjukkan angka yang signifikan bahkan terus turun serasa tak ada denyut di nadi kiri saya. hingga empat kali percobaan yang akhirnya saya benar- benar cemas jikalau memang saya sedang tidak fit. Namun apa yang terjadi dokter berbicara lain bahwa tekanan darah saya normal, saya pun pasrah apakah dokter berbicara jujur atau karena memang ingin memberikan izin naik gunung kepada kami. 

St. Pasar Senen



Rabu, 03 Juli 2013

[ LAMPUNG ] Pendakian Anak Gunung Krakatau " LAGI "

Pada 9-11 September 2011 usai hari raya Idul Fitri adalah pertama kalinya saya mengikuti trip secara partai besar, karena sebelumnya saya selalu jalan-jalan dengan teman kuliah kira-kira 4-8 orang sekali jalan. Berangka dari bandung dan meeting poin di kampung rambutan. Diantara puluhan orang yang tidak saya kenal saya cuma bisa berdiam diri menunggu kapan trip di berangkatkan. Hingga akhirnya saya di panggil oleh dua orang yang juga datang sendiri untuk trip krakatau 9-11 September ini. Sesungguhnya saya kurang suka dengan trip skala besar karena selain akan ramai dan susah mendapat gambar saya juga merasa asing diantara orang-orang yang tidak saya kenal. Alhasil saya pun berasa jalan-jalan sendiri atau bersama 3/4 orang. Saat itu Ocin dan Agung lah orang yang saya kenal. Justru seusai trip dan pulang masing-masing saya dapat mengenal lebih banyak teman atau peserta trip kala itu. Enaknya trip skala besar adalah dapat menambah teman dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Bertemu dengan berbagai macam orang asing yang kadang menurut saya mereka unik dengan caranya masing- masing.
Dibawah ini adalah foto krakatau pada 11 September 2011

kata om rio ini adalah pegunungan alpen
























Sepulang dari Krakatau trip ini saya tidak tau harus kemana karena sampai di kampung rambutan sudah larut malam, namun karena kebaikan seroang Hafiz Darmawan saya di berikan tumpangan menginap sementara sampai keesokan harinya ketika terang. Tidak sampe tumpangan menginap saja namun paginya saya diantarkan dari Ciledug hingga kosan waktu itu masih di Bintaro.
#Terima kasih banyak untuk Cak Hafiz Darmawan.

Sepertinya cukup prakata dalam tulisan ini, selanjutnya maka akan saya tuliskan tentang pendakian Anak Gunung Krakatau yang kedua dan ketiga.
Pendakian kedua adalah ketika saya mendapat ajakan dari Cak Andi dan Cak Hafiz yang dulunya adalah tourleader saya. Membantu mengkoordinir dan dokumentasi menjadi tugas saya dalam pendakian kedua ini. Kali ini saya jalan- jalan bukan untuk sekedar menikmati namun saya juga bertanggung jawab bagaimana agar peserta minimal tidak kecewa dalam trip yang kami adakan.
Krakatau trip 1-2 Juni 2013 dengan jumlah peserta hampir 50 orang, dan saya tidak mampu mengenal kesemuanya. Seperti trip yang pernah saya ikuti yaitu spot pertama adalah fotofun di pulau sebuku kecil, ketika kami tiba cuacanya sedang kurang bersahabat karena agak sedikit mendung. Selesai foto-foto spot berikutnya adalah snorkling di Sebuku Besar, hemmm spot yang kurang menarik kala itu karena hampir semua karang di tutupi oleh lumut atau rumput saya kurang paham betul. Sebelum mendarat di pulau Sebesi kami mampir di Pulau umang-umang untuk berfoto ria kembali. Cuaca masih belum berubah langit keabu-abuan membuat foto kurang ceria dan cenderung sendu seperti menjelang hujan.
Sebuah Pulau besar dengan berdiri tegak menjulang gunung danau pak nahkoda menyebutnya menjadi penanda bahwa itu adalah Pulau Sebesi. Rumah- rumah berdiri di beberapa tepian pantai yang sengaja di sediakan sebagai homestay. Beberapa rumah hancur berantakan seperti sudah puluhan tahun ditinggalkan tergelatak di beberapa sudut jalan setapak. Berderet perkampungan warga pulau Sebesi di kaki gunung Danau seakan berlindung dari panas dan hujan di bawah Gunung. Beberapa rumah penduduk kami pergunakan sebagai homestay dan beberapa lagi homestay tepian pantai kami tinggali untuk tidur sementara. Berbeda dengan trip pertama kali saya yaitu sunset bukan lagi di pulau umang-umang namun mencoba spot yang baru yaitu Ujung seng, ujung barat pulau Sebesi. Sepertinya bagi beberapa orang spot ini kurang menarik karena matahari tidak dapat dinikmati ketika betul- betul tenggelam. Hmmm saya sendiri suka karena saat itu langit penghujung waktu senja justru sedang bergejolak merah merona membakar kabut- kabut.
ujung seng

Malam hariya kami habiskan waktu dengan barbeque dan belajar foto galaksi bintang. Seusai babeque dengan Cak Hafiz dan Uda Kurniawan kami membidikkan kamera ke langit guna mencari letak milky way, karena malam itu milkyway kurang begitu jelas terlihat oleh mata.

milkyway on Sebesi island

 Tanggal 2 Juni 2013 mata masih dalam keadaan susah di buka karena kantuk yang belum tertahan. Pukul 02.30 kami semua di bangunkan karena perjalanan harus segera di lanjutkan. Namun apa daya ketika salah satu kapal kami mengalami keruskan pada starternya maka kami harus rela menunggu hingga pukul 05:00.
Tiba di Anak Gunung Krakatau matahari sudah gagah menyambut kedatangan kami. Teriknya yang mulai meninggi mulai menghangatkan tubuh kami. Satu jam di puncak sepertinya kurang lama karena masih banyak peserta yang ingin bernarsis ria dari segala sudut dan penjuru Puncak Krakatau.

Krakatau 2 Juni 2013
























krakatau 1-2 Juni 2013

Ketiga kalinya saya belum bosan diajak oleh Cak Hafiz Darmawan mengunjungi Dangerous Place  ini. Tanggal 30 Juni - 2 Juli 2013 belum lama jika di tengok ke pendakian yang kedua. Dengan suasana yang berbeda dan peserta yang berbeda pula. Beberapa peserta saya sudah mengenalnya diantaranya teh Nenden, mbak Azizah, Cak ilham, dan Tengku Hary. Teh Nenden dan mbak Azizah adalah peserta waktu ke Kiluan, kemudian cak Ilham adalah peserta yang pernah ikut trip ke Pahawang. Ternyata Tengku Hary ini belum bosan juga datang ke Krakatau sampe akhirnya dia ikut lagi.

Oke perjalanan berawal dari kampung rambutan seperti biasanya, saya beserta 9 peserta yang lain menuju Merak untuk bertemu dengan Cak Hafiz Darmawan juga peserta trip yang lainnya. Sekitar 2.5 jam perjalanan menuju Merak saya habiskan untuk tidur dan apa yang terjadi??? Bangun-bangun saya kaget dan buru-buru turun alhasil topi kesayangan ketinggalan di bis dan yasudalah. Tiba di Merak tak lama menunggu membeli tiket kapal kami pun segera naik ke kapal fery untuk menyebrang ke Bakauheni. Sudah menjadi hal yang biasa atau bahkan harus jika ke Dermaga Canti dari Bakauheni itu menggunakan Angkot Kuning. Setibanya di Canti tanah basah dan becek habis hujan lebat sedari pagi. Peserta juga saya serta Cak Hafiz sarapan pagi sembari menunggu kapal yang akan menyebrangkan kami siap mengantar.

dermaga Canti setelah hujan

Tujuan pertama adalah Pulau Sebuku kecil, Karena air pasang dan ombak lumayan besar maka segera berpindah ke spot selanjutnya yaitu Spot snorkling di Sebuku besar. Seperti yang sudah sudah snorkling di sini tidak bagus dan ikannya tidak banyak. Namun apa yang terjadi ketika saya hendak naek ke kapal sambil mata mengarah ke bawah tampak terlihat anemon dengan ikan berwarna kuning putih hitam. Oh cantiknya apakah itu ikan jenis Nemo juga??? langsung saya samperin dan arahkan kamera jepret jepret dapatlah si cantik kemudian barulah naik ke kapal.

Mr Hafiz dengan peserta

exsahabatjalan with media traveller


Nemo jenis baru di P. Sebuku Besar

Lanjut saja ya biar tidak kelamaan berceritanya, sesungguhnya saya juga sudah capek menulis apalagi nanti kalian pembaca juga malas kalau terlalu banyak ocehannya :D. Istirahat sebentar di Pulau Sebesi seperti cerita di pendakian kedua hehehe. Kembali kepada konsep awal dahulu kala yaitu spot sunset adalah ke Pulau Umang-umang bukan lagi ke Ujung seng. Ternyata memang cuaca belum bersahabat dengan #exsahabatjalan. Langit mendung ombak besar serta angin sepoi-sepoi agak mengencang sedikit. Batuan hitam kayu rapuh tepian pantai dan hijau pucat dedaunan karena tidak mendapat cahaya matahari sedari pagi. Tak banyak yang dapat saya lakukan di spot Sunset Pulau Umang-umang ini.

mendung datang melanda

Tengku Hary melompat

Mas memet jump in to the sea

Berlanjut di malam hari yang awalnya cerah bermandikan bintang-bintang namun segera tertutup mendung kami habiskan dengan barbeque seperti tradisi yang sudah berjalan.
Bedanya trip Krakatau yang ketga ini adalah di selingi oleh penerbangan lampion maka di sebutlah Krakatau Lampion Trip. Peserta sepertinya antusias menunggu penerbangan lampion ini yang tadinya terlihat malas2an menunggu ikan bakarnya matang setelah berdiri dan menyalakan api genggaman mereka masing- masing mulai terdengar riuh canda mereka.

mereka bosan menunggu ikan bakar

Api dalam genggaman mereka

Selesai penerbangan Lampion kami semua harus istirahat karena kesokan harinya papa 03:00 dini hari harus sudah siap menghadapi perjalanan sesungguhnya. Mata yang terpejam perlahan terbuka menyambut dingin angin malam serta pantulan cahaya bulan. Berseret kaki tak cuma sepasang namun berpuluh pasang menuju kapal. Saya sendiripun masih berharap dapat tidur lagi di kapal karena mata masih sangat lengket dan tak bersahabat ketika diajak membuka. Hampir dua jam mengarungi laut menuju Gunung Anak Krakatau akhirnya tiba juga.

























video perjalanan



Beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil :

1. Saya pada dasarnya penyuka jalan-jalan sendiri atau dalam grup kecil (*4-5 orang)
2. Saya suka mempunyai banyak teman, namun bukan berarti saya dapat menikmati suasana dalam keramaian karena saya akan pusing sendiri.
3. Ketika menemani sejumlah orang untuk jalan-jalan atau dalam artian sebagai tourleader tertanam rasa ingin membuat para peserta merasakan kesenangan dan kepuasan. Akan sangat senang sekali ketika orang yang bersama saya dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan. Dapat dikatakan saya berhasil ketika mereka senang.
4. Ada kalanya saya tetap ingin jalan-jalan sendiri/ grup kecil ada kalanya saya juga dengan senang hati mengantar banyak orang untuk menikmati keindahan INDONESIA tanpa merusaknya sedikitpun :D

** Jangan Kapok Berjalan-jalan Bersama Saya **

[ JOGJAKARTA ] Bukit- bukit Suroloyo

Dalam suatu perjalanan menuju puncak tertinggi di pulau Jawa saya masih penasaran dengan yang namanya bukit Suroloyo. Bukit dengan di selimuti kabut mistis nan magis seolah melindungi kemegahan sang candi Borobudur. Bukit yang tidak terlalu tinggi namun berhawa dingin saat gelap ini menyimpan banyak kesakralan dan keindahan. Bermodal nekat dan memaksa sang tuan rumah saudara Ghani untuk mengunjungi tempat ini. Terletak di sebelah barat kota godean tepatnya sudah memasuki kawasan Kulonprogo, kira- kira dengan motor agak fast and furious mengendarainya kami mampu melahapnya dalam 1jam. Dengan jalur semi pegunungan meliuk- liuk kekanan kadang kekiri dan naik turun layaknya tarian gemulai seorang gadis gemuk membuat kami harus ekstra hati-hati dalam bermanuver. Sekiranya hari mulai meredup kami baru lah sampai di penghujung jalur liak-liuk. Tak ada sesuatu yang spesial ketika kami tiba, rasa sedikit kecewa sudah tumbuh sebelum kami memanjat ratusan anak tangga itu. Tapi apakah akan sia-sia ketika kami sudah sampai namun malah langsung putar arah dan pulang???tidak. Kami tetap menaiki bukit sesuai rencana awal dan hanya sekedar have fun tanpa berekspektasi berlebih. Konon katanya melihat di foto dan cerita orang dari atas inilah kami mampu melihat kemegahan candi Borobudur dari atas. Candi yang megah dengan di pagari oleh kabut dan pepohonan raksasa seolah aura gaib yang kuat telah bersemayam di dalamnya.

kemegahan kabut Suroloyo




Jika terlihat maka konon kata seorang teman Candi Borobudur ada di pojok bawah kanan dalam foto di atas. Namun apa daya mata kami saja tak mampu menembus awan bercampur kabuttebal itu, apalagi mata kamera yang ciptaan manusia. Hari semakin gelap dan tak ada lagi yang dapat di nikmati maka kami segera turun dan pulang ke rumah Ghani untuk segera bersiap menuju stasiun Lempuyangan karena jadwal kereta ke Malang pukul 22:00 WIB. Kembali kami di hadapkan pada jalan sexy berliukliak bak penari memamerkan gemuk gemulai tubuhnya namun tak terlihat lagi tubuh sexynya karena jalanan itu gelap. Bermodal GPS dan lampu sedikit meremang kami susuri jalur yang berbeda. Tak lama bermanuver liak-liuk kami sudah tiba di jalan raya Godean- Kulonprogo. Sekiranya setengah jam di jalan raya kami sudah mendekati rumah Ghani. Begitulah ekspedisi singkat mengarungi lautan kabut kelam menuju pucuk Suroloyo.

berikut beberapa foto yang lain yang dapat saya tangkap selagi sempat.

my brother capture the sunset

tree front of sunset

















































film of Suroloyo


Selasa, 25 Juni 2013

[ MALANG ] Misteri Kabut Semeru

Jogja 14 juni 2013 pukul 10.00 pagi tiba di terminal Jombor, suasana tak begitu ramai namun juga tak sunyi sepi hanya kendaraan beberapa yang berlalu lalang lewat di depan pandanganku. Sebuah bus mikro berwarna hijau bertuliskan trans Jogja mengantarkan dari terminal Jombor menuju Malioboro. Saya dan adek saya menemui kakak sepupu yusuf namanya serta ghani teman lama di kampus, janjian bertemu di depan DPRD Prov. Terpikir untuk memesan tiket kereta perjalanan ke Malang di stasiun Lempuyangan. Berakhir dengan mendapat 4 tiket kereta malioboro expres menuju malang. Pulang menuju rumah saudara Ghani untuk melengkapi logistik dan packing. Belum selesai packing sudah di goda oleh bisik- bisik tentang bukit diatas candi Borobudur. Pukul 15.xx kami sudah melesat menuju bukit- bukit diatas awan candi Borobudur. Selama 1jam perjalanan kami di hidangkan oleh hamparan luas persawahan hijau segar dan beberapa hutan rindang memayungi jalanan. Semakin dekat dengan tujuan jalanan juga semakin menantang, jalan sempit berliuk naik turun mampu memporakporandakan tulang belulang.


selesai menikmati kabut-kabut dan awan lebat penuh misteri di atas tanah Borobudur kami segera balik ke rumah ghani untuk packing dan berangkat menuju stasiun Lempuyangan. Dengan kereta malioboro expres selama 7 jam kami tiba di stasiun malang baru. Rampung shalat subuh tiba- tiba datang sopir angkot menawarkan jasa mengantarkan langsung ke pasar Tumpang. Setelah nego tanpa alot dan ribet sopir pun mengiyakan tawaran kami dan segera tanpa babibu kami sudah sampai di pasar Tumpang. Menunggu sebentar sambil sarapan mengisi perut yang sudah merindukan nasi kami berombongan di berangkatkan dengan truck terbuka menuju Ranupane. 


Beres dengan perijinan dan tetk bengeknya, dan ternyata memang solotreking tidak di perbolehkan. The real of pendakian kami mulai pada 11.30 WIB dari Ranupane dengan jalan beraspal sekita 500m. Seusai melintasi perkebunan kentang dan kubis kami di hadapkan oleh jalur berpaving muat untuk satu orang hingga pos 1. Perjalanan dari basecamp Ranupane menuju pos 1 masih biasa saja dan di tempuh dengan lama 1,5jam. Selesai istirahat makan siang dan ibadah perjalanan pun harus di lanjutkan agar tidak terlalu malam sampai di Ranukumbolo. Tak lama pun kami sudah tiba di pos 2 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Kabut- kabut penuh misteri datang menghampiri kami ketika mulai meninggalkan pos 2 hingga Ranukumbolo. Jalanan setapak hampir tenggelam oleh rerumputan pun makin lenyap oleh kehadiran kabut-kabut tipis terjalin rapi. Sempat menyingkir sebentar itu kabut- kabut penuh misteri dari atas air Ranukumbolo namun tak beberapa saat saya mengeluarkan kamera merak turun dengan jumlah kawan yang lebih. Nafsu memotret langsung menurun dan segera meninggalkan saja itu genangan air abadi di Ranukumbolo.



To Be Continue...

mari melanjutkan cerita yang sudah menanti :D

memasuki zona waktu senja dan petang saya mencoba mengayuhkan kaki cepat- cepat agar tidak terlalu malam tiba di kalimati. Menaiki tanjakan cinta yang konon ceritanya siapa yang mampu menanjak tanpa melihat kebelakang maka gadis yang di pikirkannya akan menjadi jodohnya. Berpapasan dengan seorang gadis berkerudung ungu muda bahkan lebih cantik dari "Arinda" membuat saya tidak konsen dalam menanjak dan akhirnya lupa ternyata saya sudah menengok ke belakang.  Berakhir dengan tanjakan cinta saya berhadapan dengan turunan menjelang oro-oro ombo yang lumayan curam dan membuat dengkul bekerja ekstra. Kabut tebal semakin menggelapkan jalan setapak menuju cemoro kandang pos setelah oro-oro ombo. Berselimutkan kabut- kabut rumput raksasa berwarna ungu itupun semakin terlihat mistis dan menyeramkan. Berbeda ketika tanah seluas kira-kira 2 hektar ini pada terang hari yang indah berwarna ungu cerah begitu membuat mata terpenganga. Selesai meninggalkan lautan rumput raksasa berwarna ungu kami di sambut oleh pohon- pohon cemara raksasa di kandangkan dalam kerangkeng alam raksasa. Pukul 18:00 WIB kami memasuki kawasan pohon cemara raksasa ini, istirahat beberapa menit kemudian kami melanjutkan ke pos berikutnya yaitu Jambangan.


Beratapkan daun- daun pohon cemara sesekali bocor tersinari oleh rembulan yang membuat malam semakin terasa dingin. Tak cuma rembulan yang menemani suara desah angin berkabut tipis serta nyanyian bintang membuat semakin mantap. Naek- naek menyusuri jalanan setapak dengan sorotan dalam genggaman dan sesekali jalanan turun terjal dan curam membuat harus ekstra hati-hati. Tak perlau terlalu lama beristirahat karena sudah malam maka akan semakin dingin ketika terlalu lama berdiam diri. Lanjutkan saja langkah yang tersisa dan akhirnya tak lama pada pukul 19.xxWIB kami sudah menginjakkan kaki di pos Jambangan.

Jambangan dalam benak saya adalah kubangan air yang luas atau saya kira jamban besar ternyata adalah sebuah halaman luas di tengah hutan gunung. Dengan jalan yang landai dan lega membuat perjalanan dari jambangan menuju kalimatai lebih cepat. Namun sebelum gerbang masuk hamparan luas Kalimati kami di hadapkan oleh jalanan menurun beberapa kali dan curam. satu turunan kemudian pengkolan dan sedikit naik kemudian kembali turun dan membelok lagi dan turun dua kali dan kami sampailah di pos Kalimati.

pukul 20:00 kami sudah berisik mendirikan tenda sedangkan samping kanan kiri dan depan belakang sudah pada tidur bersiap untuk pendakian puncak pada dini harinya. Selesai kami mendirikan tenda di susul memasak air panas untuk membuat sereal sebagai pengisi perut sementara. Capek perut lapar dan ngantuk sudah beradu akhirnya tidur tak terhindarkan. 22:00 hingga pukul 01:00 dini hari sepertinya belum cukup untuk menggantikan longtravel dari ranupane selama 8 jam dan mempersiapkan tenaga untuk pendakian menuju puncak 3676mdpl. Namun apa boleh di kata jika waktu sudah berdetak maka kami tak dapat menghentikannya dan kaki pun mulai bergoyang maju untuk menuju 3676mdpl. Bersama 4 orang dari tenda sebelah kami menyusuri jalanan setapak bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya yang melintas. Tak terasa di bawah pohon yang tinggi dan rindang selama 2 jam kami sudah sampai di Arcopodo *namun tidak ada arca di sini. Bertemu dua tenda lumayan besar dan kiranya muat untuk 10 orang di Arcopodo. Tenda yang sengaja di dirikan di sini adalah untuk mengantisipasi pendaki yang tak mampu melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tak lama mendengar mas penunggu tenda dengan badan tinggi kekar dan tegap ini mengungkapkan bahwa di dalam ada 3 wanita yang tak kuasa melanjutkan melahap ganasnya medan menuju 3676mdpl. Setelah cukup beristirahat dan mendengar cerita kami bertiga pun siap untuk melahap ganasnya gundukan pasir raksasa, angin bertiup dingin, dan pekatnya gelap malam. Tak jauh dari Arcopo kira- setengah jam perjalanan kami bertemu dua orang yang sudah lemas tak mampu melanjutkan ke puncak, mereka bilang sudah tidak tahan dengan dinginnya dan kaki semakin lemas. Setengah jam dari tempat kami bertemu dua orang lemas itulah di sebut cemoro tunggal atau batas vegetasi terakhir. Istirahat sejenak mengumpulkan tenaga karena melihat keatas kami tau bahwa jalur sangat curam. Sekiranya cukup memulihkan tenaga maka semangat membara sudah mampu membakar dingin angin mahameru.

Start dengan modal semangat membara pada 06:00 dari batas terakhir vegetasi. Perlahan ayunan kaki 10-20 meter masih belum terasa bahkan dengkul kiri yang sudah cidera pun belum "mbengok" minta berhenti. Seperempat jalur perjalanan menukik tajam keatas sudah kami tempuh namun puncak belum juga terlihat jelas. Masih dengan semangat yang mulai meredup karena bertemu banyak orang yang menyerah memilih kembali turun karena alasan dingin lemas dan tanjakan tak habis-habis katanya. Dalam hati cuma terus berkata "AKU MAMPU" sambil mengayunkan kaki dan tripod yang kira-kira beratnya 2 kg. Kalau di ingat ya rata-rata kecepatan perjalanan adalah 10kali melangkah 5 menit berhenti *kapan sampainya yah???. Baru 1/3 perjalanan menuju puncak hati semakin redup antara turun atau naik hahahaha, namun semangat dalam jiwa tetap membakar agar tetap naik meskipun lama. Dua jam lebih sudah waktu yang kami habiskan namun ternyata kami belum juga dapat setengah perjalanan. Tanjakan pasir yang terjal dan curam memang membuat berat pendakian. Bekas pijakan orang dan beberapa jalur yang pasirnya padat sangat membantu karena pijakan tidak longsor jadinya istilah naik 1 turun 1/2 tidak berlaku. Sunrise yang sudah meninggi dan berubah menjadi terik tak saya hiraukan karena sudah mustahil buat saya menikmati sunrise di atas puncak Mahameru. Setidaknya saya cukup menikmati sedikit semburat merah di tengah jalur antara cemoro tunggal dan puncak. Sejam lagi waktu yang kami lahap ternyata puncak sudah semakin jelas terlihat, kira- kira 100 langkah lagi saya sampai. Semakin dekat dengan puncak jalur agak- agak melandai sedikit jadi lumayan untuk menaikkan speed. Pukul 10:00 akhirnya kaki mendarat di puncak Mahameru 3676mdpl dengan keluhan dengkul kiri positip cidera dan jari jari kaki bengkak.

reality vs expectation

im in the java highest land

i love Boyolali

Sorry i have no good view in the peak, so my selfportrait im put on this.

 Oke lanjut setelah tidak lama di puncak karena semakin siang racun yang keluar dari letusan asap belerang semakin kuat maka pendaki dilarang berlama-lama di puncak. Sekiranya cukup 20 menitan kami bertiga segera turun saja mencari selamat daripada anu terjadi hal hal yang tidak anu.

Perjalanan turun dari puncak menuju batas vegetasi jauh lebih cepat daripada waktu naiknya, kira tidak ada satu jam ya kurang lebih 45-50 menit kami sudah ready to go lagi di Cemoro tunggal. Dari Cemoro tunggal harapan pertama yang ingin segera sampai adalah Arcopodo, dengan dengkul yang sudah cidera waktu tempuh menuju Arcopodo hampir sejam sama dengan waktu naik padahal jalur menurun namun karena dengkul sudah tak ada daya apa boleh di paksa.
 Turun dari  Arcopodo dengan dengkul yang semakin melemah dengan medan menurun tanpa bonus jalur landai hingga gerbang pohon dapat di tempuh selama hampir 2 jam. Beruntunglah saya dan Mas Yusuf yang datang setelah Ghani tiba di kalimati dan menyiapkan apel segar di susul oleh mie rebus panas nikmat. Pukul 14:00, Kalimati tempat kami ngecamp selama 3 jam sebelum summit attack menjadi saksi bisu segala kejadian yang menjadi kenangan nantinya. Cukup 1 jam istirahat kemudian packing total dan bersiap meninggalkan Kalimati menuju Ranukumbolo untuk menginap malam kedua.

Start dari Kalimati sudah menjelang petang kiranya pukul 16:30 kami meninggalkannya. Sedikit terseyok langkah kaki saya tapi perjalanan tetap harus berlanjut. Pos pertama yang sangat kami harapkan segera terlihat adalah Jambangan. Well done tak ada satu jam kami sudah merehatkan badan sejenak di pos Jambangan.Tak berhenti lama kami di pos Jambangan karena matahari sudah meninggalkan maka tak ada waktu untuk terlalu bersantai. Berharap segera bertemu dengan si kandang cemara raksasa lagi. Jika di kira-kira adalah hampir sejam kami menapaki jalanan kecil penuh kegelapan, senterpun sudah mulai meredup. Menghela nafas panjang di atas tubuh cemara yang telah tumbang dan telentang. Semakin gelap malam semakin sedikit pula pasokan oksigen maka dari itu kami memilih lebih santai sambil menikmati setetes air segar. Limabelas menit tak terasa sudah kami habiskan selain udara dingin semakin merasuk ke dalam kulit dan tulang rasa capek kami juga ingin segera di istirahatkan. Menyibak padang rumput ungu perdu yang telah terbelah bagaikan tergilah oleh roda-roda. Jalanan mendatar dan panjangpun tak terasa cuma 30 menit kami lahap, namun di depan sudah menanti tanjakan terjal serta turunan tanjakan cinta. Oh my God dengkul yang sudah cidera harus di hajar lagi... meskipun carier segede kulkas sudah di bantu di bawakan adek saya namun dengkul ini rupanya sudah tak mampu menopang tubuhku sendiri. Perlahan terseret-seret akhirnya yang harusnya dengan lari cuma 15 menit dapat tiba di Ranukumbolo menjadi 30menit lebih karena harus meraba jalanan yang curam, sekenanya salah menapak dan terpeleset bisa fatal buat dengkul.

Ranukumbolo pada malam kedua di sinilah kami mendirikan tenda kemudian segera istirahat. Harapan dengkul sembuh di pagi harinya ternyata belum terkabul, namun perjalanan tetap harus di selesaikan. Masak seadanya dan makan kemudian bersih-bersih badan serta diakhiri fotofun bersama.


 Setengah Sebelas Siang mungkin lebih beberapa detik kami meninggalkan tempat yang akan menjadi saksi sekaligus sejarah besar. Ranu Kumbolo pada ketinggian 2300mdpl dengan hamparan danau air tawarnya yang begitu segar terus akan tersimpan dalam ingatan. Tak lama kami berjalan sudah sampailah di pos 4 dan disambut oleh gerimis serta kabut tebal menuruni bukit. Sejenak kami berhenti sambil melepaskan canda tawa di tengah dingin dan gelap kabut putih kehitaman. Terdengar bunyi crek crek shutter dari kamera mengiringi gelak canda tawa kami. Entah sepertinya sudah 15 menit kami berhenti dan dingin makin terasa memang sebaiknya kami segera melanjutkan perjalanan. Pukul 11.00 sekiranya lebih beberapa menit kami sudah meninggalkan pos 4 dan menuju pos 3. Jalanan becek bekas hujan sedari pagi membuat langkah agak melambat karena harus hati- hati agar tidak terpeleset. Masih banyak pula kami temui di sepanjang perjalanan menurun para pendaki. Saling sapa dan aruh sepertinya tidak perlu mengenal terlebih dahulu karena di gunung kita semua saudara. Jalanan mulai menurun agak curam dan perlu ekstra hati - hati, rupanya kami sudah sangat dekat dengan pos 3. Di pos 3 kami disambut oleh pendaki yang akan naik dan salah satu porternya. Porter ini tugasnya adalah membawakan beberapa barang yang tidak terbawa oleh pendaki sehingga meringankan beban pendaki. Biasanya porter ini mendapat imbalan jasa 150.000 perhari. Dalam satu bulan rata- rata porter mampu membawakan barang pendaki sebanyak 4-5 kali pendakian.

Sambil ngobrol dengan porter dan 3 pendaki dengan kamera D90nya itu kami sembari menghabiskan sisa apel yang mampu mengganjal perut lapar. Sudah tidak ada sisa makanan bagi kami selain apel dan mangga muda. Air yang akan menggantikan makanan ketika apel dan mangga pun habis. Lanjut langkah kaki mengayun hingga pos 2 pada pukul setengah dua kami baru sampai dan seperti di pos 4 dan 3 yaitu beristirahat sejenak. Karena lapar dan sisa makanan kami adalah mangga muda maka apa boleh buat kecut manis kecut pun kami sikat. 15- 20 menit waktu yang cukup lama untuk kami berleha-leha sedangkan senja sudah menanti kami di ujung gerbang pintu semeru. Tanpa mengingat capek kami terus menggenjot tenaga kami hingga tiba di pos satu dan di sambut oleh rombongan pendaki yang akan naik juga. Masih sekitar pukul 3 sore lebih beberapa menit akhirnya kami menginjakkan kaki di pos 1 dan kabar baiknya pos satu maka sudah dekat dengan basecamp ranupani. Ternyata lumayan lama kami di pos satu hingga hampir satu jam kami istirahat. Pukul 15.40 lebih beberapa detik kami baru mulai melanjutkan perjalanan menuju ranupani. Tak seperti perkiraan yang kami bayangkan bahwa perjalanan akan lama ternyata pukul 16.30 sekian detik kami sudah di gerbang pintu penyambutan semeru. Dan kami telah selesai menyelesaikan misi kami menaklukhkan puncak Mahameru.

Namun sedikit cerita seru kami masih belum selesai, dimulai ketika sampai ranupani sudah menjelang magrib kami sudah belingsatan bingung mau naik apa kalau truck ke Tumpang sudah tidak ada. Beres repacking dan sekedar membasahi kerongkongan kami berempat berjalan menuju lapangan dimana yang di gunakan sebagai tempat parkir truck dan jeep. Alhamdulillah masih ada beberapa truck yang akan mengangkut pendaki turun gunung. Kami masuk ke antrian truck ke dua, jadi ya sabar menunggu beberapa puluh menit menunggu jeep yang sudah parkir di depan berjalan. Perjalanan senja menuju Tumpang akhirnya di mulai dengan hiasan langit memerah seolah matahari membakar awan awan putih. tak sampai 2 jam kami sudah tiba di Tumpang di sambut keramaian pasar Tumpang dengan segala hiruk pikuk dan hiburannya. Karena perut sudah sangat lapar kami makan nasi pecel ayam goreng terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali ke jogja. Selesai makan kami segera mencari angkot untuk menuju terminal arjosari, namun apa boleh kata kalau rupanya penumpang menuju Arjosari sudah tidak ada dan para pendaki pun sudah bersih dari jalanan pasar Tumpang. Menunggu hingga pukul 23:00 kami masih di tempat ngetem angkot berharap ada pendaki yang tersisa agar bisa diajak share cost menuju terminal Arjosari. Akhirnya saya menyerah dan bertanya kalau kami berempat saja yang berangkat ke terminal Arjosari berapa biayanya? "150 ribu dek jawab supirnya". Turun gunung duit menipis tidak cukup kalau memaksa dengan harga segitu sampai ke Arjosari, akhirnya saya menelpon Pak Supri ( 0812 4908 1890 ) supir angkot trayek St. Malang - Termn. Arjosari untuk di jemput dan diantarkan ke Terminal Arjosari. Karena kasian akhirnya pak Supri memberikan harga 60 untuk kami berempat sampai di terminal arjosari. Setibanya di terminal Arjosari kami langsung disarankan naik Engkel menuju bungur asih karena bus Arjosari - Bungur asih sudah berangkat terakhir jam 23:00. Setelah terombang ambing di Tumpang berjam- jam dan mendapat hiburan dangdut koplo super kenceng di Engkel Arjosari- Bungur asih di Terminal Bungur asih kami di hadapkan oleh calo- calo serta preman terminal. Karena saya beberapa kali sudah pernah ke Terminal ini saya tau apa yang harus saya lakukan, cukup mereka bertiga saya suruh diam dan saya yang menjawab para Calo dan Preman. Berharap mendapat tumpangan bus Mira malam itu, namun apa boleh di buat jika ternyata 3 urutan parkir terdepan yang terlihat adalah bus Sumber Group *Nama baru bus Sumber Kencono.

foto diambil dari mbah GOOGLE * http://1.bp.blogspot.com

Yasudah lah jika kami harus naik Sumber Kencono, Bismillah banyak berdoa agar dalam perjalanan Surabaya- Jogja ini kami selamat sampai tujuan. Partner saya bertiga Ghani, Ahsin, Yusuf masih tidak percaya bahwa kami naik Bus Sumber Kencono. Saya sendiri juga masih merinding jika mengingat reputasi Bus ini sering terjadi laka- lantas. Dengan predikat bus yang merajai jalanan Surabaya- Jogja ini membuat pengendara lainnya harus berhati- hati dan mengalah jika masih ingin selamat. Bus berjalan sejam pertama masih belum terasa adrenalin dan pemacu senam jantungnya, karena rupanya masih sambil mencari penumpang di sekitar Surabaya. Namun setelah lepas dari terminal Madiun bus sudah mulai pencet klakson dan sein nyala kanan. Saya yang sudah tertidur pun terbangun karena sempat terjadi rem mendadak dan mengagetkan beberapa penumpang yang sadar. Madiun - Sragen bus sudah tidak lagi bersahabat hantam kanan banting kiri sepertinya sudah menjadi mainan bagi supir. Tiba di perbatasan Sragen - Ngawi saya di sambut oleh padang sawah dan belantara kebun di selimuti kabut sepertinya sangat terasa dingin di luar. Namun lamunan sesaat buyar karena suara klakson sangat kencang dari bus dari arah berlawanan kami memaksa bus yang kami tumpangi mengalah dan membanting setir ke kiri. Mulai matahari memburatkan cahayanya di langit Sragen hingga Kartasura membuat bus semakin terkendali karena kondisi jalan yang macet. Kemacetan kembali kami temui di jalur Klaten - Jogja mebuat bus benar- benar merayap tak berkutik bagaikan Singa di copot taringnya. Sampai di gerbang masuk Jogja kami disuruh bersiap agar duduk didepan supaya lebih mudah turun dari bus. Sambil menunggu sampai di halte bus TransJogja terdekat saya sempet ngobrol dengan supir dan kernet, katanya 5 tahun yang lalu ketika masih menggunakan bus lama mereka bisa menempuh perjalanan Surabaya- Jogja cuma 5 jam. Kini karena faktor macet dan bus yang tidak bisa diajak ngebut mereka rekor tercepat adalah 7 jam perjalanan Surabaya- Jogja.
Semoga Supir Sumber Kencono mulai tobat dan mengutamakan Keselamatan Penumpang :D

foto diambil dari lensaindonesia.com


cerita di balik semuanya dalam gambar bergerak



Senin, 08 April 2013

[ BOYOLALI ] Perjalanan Pulang Ke Kampung Halaman

Pulang kampung sudah biasa bahkan menjadi hal yang sangat biasa di lakukan orang- orang yang mengadu nasib di megapolitan jakarta. Pada Jumat 5 april 2013 pukul 09:00 dimulai perjalanan dari kos-kosan di daerah tebet dalam. Berjalan kaki menuju jalan raya kemudian di sambung naik angkot 44 menuju terowongan kasablanka. Masih biasa saja dan bahkan tak ada satupun yang special, ada cewe cantik di pinggir- pinggir jalanpun sudah biasa. Rock & Roll di mulai ketika menaiki KOPAJA P20 menuju terminal lebak bulus. Seorang kawan bernama Timbul yang sangat juarang naik kendaraan umum di daerah Jakarta mulai mengeluarkan perilaku ndesonya yang bikin saya ketawa sendiri. Tak lamapun dari tempat kami naik Kopaja ada sebuah bus Kopaja lain yang sedang mogok di tepi jalan. Perlahan bus yang saya naiki mendekati kopaja yang sedang mogok, pikir saya akan mendapat operan penumpang atau meminjami alat buat memperbaiki kopaja mogok. Namun apa yang terjadi fakta berkata lain, ya tak terduga oleh pikir kami berdua sebuah bus yang kami naiki mendorong kopaja mogok tanpa alat bantu alias kopaja sehat menabrakkan ke kopaja mogok dan didorong hingga mesin berbunyi,.. gregg greggg gregggg ngenggggg ngengggg.... jalanlah kopaja mogok tersebut. Benar diluar perkiraan, memang Jakarta ini ada ada saja.

Eh tak lamapun kopaja yang saya naiki malah mengoperkan penumpang ke kopaja lain, padahal bus masih sehat dan selesai membantu kawannya mendorong hingga jalan. Setelah berganti bis tak ada hal- hal yang begitu special alias biasa saja. Sesampainya di terminal Lebak bulus masih pukul 10:30 dan kami berdua langsung masuk saja ke arah loket penjualan tiket. Masih jauh kami dari loket sudah di hampiri oleh CALO tidak jelas dan menanyakan "mas mau kemana?? ke Jawa??" , dengan tegas saya menjawab : "GAK mas saya sudah beli tiket bisnya". Tak mau kalah si CALO bertanya lagi, " tiket apa mas??? saya nanya aja kok". Karena males meladeni saya jawab ngawur saja dan langsung meinggalkannya dan berbelok ke salah satu agen bis, yaitu Pahala Kencana. 




















Karena kami harus mencari masjid yang menggelar shalat jumat dan sesuai saran temen saya yang di PI, maka saya segera menuju masjid raya Pondok Indah. Tak disangka malah kami bertemu dengan kawan lama waktu masih di Bintaro dulu, ya Mahrus namanya sekarang sudah bekerja di eriksen. Sebenernya si ada hal lain juga nyari masjid di Pondok Indah, karena saya ingin bertemu seseorang. Selesai shalat jumat saya dan Timbul menemui seseorang tersebut di Gramedia Pondok Indah Mall. Sambil makan dan minum kami bertiga mengobrol di kantin Pondok Indah Mall. Hampir setahun lebih saya tidak bertemu dengan dia, ya kalo di perhatikan ada beberapa perubahan yang terjadi :). Tapi perubahan itu bukanlah sesuatu yang tabu atau salah, karena saya sendiri pun menyukai perubahan :D.



Pertemuan yang singkat karena dia harus kembali bekerja dan saya harus melanjutkan perjalanan menuju Boyolali. Pukul 14: 50 kami berdua sampai di Lebak Bulus lagi dan menunggu sampai bus menuju Boyolali dan Bojonegoro datang. Karena berbarengan temen saya Zusuf memilih naik bis yang sama dengan saya. Tak lama menunggu bus datang pukul 15: 30 telat setengah jam dari pemberitahuan, ya ternyata bis yang seharusnya sedang di perbaiki dan sedang menunggu sparepart. Bus cadangan yang di pakai pun bukan bus cadangan yang seadanya namun malah bus baru belum pernah di pakai. Perjalanan dari Jakarta hingga Cirebon saya habiskan untuk tidur karena memang capek. Perjalanan yang sesungguhnya baru di mulai dari cirebon setelah istirahat makan. Dengan bergantinya sopir bus berganti pula gaya menyopirnya. 

Tak lama bus berjalan ada salah satu penumpang yang mengambil alih posisi tempat duduk kernek, dan ternyata orang tersebut salah satu bismania. Sepertinya orang ini ingin menjajal kemampuan bus Pahala Kencana. Sopir pun menanggapi dengan senang hati alias meladeni maunya si penumpang tersebut. Di panas- panasin kalau bus PO. Haryanto adalah paling kenceng setau orang tersebut dan posisi bus Haryanto di depan sangat jauh, mungkin keselip beberapa belas bus. Karena sopir tak mau kalah maka diajaklah si bismania tersebut untuk kebut-kebutan mengejar Haryanto. Saya sendiri suka kebut- kebutan namun sempet takut juga soalnya saya berposisi sebagai penumpang. Apa mau di kata maka mari di nikmati saja. Beberapa ratus meter dari rumah makan di depan bus kami sudah ada Laju prima dan Haryanto serta di paling depan ada Kramat djati. Saya pikir Haryanto yang dimaksud bismania itu adalah yang di depan kami, maka segera selesailah balapan bus malam itu, ternyata bukan yang biru di depan kami itu namun yang merahlah yang katanya suka ngebut. 3 bus di awal sudah di tinggalkan. Lanjut dengan meninggalkan truk- truk besar setelah beberapa belas kilometer nampak konvoi bus besar di depan. Rupanya ada Laju prima, Armada Jaya Perkasa, Kramat djati, Harapan Jaya dan Lorena. Kata sopirnya Armada Jaya Perkasa bus jelek- jelek namun sopirnya yang berani mengendarai dengan kencang, sayapun juga ikut berpikir kok ini bus sampai di Jawa Tengah ya??? kan Armada daerah kekuasaannya di Merak - Jakarta. Tak lama pun 5 bus berhasil di tinggalkan lagi.

Tak lain seperti yang sudah sudah, di Tegal pasti terjadi kemacetan dan terjadi buka tutup jalan separo. Kesempatan di manfaatkan sopir untuk secepatnya enyah dari kemacetan panjang dengan mengambil jalur kanan, dan sempat melihat beberapa bis di sisi kiri ikut dalam kemacetan diantaranya : Kramat dajti, Harapan Jaya, Sumba Putra, Sindoro Satriamas, GMS, Tunggal Dara, Rosalia Indah. "Lumayan ada 7 bus tadi ya kalo gak salah sudah kita tinggalkan???" kata sopirnya. Mendekati daerah kendal gas makin di injak dalam dalam karena jalurnya yang mulus dan lurus. Tak lama kemudian ada beberapa bus di depan yang sedang saling mendahului. Ternyata setelah dekat ada Haryanto (merah), "nah itu yang katanya kenceng mas!!" teriak si bismania. Haryanto mencoba mendahului Rosalia Indah dan Langsung Jaya dan berhasil lah Haryanto, di susul bus kami Pahala Kencana mendahului Rosalia Indah dan Langsung Jaya. Ternyata benar Haryanto merah ini tak menyerah begitu saja, kami cukup lama di asapi kenalpot si Haryanto merah ini. Sebelum masuk Alas Roban Haryanto merah akhirnya bisa diatasi, namun di tengah jalur Alas roban ada konvoi lagi tak mau kalah maka ikutlah bus kami dalam konvoi itu. Ada Rosalia Indah, Kramat Djati, Langsung Jaya, Gunung Mulia, Harapan Jaya, dan Nusantara. Jika ada yang pernah lewat Alas roban pasti tau seperti apa trek dan medan disana :). Lumayan menantang juga untuk ukuran bus yang besar ini kebut- kebutan dan saling mendahului. Urutan paling depan Rosalia Indah kemudian Kramat Djati, Gunung Mulia, Nusantara, Harapan Jaya dan Langsung Jaya, dengan mudah Harapan Jaya dan Langsung Jaya menyerahkan diri untuk kami dahului. Menyusul Nusantara menyerahkan diri, namun masih 3 bus yang alot untuk di dahului yaitu RI, KD, dan GM, namun setelah keluar jalur Alas Roban ketiganyapun beres di tinggalkan. Mendekati Semarang masih bertemu dengan bus Dahlia Indah, Tunggal Daya, Armada Jaya P, Santoso, GMS, Sumba Putra dan berhasil kami dahului. Namun ada yang membuat kaget yaitu Di paling depan ada Rosalia Indah dan Haryanto merah, sepertinya si HR merah mengambil jalur yang berbeda ketika masuk Alas Roban. Jadi balapan bertiga lah menuju Semarang, Rosalia Indah yang termasuk bukan bus baru lagi pun masih ngotot ngebut tak mau kalah dengan Haryanto dan Pahala Kencana. Seperti yang sudah sudah yaitu keduanya berhasil di tinggalkan oleh kami. "Gimana bus apalagi yang ingin di jajal??? kayaknya minimal sudah satu bus setiap perwakilan perusahaan ya???" ucap si sopir karena bus kami di urutan paling depan. "kayaknya kita belum bertemu sama Shantika dan Bejeu deh mas!!" balas si bismania. Ternyata memang tidak terkejar kedua bus tersebut karena Shantika dan Bejeu masuk deretan bus yang ngebut juga.

Karena dari Cirebon bus sudah di paksa ngebut terus maka Solarnya boros banget kata sopirnya. Setelah isi solar full tank dan keluar dari kota Semarang sopir mengendarai bus dengan santai agar lebih irit daripada pas kebut-kebutan. Alhasil sampai di Boyolali masih pukul 03:45 pagi buta, rekor terpagi dalam sepanjang sejarah perjalanan BDG- BYL dan JKT- BYL.

Sampai dirumah shalat subuh dan lanjut tidur karena dalam perjalanan belum tidur hahahaha. Sore harinya saya dan keluarga merayakan ulang tahun adek saya Rizka Hanifah Mubarika pada tanggal 7 april. Selamat ulang tahun ya dek Rizka semoga panjang umur, nanti lulus dengan nilai yang bagus dan di terima di SMA favorit , amin amin amin.

foto diambil ketika makan malam bersama di SS

Pada hari Minggu saya pagi - pagi sepulang dari pengajian bersama keluarga sudah bersiap untuk datang ke kawinan kawan saya di wisma haji Boyolali, ya kawinan Rizkiyani Astuti kawan waktu SMA. Selesai mandi mendapat pertanyaan "headshot" dari adek saya " Mas lha koe kapan nikahe???" duarrrrr pertanyaan itu di sambar ibu dan ayah saya "lha wes due pacar durung rif???". Dengan tenang saya cuma bisa menjawab "dereng e pak, selow ae.... :P ". Malahan mau di kenalin sama anaknya temen ayah waktu ngajar di SMA N 2 Boyolali dulu.

Minggu 7 April 2013 di mulai di Smansa Boy menemui Sas dan lanjut ke Wisma haji bertemu Zusuf yang sudah standby kemudian menunggu Handis sebentar dan kami masuk bersama ke gedung acara pernikahan. Selesai acara pukul 12: xx saya langsung mampir ke terminal untuk memvbeli tiket bus pulang ke Jakarta dengan bus yang sama yaitu Pahala Kencana. Berangkat pukul 16: 15 WIB dari Terminal Boyolali. Kali ini bus tak sengebut waktu perjalanan pulang ke Boyolali, karena beda sopir dan beda bus.


Selasa, 08 Januari 2013

[ JAWA ] Solotravel Keliling Pulau Jawa II

Jalan Jalan Keliling Pulau Jawa.



Jujur saja saya bukan pengangguran tapi ketika mendapat libur panjang selama 14 hari tanpa cuti itu mencengangkan banyak orang. Ya sepertinya mustahil bagi seorang karyawan mendapat libur panjang 14 hari tanpa cuti. Karena tawaran dari seorang teman untuk tukar jadwal agar saya bisa libur dahulu akhirnya saya ambil saja, kenapa tidak? Ibaratnya saya dapat rejeki nomplok kok di tolak. Saya bekerja di salah satu operator seluler di Indonesia yang dengan sistem kerjanya adalah shift jadi karyawannya bisa melakukan tukar shift untuk mendapatkan libur. Akhirnya usaha mengotak atik jadwal agar sempurna liburan panjang saya selesai juga. Sore pukul 17:00 WIB saya diantar teman satu kosan saya menuju agen travel untuk menuju Bandung. Ya tujuan pertama saya adalah Bandung karena ada acara pernikahan teman satu kelas sewaktu kuliah. Hari sabtu tanggal 17 november  2012 di desa cigugur girang bandung barat saya hadir di acara pernikahan Mulya erik. Selesai menikmati pesta acara pernikahan pukul 13:00 WIB saya segera pulang ke kosan adik saya di dayeuh kolot, namun sebelumnya saya mampir ke agen bus jurusan Solo. Dengan membeli tiket bus jurusan Solo dan turun di Boyolali saya memulai perjalanan keliling Jawa timur, Jawa tengah, dan Jawa barat.



Sebelum saya menuju Jember Jawa timur saya sempatkan untuk mampir ke Boyolali. Rencana awal adalah mampir Boyolali untuk mendaki 3 gunung sekaligus yaitu Merapi, Merbabu, dan Lawu. Namun karena cuaca saat itu tidak memungkinkan maka saya cuma berhasil mendaki gunung Merapi. Pada awalnya saya akan mendaki sendiri tetapi karena saudara sepupu saya pengen merasakan nikmatnya mendaki gunung maka saya ijinkan untuk ikut. Pendakian diawali dari terminal Boyolali setelah saya turun dari bus jurusan Bandung- Solo. 18 November 2012 tiba di Boyolali pukul 07:00 WIB, tidak seperti biasanya yang pada pukul 05:00 WIB bus sudah paling telat tiba di Boyolali. Di tengah perjalanan bus yang saya tumpangi mengalami kemacetan di daerah Cirebon karena ada perbaikan jalan. Karena sudah mulai siang maka saya sekaligus sarapan di terminal sembari menunggu saudara sepupu saya datang. Selesai sarapan jeda 15 menit saudara sepupu saya datang juga. Ada dua saudara sepupu saya mereka kakak beradik, jadi pendakian ke gunung Merapi kami lakukan bertiga. Sebelum lanjut menuju Selo kami melengkapi peralatan terlebih dahulu di pasar Sunggingan dan menunggu bus menuju Selo.
             
Pukul 08:00 WIB bus menuju Selo diberangkatkan, dengan ongkos Rp 7000 kami diantarkan sampai Selo. Setibanya di Selo sebelum melapor ke basecamp kami mampir ke Galaxymart untuk membeli logistik. Baru setelah lengkap logistik kami segera menuju basecamp Merapi untuk mendaki. Pendakian dimulai pada pukul 11:00 WIB dengan start dari basecamp.

Gunung Merapi adalah gunung yang terletak di Magelang, Boyolali, Klaten, dan Sleman. Dengan ketinggian 2968mdpl gunung Merapi merupakan gunung teraktif di indonesia. Untuk saat ini gunung Merapi hanya dapat di daki melalui jalur pendakian New Selo. Sedangkan untuk jalur dari Kaliurang sudah rusak terkena longsor letusan pada 2010 lalu. Dan saya sendiri melakukan pendakian melalui jalur New Selo. Dengan lama perjalanan adalah 5 jam sampai pasar bubrah. Dari basecamp menuju pos 1 dapat ditempuh selama 3 jam perjalanan santai dan normal dengan jalur berupa tanah sedikit terjal dan dipayungi pepohonan. Kemudian lanjut dari pos 1 menuju pos 2 memakan waktu 1 jam dengan medan tanah berpasir terjal dan pepohonan sudah mulai berkurang. Dan untuk pos 2 sampai Pasar bubrah memakan waktu 1 jam juga dengan medan bebatuan terjal disusul jalur pasir terjal ketika mendekati Pasar bubrah. Untuk lama perjalanan dari Pasar bubrah hingga puncak biasa ditempuh selama 1 jam, namun saya sendiri belum sampai puncak karena cuaca mendung dan berkabut. Setelah kami camping semalam dengan dihiasi hujan badai sampai pukul 24:30 paginya kami di beri cuaca yang lumayan cerah untuk diabadikan.
cerita lengkap tentang merapi disini : pendakian merapi 
          
Pada 19 November 2012 pukul 09:00 WIB karena hari semakin siang dan terik matahari sudah membakar kulit kami, maka kami segera berbenah untuk meninggalkan Pasar bubrah. Pukul 10:30 WIB kami meninggalkan pasar bubrah menuju pos 2 dengan lama perjalanan 30 menit. Istirahat sebentar di pos 2 sambil makan cemilan dan minum seteguk air putih sebelum lanjut ke pos 1. Setelah dirasa cuku beristirahat kami melanjutkan menuju pos 1 dengan lama perjalanan adalah 1 jam dengan di iringi kabut tebal dan gerimis. Sesampainya di pos 1 rasanya hati sudah lega karena kami berpikir bahwa sudah dekat dengan new selo. Tapi ternyata 1 jam sudah lewat pun perjalanan kami rasa masih belum mendekat ke new selo. Karena penasaran maka ketika bertemu dengan orang yang sedang mendaki saya paksakan untuk bertanya, saya : “mas new selo masih jauh ya?” pendaki : “oh sudah dekat mas tinggal setengah jam lagi kira kira” . Mendengar kata “setengah jam” saya kembali semangat untuk mengayunkan kaki, dan ternyata benar setelah setengah jam tak terasa saya dan mas yusuf kakak sepupu saya sampai duluan di new selo dan di susul 15 menit kemudian oleh mas basri kakak sepupu saya juga.
*informasi penting yang dapat saya sampaikan :
1. Untuk menuju basecamp gunung Merapi sebelum pendakian melalui jalur selo dapat ditempuh dari beberapa kota.
a. Jika anda berasal dari Jakarta : anda dapat menaiki bus jurusan Jakarta - Solo dan turun di terminal Boyolali dengan tarif Rp 120.000,- hingga Rp 160.000,- tergantung bus yang anda gunakan. Kemudian dari terminal Boyolali alangkah baiknya anda mencari bus ke Selo di pasar Sunggingan yang letaknya tak jauh dari terminal. Jika anda sering berjalan kaki maka pilihlah untuk berjalan kaki karena jaraknya hanya sekitar 1km dari terminal. Untuk bus jurusan selo ini berangkat dari pasar sunggingan menunggu penumpang penuh jadi pilihlah pagi hari berangkat dari pasar Sunggingan dengan membayar Rp 7000,- . Dan setelah sampai Selo anda dapat berjalan sekitar 3 km menuju basecamp. Untuk biaya lapor dan masuk TN gunung Merapi adalah Rp 5000,-.
b. Jika anda dari bandung : anda dapat menaiki bus jurusan Bandung – Solo sama untuk turunya tetap di terminal Boyolali dengan tarif antara Rp 75.000,- hingga Rp 120.000,-. Dari terminal boyolali menuju Selo sama seperti yang saya jelaskan di atas.
c. Jika anda dari Semarang : anda dapat menaiki bus jurusan Semarang – Solo dan turun di terminal Boyolali dengan tarif Rp 5000,- untuk ekonomi AC atau Rp 10.000,- untuk yang Patas.
d. jika anda dari Solo maka tinggal kebalikan dari semarang dengan tarif yang sama.
e. Untuk anda dari daerah Jawa timur anda dapat menuju kota Solo terlebih dulu baru ke Boyolali.
2. Untuk yang belum lengkap logistiknya anda dapat melengkapi di pasar sunggingan atau dapat juga di mini market yang terletak 100m dari bundaran pemberhentian terakhir bus.


Baiklah lanjut cerita menuju kota Jember, pada hari Rabu tanggal 21 november 2012 pukul 21:00 WIB saya diantarkan ayah menuju terminal Boyolali. Ya memang sebelumnya pada tanggal 19 , 20, dan 21 saya sempat berisitirahat di rumah yang tak jauh dari gunung Merapi. Berangkat dari Boyolali menuju Surabaya dengan transit terlebih dahulu di terminal Tirtonadi Solo. Dari terminal Tirtonadi Solo saya naek bis jurusan Jogjakarta – Surabaya dengan lama perjalanan Solo – Surabaya adalah 6 jam. Tiba di terminal Bungur asih pada pukul 04:00 WIB  22 november 2012  pas banget adzan subuh sekalian shalat subuh di terminal Bungur asih. Dari Surabaya saya mencari bus yang ke arah Ambulu, Karena masih pagi bus yang langsung ke Ambulu tidak ada maka dapat naek bus jurusan Lumajang dan turun di terminal  Wonorejo. Dari Surabaya menuju Wonorejo memakan waktu selama 4 jam. Dan di terminal Wonorejo saya menunggu bus yang menuju Ambulu, kata petugas terminal bus menuju Ambulu datang sekitar jam 09:00 atau jam 10:00 WIB. Dari Wonorejo menuju Ambulu lama perjalanannya adalah 3 jam. Sesampainya di Ambulu untuk menuju pantai papuma saya memanfaatkan jasa ojek. Dari Ambulu menuju pantai Papuma memang tidak ada kendaraan umum maka satu satunya adalah ojek. Selama 1 jam perjalanan menuju Papuma saya di hidangkan oleh pemandangan bukit dan hutan yang bikin mata adem. Mata saya melihat serasa sedang di Gunung kidul, ya karena alam di sekitar pantai Papuma memang mirip dengan keadaan alam di pantai Gunung kidul. Tiba di pantai  Papuma saya segera jalan jalan perlahan ke sekitar pantai pasir putih dan menyisir menuju ke batu besar. Kemudian setelah ashar saya memilih stay di Sitinggil untuk menunggu sunset, namun cuaca mendung hingga matahri tak tampak lagi.

   
Dan malamnya saya menginap di mushola papuma, awalnya takut juga kena marah tapi malah pada malam harinya di tawari oleh pemilik penginepan untuk menginap di lobby homestay secara gratis. Malu ya karena malu saya tetap memilih tidur di mushola. Pada esok harinya 23 November 2012 pukul 03:45 WIB saya bangun sesuai alarm hape yang saya seting. Sebelum adzan subuh berkumandang saya sengaja memasak air panas untuk membuat energen sebagai sarapan. Selesai memanaskan air dan membuat energen saya shalat terlebih dahulu dan kemudian berbenah. Selesai berbenah energen yang saya buat malah belum saya minum akhirnya saya tenteng aja menuju Sitinggil karena takut sunrise datang lebih awal. Usai mengabadikan keindahan sunrise yang malu malu saya segera balik ke mushola untuk menunggu pak ojek menjemput. Pukul 08:00 pak ojek benar sudah datang dan saya memutuskan mandi sebentar di mushola sebelum lanjut menuju Ambulu dan ke Kawah Ijen. Cerita tentang papuma ada disini : bersantai di papuma



Hari jumat pukul 13:00 seusai shalat jumat saya meninggalkan Ambulu, awalnya saya berjalan kaki menuju terminal Ambulu yang kira kira berjarak 5 km namun setelah sampai ternyata terminal sepi dan tak ada bus yang ke situbondo. Sesuai saran penjaja cendol di depan terminal maka saya balik lagi ke mesjid Ambulu dan di depan mesjid ada pangkalan taksi alias angkot. Dari Ambulu saya menuju Ajung dengan taksi membayar 10ribu baru kemudian melanjutkan ke terminal Arjasa jember dengan tarif Rp 5000,-. Nah baru dari terminal Arjasa saya naik bus sedang yang ke arah Situbondo. Turun di Gardu Ata Bondowoso jalur menuju Kawah ijen saya membayar Rp 7000,-. Di Gardu Ata kalo dari pagi sampai siang ada taksi ( ELF atau engkel ) yang menuju desa Sempol. Dengan membayar Rp 15.000,- taksi berhenti di ujung trayek yaitu Sempol. Di Sempol sebelum melanjutkan ke paltuding pos terakhir sebelum mendaki ke kawah ijen bisa mengisi perut atau melengkapi perbekalan makanan dengan harga yang terjangkau. Untuk transpotasi dari Sempol menuju Paltuding tidak ada kendaraan umum, namun jika beruntung ada truk penambang belerang lewat bisa menumpang tapi jika tidak ada bisa menggunakan jasa ojek seharga RP 50.000 – Rp 60.000,-. Setibanya di Paltuding saya dihadapkan dengan warung, pos penjagaan dan wajib lapor, beberapa homestay sederhana dan homestay yang sedang dibangun. Pengunjung wajib melapor sebelum mendaki ke Kawah ijen, dan untuk saat ini pengunjung dilarang turun sampai ke kawah atau danau kawah. Mohon jangan bilang orang lain kalau saya nekat turun demi si api biru Kawah Ijen. Informasi yang saya dapat dari penambang jika anda ingin meihat api biru maka datanglah dini hari untuk mendaki dan jangan rombongan lebih dari 3 orang karena akan sedikit mengganggu mobilitas para penambang melewati jalur terjal nan curam. Pada dini hari jam 01:30 WIB tanggal 24 november 2012 saya berangkat menuju sumber api biru dari Paltuding. Lama perjalanan yaitu 3 jam dengan melewati jalan setapak dan menuruni bebatuan terjal yang mudah longsor. Selama mengabadikan api biru saya tidak berlama- lama karena gas belerang yang berbahaya membuat saya segera pergi. Berikut foto – foto api biru dan sekitar Kawah Ijen. Untuk pendakian pegunungan ijen ada disini : api biru si kawah ijen
    
    
Info penting untuk menuju pantai Papuma dan Kawah Ijen :
1.    Jika anda dari Solo menuju anda dapat menuju Surabaya terlebih dahulu menggunakan bus tarifnya Rp 30.000,- atau dapat juga dengan kereta Rp 28.000,-. Dari Surabaya naik bus jurusan Ambulu, atau dengan alternatif ke Wonorejo terlebih dahulu baru ke Ambulu dengan total biaya transpotasi Rp 26.000,- + Rp 12.000,-. Untuk menuju pantai papuma dari Ambulu dengan ojek tarifnya RP 30.000,-
2.    Jika dari ambulu ingin menuju kawah ijen tinggal meneruskan dengan melanjutkan ke terminal Arjasa Jember naik taksi tarifnya Rp 10.000 + Rp 5000,-. Kemudian dari terminal Arjasa lanjutkan ke Gardu Ata dengan bus jurusan Situbondo tarifnya Rp 7000,-. Barulah dari gardu ata naik taksi menuju desa Sempol membayar RP 15.000,- . Dari Sempol silahkan naik ojek karena tidak ada kendaraan umum menuju Paltuding, tarif ojek Rp 50.000 – Rp 70.000,-
3.    Jika anda dari Solo, Jogja, Bandung atau  Jakarta tanpa mampir ke pantai Papuma Jember saran saya adalah anda menuju Banyuwangi dengan kereta atau bus. Untuk kereta Jogja / Solo – Banyuwangi adalah Rp 35.000 dan bus tarifnya adalah Rp 80.000,-. Dari Banyuwangi lanjut menuju desa Licin dengan naik ojek Rp 20.000,- dan dari desa Licin ke Paltuding dengan ojek juga Rp 30.000,-
4.    Jika ingin melihat api biru yang bagus maka sebaiknya datanglah musim kemarau maka apinya akan besar dan indah.
5.    Jika anda seorang wanita maka hindari pejalanan sendiri dan malam hari karena daerah menuju Sempol masih rawan perampokan.


Dan setelah dari Kawah Ijen saya melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran Situbondo. Jika setelah turun dari Kawah Ijen menuju banyuwangi maka TN Baluran ini tak jauh dari Banyuwangi. Dengan menempuh lama perjalanan 1 jam maka sudah sampai di gerbang selamat datang TN Baluran. TN ini menyediakan pemandangan hutan ala Afrika dan pantai yang tenang serta masih alami. Dari gerbang TN  menuju padang savana dan pantai Bama dapat di tempuh dengan ojek sejauh 15 km. Tarif ojek di sini adalah Rp 70.000 pulang pergi dan ditunggu dimana anda akan bersantai. Satu jam saya tempuh perjalanan menuju padang savana dengan ojek pak Wagino. Sekedarnya saya ambil foto di sekitar padang savana.
Dan di lanjutkan menuju pantai Bama sebuah pantai yang tenang dan sepi cocok untuk bersantai dan melepaskan penat karena kerja. Lama tempuh dari padang savana menuju pantai Bama adalah 15 menit. Pantai Bama adalah pantai dengan pesona sunrise, sehingga cocok jika menginap dan menikmati matahari pagi. Untuk cerita tentang TN baluran ada disini : afrikanya jawatimur
    
Setengah hari di TN Baluran saya rasa cukup karena masih harus melanjutkan ke Madura dan Serang.
Info tentang Taman Nasional Baluran :
1.    Di Taman Nasional ini terdapat penginapan yang di kelola oleh pihak perhutani jadi tidak usah risau untuk memikirkan bagaimana jika ingin menginap dan menikmati sunrise. Dengan tarif perkamar adalah Rp. 50.000
2.    Jika anda tidak menggunakan kendaraan pribadi tidak perlu khawatir karena terdapat ojek yang dapat mengantar anda.
3.    Untuk akses menuju Taman Nasional ini dapat di tempuh dengan menuju ke arah banyuwangi dan minta di turunkan di depan gerbang taman nasional yang terletak di pinggir jalan raya sehingga mudah menemukannya.

Menaiki bus Akas jurusan Banyuwangi - Madura dengan lama perjalanan 5 jam membayar Rp 55.000,- berangkat pukul 21:00 dari Situbondo dan tiba di Bangkalan 02:00 WIB 25 November 2012 terpaksa mengemper sejenak di pos polisi hingga subuh datang. Selama di Madura saya berhasil mejelajah ke Torowan, Slopeng dan Sumenep. Dari Bangkalan menuju Torowan dengan transit di Arosbaya terlebih dahulu, Bangkalan – Arosbaya Rp 5000,- dan Arosbaya – Torowan Rp 10.000,-.
    
Sekedarnya mengambil foto kemudian saya melanjutkan ke pantai Slopeng dan Sumenep. Di pantai Slopeng pemandangan seperti pantai berpasir putih pada umumnya tidak ada yang spesial. Tujuan selanjutnya adalah Sumenep, karena saya mendapat info dari kenek len bahwa di Sumenep ada Karapan Sapi. Transit di Tambru dengan membayar tarif len Rp 5000,- dan di sambung menuju Sumenep dengan len juga tarifnya Rp 10.000,- 
cerita tentang madura : karapan sapi madura
    
Info tentang Madura :
1.    Untuk kendaraan umum menjelajah kota Madura tidak banyak jadi sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau rental mobil.
2.    Bersikap ramahlah kepada penduduk asli karena sesungguhnya mereka ramah dan baik, hanya saja nada bicaranya memang sedikit keras.
3.    Jika anda ingin menikmati lomba Karapan Sapi datanglah pada bulan November – Desember karena menurut orang Sumenep biasanya karapan sapi diadakan pada bulan itu.
4.    Akses menuju Madura satu satunya jalan adalah dengan transit menuju Surabaya terlebih dahulu dan tarif bus Surabaya - Sumenep adalah Rp 36.000,-

Info tambahan untuk harga makan di Jawa tengah dan Jawa timur tidak usah khawatir selama itu bukan di terminal, stasiun dan bandara saya jamin harganya murah. Untuk makan dengan sayur dan lauk ayam goreng dan minum es teh manis harganya antara Rp. 10.000 – Rp. 15.000,-.
Rampung menjelajah Jawa tengah dan Jawa timur saya segera menuju Serang Jawa barat, ujungnya barat pulau Jawa. Tujuan ke Serang adalah ke Rawadano dan villa camping hutan di Carita. Untuk perjalanan dari Jawa timur menuju Jawa barat saya sempatkan untuk mampir ke Jawa tengah yaitu pulang ke rumah di Boyolali. Dari Boyolali ke Serang pun saya mampir dahulu di Bandung. Tanggal 30 November pukul 17:00 WIB berangkat menuju Kampung Rambutan dari terminal Leuwi Panjang bertemu dengan teman- teman yang lain. Perjalanan terakhir saya di Serang ini memang tidak sendiri lagi karena saya ikut trip. Tarif bus dari Bandung ke Kampung Rambutan adalah Rp 45.000,- dengan lama perjalanan 3 jam. Bersama teman- teman ada yang baru kenal ada juga 4 teman yang sudah kenal sebelumnya menuju Serang dengan lama perjalanan 2 jam membayar tarif bus Rp 18.000,-. Tiba di Serang kami di tampung di kampus Untirta untuk menginap semalam sebelum keesokan harinya melanjutkan ke Rawadano. Usai shalat subuh kami berangkat menuju Rawadano, sebuah hutan rawa di pinggiran Serang. ini dia cerita singkat di serang : ujung barat pulau jawa
   
          
Info untuk Rawa dano :
1.    Sebaiknya anda mempunyai link warga desa rawadano agar di siapkan sampan untuk keliling rawadano.
2.    Bawalah makanan ringan yang banyak serta air minum karena dari tempat parkir mobil menuju rawadano akan berjalan kaki selama 3 jam.

video perjalanannya