Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2013

[ MALANG ] Jelajah Liar Mahameru & Bromo [ INI INDONESIA ]

Setelah beberapa kali terdapat hambatan- hambatan yang akan menggagalkan acara pendakian menuju Mahameru dan Bromo. Tibalah saatnya periksa kesehatan ke klinik untuk mendapatkan surat keterangan sehat. Semenjak 3 hari sebelum datang ke klinik saya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan Jantung. Ada saatnya denyut jantung sangat lemah memompa darah mengalir ke seluruh tubuh. Sepertinya karena kecapean setelah di gempur shift yang membabi buta dua minggu belakangan. Nut... nut... nut Tensimeter menekan lengan kiri saya. Pengukuran pertama saya masih rileks namun terjadi keanehan karena Tensimeter tidak menunjukkan angka yang signifikan bahkan terus turun serasa tak ada denyut di nadi kiri saya. hingga empat kali percobaan yang akhirnya saya benar- benar cemas jikalau memang saya sedang tidak fit. Namun apa yang terjadi dokter berbicara lain bahwa tekanan darah saya normal, saya pun pasrah apakah dokter berbicara jujur atau karena memang ingin memberikan izin naik gunung kepada kami. 

St. Pasar Senen



Rabu, 03 Juli 2013

[ LAMPUNG ] Pendakian Anak Gunung Krakatau " LAGI "

Pada 9-11 September 2011 usai hari raya Idul Fitri adalah pertama kalinya saya mengikuti trip secara partai besar, karena sebelumnya saya selalu jalan-jalan dengan teman kuliah kira-kira 4-8 orang sekali jalan. Berangka dari bandung dan meeting poin di kampung rambutan. Diantara puluhan orang yang tidak saya kenal saya cuma bisa berdiam diri menunggu kapan trip di berangkatkan. Hingga akhirnya saya di panggil oleh dua orang yang juga datang sendiri untuk trip krakatau 9-11 September ini. Sesungguhnya saya kurang suka dengan trip skala besar karena selain akan ramai dan susah mendapat gambar saya juga merasa asing diantara orang-orang yang tidak saya kenal. Alhasil saya pun berasa jalan-jalan sendiri atau bersama 3/4 orang. Saat itu Ocin dan Agung lah orang yang saya kenal. Justru seusai trip dan pulang masing-masing saya dapat mengenal lebih banyak teman atau peserta trip kala itu. Enaknya trip skala besar adalah dapat menambah teman dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Bertemu dengan berbagai macam orang asing yang kadang menurut saya mereka unik dengan caranya masing- masing.
Dibawah ini adalah foto krakatau pada 11 September 2011

kata om rio ini adalah pegunungan alpen
























Sepulang dari Krakatau trip ini saya tidak tau harus kemana karena sampai di kampung rambutan sudah larut malam, namun karena kebaikan seroang Hafiz Darmawan saya di berikan tumpangan menginap sementara sampai keesokan harinya ketika terang. Tidak sampe tumpangan menginap saja namun paginya saya diantarkan dari Ciledug hingga kosan waktu itu masih di Bintaro.
#Terima kasih banyak untuk Cak Hafiz Darmawan.

Sepertinya cukup prakata dalam tulisan ini, selanjutnya maka akan saya tuliskan tentang pendakian Anak Gunung Krakatau yang kedua dan ketiga.
Pendakian kedua adalah ketika saya mendapat ajakan dari Cak Andi dan Cak Hafiz yang dulunya adalah tourleader saya. Membantu mengkoordinir dan dokumentasi menjadi tugas saya dalam pendakian kedua ini. Kali ini saya jalan- jalan bukan untuk sekedar menikmati namun saya juga bertanggung jawab bagaimana agar peserta minimal tidak kecewa dalam trip yang kami adakan.
Krakatau trip 1-2 Juni 2013 dengan jumlah peserta hampir 50 orang, dan saya tidak mampu mengenal kesemuanya. Seperti trip yang pernah saya ikuti yaitu spot pertama adalah fotofun di pulau sebuku kecil, ketika kami tiba cuacanya sedang kurang bersahabat karena agak sedikit mendung. Selesai foto-foto spot berikutnya adalah snorkling di Sebuku Besar, hemmm spot yang kurang menarik kala itu karena hampir semua karang di tutupi oleh lumut atau rumput saya kurang paham betul. Sebelum mendarat di pulau Sebesi kami mampir di Pulau umang-umang untuk berfoto ria kembali. Cuaca masih belum berubah langit keabu-abuan membuat foto kurang ceria dan cenderung sendu seperti menjelang hujan.
Sebuah Pulau besar dengan berdiri tegak menjulang gunung danau pak nahkoda menyebutnya menjadi penanda bahwa itu adalah Pulau Sebesi. Rumah- rumah berdiri di beberapa tepian pantai yang sengaja di sediakan sebagai homestay. Beberapa rumah hancur berantakan seperti sudah puluhan tahun ditinggalkan tergelatak di beberapa sudut jalan setapak. Berderet perkampungan warga pulau Sebesi di kaki gunung Danau seakan berlindung dari panas dan hujan di bawah Gunung. Beberapa rumah penduduk kami pergunakan sebagai homestay dan beberapa lagi homestay tepian pantai kami tinggali untuk tidur sementara. Berbeda dengan trip pertama kali saya yaitu sunset bukan lagi di pulau umang-umang namun mencoba spot yang baru yaitu Ujung seng, ujung barat pulau Sebesi. Sepertinya bagi beberapa orang spot ini kurang menarik karena matahari tidak dapat dinikmati ketika betul- betul tenggelam. Hmmm saya sendiri suka karena saat itu langit penghujung waktu senja justru sedang bergejolak merah merona membakar kabut- kabut.
ujung seng

Malam hariya kami habiskan waktu dengan barbeque dan belajar foto galaksi bintang. Seusai babeque dengan Cak Hafiz dan Uda Kurniawan kami membidikkan kamera ke langit guna mencari letak milky way, karena malam itu milkyway kurang begitu jelas terlihat oleh mata.

milkyway on Sebesi island

 Tanggal 2 Juni 2013 mata masih dalam keadaan susah di buka karena kantuk yang belum tertahan. Pukul 02.30 kami semua di bangunkan karena perjalanan harus segera di lanjutkan. Namun apa daya ketika salah satu kapal kami mengalami keruskan pada starternya maka kami harus rela menunggu hingga pukul 05:00.
Tiba di Anak Gunung Krakatau matahari sudah gagah menyambut kedatangan kami. Teriknya yang mulai meninggi mulai menghangatkan tubuh kami. Satu jam di puncak sepertinya kurang lama karena masih banyak peserta yang ingin bernarsis ria dari segala sudut dan penjuru Puncak Krakatau.

Krakatau 2 Juni 2013
























krakatau 1-2 Juni 2013

Ketiga kalinya saya belum bosan diajak oleh Cak Hafiz Darmawan mengunjungi Dangerous Place  ini. Tanggal 30 Juni - 2 Juli 2013 belum lama jika di tengok ke pendakian yang kedua. Dengan suasana yang berbeda dan peserta yang berbeda pula. Beberapa peserta saya sudah mengenalnya diantaranya teh Nenden, mbak Azizah, Cak ilham, dan Tengku Hary. Teh Nenden dan mbak Azizah adalah peserta waktu ke Kiluan, kemudian cak Ilham adalah peserta yang pernah ikut trip ke Pahawang. Ternyata Tengku Hary ini belum bosan juga datang ke Krakatau sampe akhirnya dia ikut lagi.

Oke perjalanan berawal dari kampung rambutan seperti biasanya, saya beserta 9 peserta yang lain menuju Merak untuk bertemu dengan Cak Hafiz Darmawan juga peserta trip yang lainnya. Sekitar 2.5 jam perjalanan menuju Merak saya habiskan untuk tidur dan apa yang terjadi??? Bangun-bangun saya kaget dan buru-buru turun alhasil topi kesayangan ketinggalan di bis dan yasudalah. Tiba di Merak tak lama menunggu membeli tiket kapal kami pun segera naik ke kapal fery untuk menyebrang ke Bakauheni. Sudah menjadi hal yang biasa atau bahkan harus jika ke Dermaga Canti dari Bakauheni itu menggunakan Angkot Kuning. Setibanya di Canti tanah basah dan becek habis hujan lebat sedari pagi. Peserta juga saya serta Cak Hafiz sarapan pagi sembari menunggu kapal yang akan menyebrangkan kami siap mengantar.

dermaga Canti setelah hujan

Tujuan pertama adalah Pulau Sebuku kecil, Karena air pasang dan ombak lumayan besar maka segera berpindah ke spot selanjutnya yaitu Spot snorkling di Sebuku besar. Seperti yang sudah sudah snorkling di sini tidak bagus dan ikannya tidak banyak. Namun apa yang terjadi ketika saya hendak naek ke kapal sambil mata mengarah ke bawah tampak terlihat anemon dengan ikan berwarna kuning putih hitam. Oh cantiknya apakah itu ikan jenis Nemo juga??? langsung saya samperin dan arahkan kamera jepret jepret dapatlah si cantik kemudian barulah naik ke kapal.

Mr Hafiz dengan peserta

exsahabatjalan with media traveller


Nemo jenis baru di P. Sebuku Besar

Lanjut saja ya biar tidak kelamaan berceritanya, sesungguhnya saya juga sudah capek menulis apalagi nanti kalian pembaca juga malas kalau terlalu banyak ocehannya :D. Istirahat sebentar di Pulau Sebesi seperti cerita di pendakian kedua hehehe. Kembali kepada konsep awal dahulu kala yaitu spot sunset adalah ke Pulau Umang-umang bukan lagi ke Ujung seng. Ternyata memang cuaca belum bersahabat dengan #exsahabatjalan. Langit mendung ombak besar serta angin sepoi-sepoi agak mengencang sedikit. Batuan hitam kayu rapuh tepian pantai dan hijau pucat dedaunan karena tidak mendapat cahaya matahari sedari pagi. Tak banyak yang dapat saya lakukan di spot Sunset Pulau Umang-umang ini.

mendung datang melanda

Tengku Hary melompat

Mas memet jump in to the sea

Berlanjut di malam hari yang awalnya cerah bermandikan bintang-bintang namun segera tertutup mendung kami habiskan dengan barbeque seperti tradisi yang sudah berjalan.
Bedanya trip Krakatau yang ketga ini adalah di selingi oleh penerbangan lampion maka di sebutlah Krakatau Lampion Trip. Peserta sepertinya antusias menunggu penerbangan lampion ini yang tadinya terlihat malas2an menunggu ikan bakarnya matang setelah berdiri dan menyalakan api genggaman mereka masing- masing mulai terdengar riuh canda mereka.

mereka bosan menunggu ikan bakar

Api dalam genggaman mereka

Selesai penerbangan Lampion kami semua harus istirahat karena kesokan harinya papa 03:00 dini hari harus sudah siap menghadapi perjalanan sesungguhnya. Mata yang terpejam perlahan terbuka menyambut dingin angin malam serta pantulan cahaya bulan. Berseret kaki tak cuma sepasang namun berpuluh pasang menuju kapal. Saya sendiripun masih berharap dapat tidur lagi di kapal karena mata masih sangat lengket dan tak bersahabat ketika diajak membuka. Hampir dua jam mengarungi laut menuju Gunung Anak Krakatau akhirnya tiba juga.

























video perjalanan



Beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil :

1. Saya pada dasarnya penyuka jalan-jalan sendiri atau dalam grup kecil (*4-5 orang)
2. Saya suka mempunyai banyak teman, namun bukan berarti saya dapat menikmati suasana dalam keramaian karena saya akan pusing sendiri.
3. Ketika menemani sejumlah orang untuk jalan-jalan atau dalam artian sebagai tourleader tertanam rasa ingin membuat para peserta merasakan kesenangan dan kepuasan. Akan sangat senang sekali ketika orang yang bersama saya dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan. Dapat dikatakan saya berhasil ketika mereka senang.
4. Ada kalanya saya tetap ingin jalan-jalan sendiri/ grup kecil ada kalanya saya juga dengan senang hati mengantar banyak orang untuk menikmati keindahan INDONESIA tanpa merusaknya sedikitpun :D

** Jangan Kapok Berjalan-jalan Bersama Saya **

[ JOGJAKARTA ] Bukit- bukit Suroloyo

Dalam suatu perjalanan menuju puncak tertinggi di pulau Jawa saya masih penasaran dengan yang namanya bukit Suroloyo. Bukit dengan di selimuti kabut mistis nan magis seolah melindungi kemegahan sang candi Borobudur. Bukit yang tidak terlalu tinggi namun berhawa dingin saat gelap ini menyimpan banyak kesakralan dan keindahan. Bermodal nekat dan memaksa sang tuan rumah saudara Ghani untuk mengunjungi tempat ini. Terletak di sebelah barat kota godean tepatnya sudah memasuki kawasan Kulonprogo, kira- kira dengan motor agak fast and furious mengendarainya kami mampu melahapnya dalam 1jam. Dengan jalur semi pegunungan meliuk- liuk kekanan kadang kekiri dan naik turun layaknya tarian gemulai seorang gadis gemuk membuat kami harus ekstra hati-hati dalam bermanuver. Sekiranya hari mulai meredup kami baru lah sampai di penghujung jalur liak-liuk. Tak ada sesuatu yang spesial ketika kami tiba, rasa sedikit kecewa sudah tumbuh sebelum kami memanjat ratusan anak tangga itu. Tapi apakah akan sia-sia ketika kami sudah sampai namun malah langsung putar arah dan pulang???tidak. Kami tetap menaiki bukit sesuai rencana awal dan hanya sekedar have fun tanpa berekspektasi berlebih. Konon katanya melihat di foto dan cerita orang dari atas inilah kami mampu melihat kemegahan candi Borobudur dari atas. Candi yang megah dengan di pagari oleh kabut dan pepohonan raksasa seolah aura gaib yang kuat telah bersemayam di dalamnya.

kemegahan kabut Suroloyo




Jika terlihat maka konon kata seorang teman Candi Borobudur ada di pojok bawah kanan dalam foto di atas. Namun apa daya mata kami saja tak mampu menembus awan bercampur kabuttebal itu, apalagi mata kamera yang ciptaan manusia. Hari semakin gelap dan tak ada lagi yang dapat di nikmati maka kami segera turun dan pulang ke rumah Ghani untuk segera bersiap menuju stasiun Lempuyangan karena jadwal kereta ke Malang pukul 22:00 WIB. Kembali kami di hadapkan pada jalan sexy berliukliak bak penari memamerkan gemuk gemulai tubuhnya namun tak terlihat lagi tubuh sexynya karena jalanan itu gelap. Bermodal GPS dan lampu sedikit meremang kami susuri jalur yang berbeda. Tak lama bermanuver liak-liuk kami sudah tiba di jalan raya Godean- Kulonprogo. Sekiranya setengah jam di jalan raya kami sudah mendekati rumah Ghani. Begitulah ekspedisi singkat mengarungi lautan kabut kelam menuju pucuk Suroloyo.

berikut beberapa foto yang lain yang dapat saya tangkap selagi sempat.

my brother capture the sunset

tree front of sunset

















































film of Suroloyo


Selasa, 25 Juni 2013

[ MALANG ] Misteri Kabut Semeru

Jogja 14 juni 2013 pukul 10.00 pagi tiba di terminal Jombor, suasana tak begitu ramai namun juga tak sunyi sepi hanya kendaraan beberapa yang berlalu lalang lewat di depan pandanganku. Sebuah bus mikro berwarna hijau bertuliskan trans Jogja mengantarkan dari terminal Jombor menuju Malioboro. Saya dan adek saya menemui kakak sepupu yusuf namanya serta ghani teman lama di kampus, janjian bertemu di depan DPRD Prov. Terpikir untuk memesan tiket kereta perjalanan ke Malang di stasiun Lempuyangan. Berakhir dengan mendapat 4 tiket kereta malioboro expres menuju malang. Pulang menuju rumah saudara Ghani untuk melengkapi logistik dan packing. Belum selesai packing sudah di goda oleh bisik- bisik tentang bukit diatas candi Borobudur. Pukul 15.xx kami sudah melesat menuju bukit- bukit diatas awan candi Borobudur. Selama 1jam perjalanan kami di hidangkan oleh hamparan luas persawahan hijau segar dan beberapa hutan rindang memayungi jalanan. Semakin dekat dengan tujuan jalanan juga semakin menantang, jalan sempit berliuk naik turun mampu memporakporandakan tulang belulang.


selesai menikmati kabut-kabut dan awan lebat penuh misteri di atas tanah Borobudur kami segera balik ke rumah ghani untuk packing dan berangkat menuju stasiun Lempuyangan. Dengan kereta malioboro expres selama 7 jam kami tiba di stasiun malang baru. Rampung shalat subuh tiba- tiba datang sopir angkot menawarkan jasa mengantarkan langsung ke pasar Tumpang. Setelah nego tanpa alot dan ribet sopir pun mengiyakan tawaran kami dan segera tanpa babibu kami sudah sampai di pasar Tumpang. Menunggu sebentar sambil sarapan mengisi perut yang sudah merindukan nasi kami berombongan di berangkatkan dengan truck terbuka menuju Ranupane. 


Beres dengan perijinan dan tetk bengeknya, dan ternyata memang solotreking tidak di perbolehkan. The real of pendakian kami mulai pada 11.30 WIB dari Ranupane dengan jalan beraspal sekita 500m. Seusai melintasi perkebunan kentang dan kubis kami di hadapkan oleh jalur berpaving muat untuk satu orang hingga pos 1. Perjalanan dari basecamp Ranupane menuju pos 1 masih biasa saja dan di tempuh dengan lama 1,5jam. Selesai istirahat makan siang dan ibadah perjalanan pun harus di lanjutkan agar tidak terlalu malam sampai di Ranukumbolo. Tak lama pun kami sudah tiba di pos 2 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Kabut- kabut penuh misteri datang menghampiri kami ketika mulai meninggalkan pos 2 hingga Ranukumbolo. Jalanan setapak hampir tenggelam oleh rerumputan pun makin lenyap oleh kehadiran kabut-kabut tipis terjalin rapi. Sempat menyingkir sebentar itu kabut- kabut penuh misteri dari atas air Ranukumbolo namun tak beberapa saat saya mengeluarkan kamera merak turun dengan jumlah kawan yang lebih. Nafsu memotret langsung menurun dan segera meninggalkan saja itu genangan air abadi di Ranukumbolo.



To Be Continue...

mari melanjutkan cerita yang sudah menanti :D

memasuki zona waktu senja dan petang saya mencoba mengayuhkan kaki cepat- cepat agar tidak terlalu malam tiba di kalimati. Menaiki tanjakan cinta yang konon ceritanya siapa yang mampu menanjak tanpa melihat kebelakang maka gadis yang di pikirkannya akan menjadi jodohnya. Berpapasan dengan seorang gadis berkerudung ungu muda bahkan lebih cantik dari "Arinda" membuat saya tidak konsen dalam menanjak dan akhirnya lupa ternyata saya sudah menengok ke belakang.  Berakhir dengan tanjakan cinta saya berhadapan dengan turunan menjelang oro-oro ombo yang lumayan curam dan membuat dengkul bekerja ekstra. Kabut tebal semakin menggelapkan jalan setapak menuju cemoro kandang pos setelah oro-oro ombo. Berselimutkan kabut- kabut rumput raksasa berwarna ungu itupun semakin terlihat mistis dan menyeramkan. Berbeda ketika tanah seluas kira-kira 2 hektar ini pada terang hari yang indah berwarna ungu cerah begitu membuat mata terpenganga. Selesai meninggalkan lautan rumput raksasa berwarna ungu kami di sambut oleh pohon- pohon cemara raksasa di kandangkan dalam kerangkeng alam raksasa. Pukul 18:00 WIB kami memasuki kawasan pohon cemara raksasa ini, istirahat beberapa menit kemudian kami melanjutkan ke pos berikutnya yaitu Jambangan.


Beratapkan daun- daun pohon cemara sesekali bocor tersinari oleh rembulan yang membuat malam semakin terasa dingin. Tak cuma rembulan yang menemani suara desah angin berkabut tipis serta nyanyian bintang membuat semakin mantap. Naek- naek menyusuri jalanan setapak dengan sorotan dalam genggaman dan sesekali jalanan turun terjal dan curam membuat harus ekstra hati-hati. Tak perlau terlalu lama beristirahat karena sudah malam maka akan semakin dingin ketika terlalu lama berdiam diri. Lanjutkan saja langkah yang tersisa dan akhirnya tak lama pada pukul 19.xxWIB kami sudah menginjakkan kaki di pos Jambangan.

Jambangan dalam benak saya adalah kubangan air yang luas atau saya kira jamban besar ternyata adalah sebuah halaman luas di tengah hutan gunung. Dengan jalan yang landai dan lega membuat perjalanan dari jambangan menuju kalimatai lebih cepat. Namun sebelum gerbang masuk hamparan luas Kalimati kami di hadapkan oleh jalanan menurun beberapa kali dan curam. satu turunan kemudian pengkolan dan sedikit naik kemudian kembali turun dan membelok lagi dan turun dua kali dan kami sampailah di pos Kalimati.

pukul 20:00 kami sudah berisik mendirikan tenda sedangkan samping kanan kiri dan depan belakang sudah pada tidur bersiap untuk pendakian puncak pada dini harinya. Selesai kami mendirikan tenda di susul memasak air panas untuk membuat sereal sebagai pengisi perut sementara. Capek perut lapar dan ngantuk sudah beradu akhirnya tidur tak terhindarkan. 22:00 hingga pukul 01:00 dini hari sepertinya belum cukup untuk menggantikan longtravel dari ranupane selama 8 jam dan mempersiapkan tenaga untuk pendakian menuju puncak 3676mdpl. Namun apa boleh di kata jika waktu sudah berdetak maka kami tak dapat menghentikannya dan kaki pun mulai bergoyang maju untuk menuju 3676mdpl. Bersama 4 orang dari tenda sebelah kami menyusuri jalanan setapak bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya yang melintas. Tak terasa di bawah pohon yang tinggi dan rindang selama 2 jam kami sudah sampai di Arcopodo *namun tidak ada arca di sini. Bertemu dua tenda lumayan besar dan kiranya muat untuk 10 orang di Arcopodo. Tenda yang sengaja di dirikan di sini adalah untuk mengantisipasi pendaki yang tak mampu melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tak lama mendengar mas penunggu tenda dengan badan tinggi kekar dan tegap ini mengungkapkan bahwa di dalam ada 3 wanita yang tak kuasa melanjutkan melahap ganasnya medan menuju 3676mdpl. Setelah cukup beristirahat dan mendengar cerita kami bertiga pun siap untuk melahap ganasnya gundukan pasir raksasa, angin bertiup dingin, dan pekatnya gelap malam. Tak jauh dari Arcopo kira- setengah jam perjalanan kami bertemu dua orang yang sudah lemas tak mampu melanjutkan ke puncak, mereka bilang sudah tidak tahan dengan dinginnya dan kaki semakin lemas. Setengah jam dari tempat kami bertemu dua orang lemas itulah di sebut cemoro tunggal atau batas vegetasi terakhir. Istirahat sejenak mengumpulkan tenaga karena melihat keatas kami tau bahwa jalur sangat curam. Sekiranya cukup memulihkan tenaga maka semangat membara sudah mampu membakar dingin angin mahameru.

Start dengan modal semangat membara pada 06:00 dari batas terakhir vegetasi. Perlahan ayunan kaki 10-20 meter masih belum terasa bahkan dengkul kiri yang sudah cidera pun belum "mbengok" minta berhenti. Seperempat jalur perjalanan menukik tajam keatas sudah kami tempuh namun puncak belum juga terlihat jelas. Masih dengan semangat yang mulai meredup karena bertemu banyak orang yang menyerah memilih kembali turun karena alasan dingin lemas dan tanjakan tak habis-habis katanya. Dalam hati cuma terus berkata "AKU MAMPU" sambil mengayunkan kaki dan tripod yang kira-kira beratnya 2 kg. Kalau di ingat ya rata-rata kecepatan perjalanan adalah 10kali melangkah 5 menit berhenti *kapan sampainya yah???. Baru 1/3 perjalanan menuju puncak hati semakin redup antara turun atau naik hahahaha, namun semangat dalam jiwa tetap membakar agar tetap naik meskipun lama. Dua jam lebih sudah waktu yang kami habiskan namun ternyata kami belum juga dapat setengah perjalanan. Tanjakan pasir yang terjal dan curam memang membuat berat pendakian. Bekas pijakan orang dan beberapa jalur yang pasirnya padat sangat membantu karena pijakan tidak longsor jadinya istilah naik 1 turun 1/2 tidak berlaku. Sunrise yang sudah meninggi dan berubah menjadi terik tak saya hiraukan karena sudah mustahil buat saya menikmati sunrise di atas puncak Mahameru. Setidaknya saya cukup menikmati sedikit semburat merah di tengah jalur antara cemoro tunggal dan puncak. Sejam lagi waktu yang kami lahap ternyata puncak sudah semakin jelas terlihat, kira- kira 100 langkah lagi saya sampai. Semakin dekat dengan puncak jalur agak- agak melandai sedikit jadi lumayan untuk menaikkan speed. Pukul 10:00 akhirnya kaki mendarat di puncak Mahameru 3676mdpl dengan keluhan dengkul kiri positip cidera dan jari jari kaki bengkak.

reality vs expectation

im in the java highest land

i love Boyolali

Sorry i have no good view in the peak, so my selfportrait im put on this.

 Oke lanjut setelah tidak lama di puncak karena semakin siang racun yang keluar dari letusan asap belerang semakin kuat maka pendaki dilarang berlama-lama di puncak. Sekiranya cukup 20 menitan kami bertiga segera turun saja mencari selamat daripada anu terjadi hal hal yang tidak anu.

Perjalanan turun dari puncak menuju batas vegetasi jauh lebih cepat daripada waktu naiknya, kira tidak ada satu jam ya kurang lebih 45-50 menit kami sudah ready to go lagi di Cemoro tunggal. Dari Cemoro tunggal harapan pertama yang ingin segera sampai adalah Arcopodo, dengan dengkul yang sudah cidera waktu tempuh menuju Arcopodo hampir sejam sama dengan waktu naik padahal jalur menurun namun karena dengkul sudah tak ada daya apa boleh di paksa.
 Turun dari  Arcopodo dengan dengkul yang semakin melemah dengan medan menurun tanpa bonus jalur landai hingga gerbang pohon dapat di tempuh selama hampir 2 jam. Beruntunglah saya dan Mas Yusuf yang datang setelah Ghani tiba di kalimati dan menyiapkan apel segar di susul oleh mie rebus panas nikmat. Pukul 14:00, Kalimati tempat kami ngecamp selama 3 jam sebelum summit attack menjadi saksi bisu segala kejadian yang menjadi kenangan nantinya. Cukup 1 jam istirahat kemudian packing total dan bersiap meninggalkan Kalimati menuju Ranukumbolo untuk menginap malam kedua.

Start dari Kalimati sudah menjelang petang kiranya pukul 16:30 kami meninggalkannya. Sedikit terseyok langkah kaki saya tapi perjalanan tetap harus berlanjut. Pos pertama yang sangat kami harapkan segera terlihat adalah Jambangan. Well done tak ada satu jam kami sudah merehatkan badan sejenak di pos Jambangan.Tak berhenti lama kami di pos Jambangan karena matahari sudah meninggalkan maka tak ada waktu untuk terlalu bersantai. Berharap segera bertemu dengan si kandang cemara raksasa lagi. Jika di kira-kira adalah hampir sejam kami menapaki jalanan kecil penuh kegelapan, senterpun sudah mulai meredup. Menghela nafas panjang di atas tubuh cemara yang telah tumbang dan telentang. Semakin gelap malam semakin sedikit pula pasokan oksigen maka dari itu kami memilih lebih santai sambil menikmati setetes air segar. Limabelas menit tak terasa sudah kami habiskan selain udara dingin semakin merasuk ke dalam kulit dan tulang rasa capek kami juga ingin segera di istirahatkan. Menyibak padang rumput ungu perdu yang telah terbelah bagaikan tergilah oleh roda-roda. Jalanan mendatar dan panjangpun tak terasa cuma 30 menit kami lahap, namun di depan sudah menanti tanjakan terjal serta turunan tanjakan cinta. Oh my God dengkul yang sudah cidera harus di hajar lagi... meskipun carier segede kulkas sudah di bantu di bawakan adek saya namun dengkul ini rupanya sudah tak mampu menopang tubuhku sendiri. Perlahan terseret-seret akhirnya yang harusnya dengan lari cuma 15 menit dapat tiba di Ranukumbolo menjadi 30menit lebih karena harus meraba jalanan yang curam, sekenanya salah menapak dan terpeleset bisa fatal buat dengkul.

Ranukumbolo pada malam kedua di sinilah kami mendirikan tenda kemudian segera istirahat. Harapan dengkul sembuh di pagi harinya ternyata belum terkabul, namun perjalanan tetap harus di selesaikan. Masak seadanya dan makan kemudian bersih-bersih badan serta diakhiri fotofun bersama.


 Setengah Sebelas Siang mungkin lebih beberapa detik kami meninggalkan tempat yang akan menjadi saksi sekaligus sejarah besar. Ranu Kumbolo pada ketinggian 2300mdpl dengan hamparan danau air tawarnya yang begitu segar terus akan tersimpan dalam ingatan. Tak lama kami berjalan sudah sampailah di pos 4 dan disambut oleh gerimis serta kabut tebal menuruni bukit. Sejenak kami berhenti sambil melepaskan canda tawa di tengah dingin dan gelap kabut putih kehitaman. Terdengar bunyi crek crek shutter dari kamera mengiringi gelak canda tawa kami. Entah sepertinya sudah 15 menit kami berhenti dan dingin makin terasa memang sebaiknya kami segera melanjutkan perjalanan. Pukul 11.00 sekiranya lebih beberapa menit kami sudah meninggalkan pos 4 dan menuju pos 3. Jalanan becek bekas hujan sedari pagi membuat langkah agak melambat karena harus hati- hati agar tidak terpeleset. Masih banyak pula kami temui di sepanjang perjalanan menurun para pendaki. Saling sapa dan aruh sepertinya tidak perlu mengenal terlebih dahulu karena di gunung kita semua saudara. Jalanan mulai menurun agak curam dan perlu ekstra hati - hati, rupanya kami sudah sangat dekat dengan pos 3. Di pos 3 kami disambut oleh pendaki yang akan naik dan salah satu porternya. Porter ini tugasnya adalah membawakan beberapa barang yang tidak terbawa oleh pendaki sehingga meringankan beban pendaki. Biasanya porter ini mendapat imbalan jasa 150.000 perhari. Dalam satu bulan rata- rata porter mampu membawakan barang pendaki sebanyak 4-5 kali pendakian.

Sambil ngobrol dengan porter dan 3 pendaki dengan kamera D90nya itu kami sembari menghabiskan sisa apel yang mampu mengganjal perut lapar. Sudah tidak ada sisa makanan bagi kami selain apel dan mangga muda. Air yang akan menggantikan makanan ketika apel dan mangga pun habis. Lanjut langkah kaki mengayun hingga pos 2 pada pukul setengah dua kami baru sampai dan seperti di pos 4 dan 3 yaitu beristirahat sejenak. Karena lapar dan sisa makanan kami adalah mangga muda maka apa boleh buat kecut manis kecut pun kami sikat. 15- 20 menit waktu yang cukup lama untuk kami berleha-leha sedangkan senja sudah menanti kami di ujung gerbang pintu semeru. Tanpa mengingat capek kami terus menggenjot tenaga kami hingga tiba di pos satu dan di sambut oleh rombongan pendaki yang akan naik juga. Masih sekitar pukul 3 sore lebih beberapa menit akhirnya kami menginjakkan kaki di pos 1 dan kabar baiknya pos satu maka sudah dekat dengan basecamp ranupani. Ternyata lumayan lama kami di pos satu hingga hampir satu jam kami istirahat. Pukul 15.40 lebih beberapa detik kami baru mulai melanjutkan perjalanan menuju ranupani. Tak seperti perkiraan yang kami bayangkan bahwa perjalanan akan lama ternyata pukul 16.30 sekian detik kami sudah di gerbang pintu penyambutan semeru. Dan kami telah selesai menyelesaikan misi kami menaklukhkan puncak Mahameru.

Namun sedikit cerita seru kami masih belum selesai, dimulai ketika sampai ranupani sudah menjelang magrib kami sudah belingsatan bingung mau naik apa kalau truck ke Tumpang sudah tidak ada. Beres repacking dan sekedar membasahi kerongkongan kami berempat berjalan menuju lapangan dimana yang di gunakan sebagai tempat parkir truck dan jeep. Alhamdulillah masih ada beberapa truck yang akan mengangkut pendaki turun gunung. Kami masuk ke antrian truck ke dua, jadi ya sabar menunggu beberapa puluh menit menunggu jeep yang sudah parkir di depan berjalan. Perjalanan senja menuju Tumpang akhirnya di mulai dengan hiasan langit memerah seolah matahari membakar awan awan putih. tak sampai 2 jam kami sudah tiba di Tumpang di sambut keramaian pasar Tumpang dengan segala hiruk pikuk dan hiburannya. Karena perut sudah sangat lapar kami makan nasi pecel ayam goreng terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali ke jogja. Selesai makan kami segera mencari angkot untuk menuju terminal arjosari, namun apa boleh kata kalau rupanya penumpang menuju Arjosari sudah tidak ada dan para pendaki pun sudah bersih dari jalanan pasar Tumpang. Menunggu hingga pukul 23:00 kami masih di tempat ngetem angkot berharap ada pendaki yang tersisa agar bisa diajak share cost menuju terminal Arjosari. Akhirnya saya menyerah dan bertanya kalau kami berempat saja yang berangkat ke terminal Arjosari berapa biayanya? "150 ribu dek jawab supirnya". Turun gunung duit menipis tidak cukup kalau memaksa dengan harga segitu sampai ke Arjosari, akhirnya saya menelpon Pak Supri ( 0812 4908 1890 ) supir angkot trayek St. Malang - Termn. Arjosari untuk di jemput dan diantarkan ke Terminal Arjosari. Karena kasian akhirnya pak Supri memberikan harga 60 untuk kami berempat sampai di terminal arjosari. Setibanya di terminal Arjosari kami langsung disarankan naik Engkel menuju bungur asih karena bus Arjosari - Bungur asih sudah berangkat terakhir jam 23:00. Setelah terombang ambing di Tumpang berjam- jam dan mendapat hiburan dangdut koplo super kenceng di Engkel Arjosari- Bungur asih di Terminal Bungur asih kami di hadapkan oleh calo- calo serta preman terminal. Karena saya beberapa kali sudah pernah ke Terminal ini saya tau apa yang harus saya lakukan, cukup mereka bertiga saya suruh diam dan saya yang menjawab para Calo dan Preman. Berharap mendapat tumpangan bus Mira malam itu, namun apa boleh di buat jika ternyata 3 urutan parkir terdepan yang terlihat adalah bus Sumber Group *Nama baru bus Sumber Kencono.

foto diambil dari mbah GOOGLE * http://1.bp.blogspot.com

Yasudah lah jika kami harus naik Sumber Kencono, Bismillah banyak berdoa agar dalam perjalanan Surabaya- Jogja ini kami selamat sampai tujuan. Partner saya bertiga Ghani, Ahsin, Yusuf masih tidak percaya bahwa kami naik Bus Sumber Kencono. Saya sendiri juga masih merinding jika mengingat reputasi Bus ini sering terjadi laka- lantas. Dengan predikat bus yang merajai jalanan Surabaya- Jogja ini membuat pengendara lainnya harus berhati- hati dan mengalah jika masih ingin selamat. Bus berjalan sejam pertama masih belum terasa adrenalin dan pemacu senam jantungnya, karena rupanya masih sambil mencari penumpang di sekitar Surabaya. Namun setelah lepas dari terminal Madiun bus sudah mulai pencet klakson dan sein nyala kanan. Saya yang sudah tertidur pun terbangun karena sempat terjadi rem mendadak dan mengagetkan beberapa penumpang yang sadar. Madiun - Sragen bus sudah tidak lagi bersahabat hantam kanan banting kiri sepertinya sudah menjadi mainan bagi supir. Tiba di perbatasan Sragen - Ngawi saya di sambut oleh padang sawah dan belantara kebun di selimuti kabut sepertinya sangat terasa dingin di luar. Namun lamunan sesaat buyar karena suara klakson sangat kencang dari bus dari arah berlawanan kami memaksa bus yang kami tumpangi mengalah dan membanting setir ke kiri. Mulai matahari memburatkan cahayanya di langit Sragen hingga Kartasura membuat bus semakin terkendali karena kondisi jalan yang macet. Kemacetan kembali kami temui di jalur Klaten - Jogja mebuat bus benar- benar merayap tak berkutik bagaikan Singa di copot taringnya. Sampai di gerbang masuk Jogja kami disuruh bersiap agar duduk didepan supaya lebih mudah turun dari bus. Sambil menunggu sampai di halte bus TransJogja terdekat saya sempet ngobrol dengan supir dan kernet, katanya 5 tahun yang lalu ketika masih menggunakan bus lama mereka bisa menempuh perjalanan Surabaya- Jogja cuma 5 jam. Kini karena faktor macet dan bus yang tidak bisa diajak ngebut mereka rekor tercepat adalah 7 jam perjalanan Surabaya- Jogja.
Semoga Supir Sumber Kencono mulai tobat dan mengutamakan Keselamatan Penumpang :D

foto diambil dari lensaindonesia.com


cerita di balik semuanya dalam gambar bergerak



Kamis, 24 Januari 2013

7 SUMMIT of INDONESIA Versi Fathur

kali ini saya akan mengulas atau menulis tentang pencapaian puncak 7 gunung di indonesia. Mulai yang mudah sampai yang susah untuk mencapainya. & gunung versi saya itu adalah Bromo, Gede, Cikuray, Papandayan, Merapi, krakatau, dan Rinjani. Sebenernya 7 gunung itu belum mewakili 7 SUMMITnya indonesia. seharusnya gunung semeru, agung, rinjani, cartenz, kerinci, tambora, Merapi. Karena ini versi saya jadi ya gak masalah juga. langsung saja menuju ke gunungnya aja deh.

1. Gunung Bromo
Gunung bromo adalah termasuk gunung yang dijadikan wisata sehingga akses maupun fasilitas penunjang sudah memadai. Gunung yang dapat di tempuh melalui probolinggo atau malang ini tidak membutuhkan pendakian yang benar benar serius. Dengan badan fit dan jaket tebal serta beberapa cemilan serta minuman pun sudah dapat mendaki hingga bibir kawah. Meskipun tantangan adrenalin yang kecil untuk mendaki gunung ini namun pesona pemandangan yang indah sangat memanjakan mata para penikmatnya. Sunrise, padang savana, serta lautan pasir menjadi sajian khas gunung bromo ini.























2. Gunung Gede
Taman Nasional Gede Pangrango yang mengelola dua puncak gunung di kawasan cibodas ini memberikan tawaran keindahan alam gunung gede dan pangrango. Lokasinya yang mudah di jangkau dari jakarta, Bogor, Sukabumi, Bandung dan daerah terdekat dengan Bogor membuat gunung ini ramai pendaki setiap harinya. Pendakian gunung gede ini konon katanya cocok untuk pemula yang ingin naik gunung. Jalur pendakian yang biasa dan cocok di tempuh oleh pemula adalah jalur cibodas, dengan model jalur yang landai namun panjang serta di suguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Ketika tiba di puncak gede maka akan terlihat puncak pangrango yang begitu gagah dan kuat.
























3. Gunung Cikuray
Agak meningkat sedikit tingkat terjal jalur pendakian jika di bandingkan dengan gunung gede. Gunung cikuray ini terletak di garut jawa barat mudah di tempuh dari jakarta, bogor, bandung, dan tasikmalaya. Jalur pendakian yang tak mengenal ampun gunung ini memang diakui banyak orang menguras tenaga baik naik maupun turunnya. Ya jalur terjal dari bawah hingga atas tak ada bonus landai satupun serta tak adanya mata air membuat pendaki harus membawa air sebanyak banyaknya dari bawah. Jika beruntung maka pesona sunrise akan sangat indah, warna merah oranye berpadu dengan putih awan serta birunya langit pagi.























4. Gunung Papandayan
Masih di tanah garut gunung papandayan ini berbeda dengan gunung cikuray, jalur pendakian yang lebih landai membuat pendakian tidak seberat mendaki gunung cikuray. Kawah gunung yang terletak di jalur pendakian membuat kecoh bagi pendaki yang belum tau bahwa puncak gunung masih separuh perjalanan lagi dari kawah gunung. Gunung ini termasuk gunung yang kompleks, karena menyajikan padang savana dengan edelweis, puncak, air terjun mini, danau belerang, sungai mini, kawah, hutan mati, serta danau mati. Pendakian yang tak memakan banyak waktu di gunung Papandayan ini menarik perhatian orang orang untuk sekedar camping di padang savana edelweis. Dengan lama waktu tempuh cuma dua jam sudah dapat menikmati keindahan gunung ini.

























5. Gunung Merapi

Gunung Merapi terletak di boyolali, klaten dan Magelang yang masih dekat dengan rumah saya di Boyolali. Gunung ini juga merupakan gunung favorit bagi para pendaki, selain karena keindahannya juga karena jalur pendakian yang lumayan bikin ngos ngosan. Jalur terjal tanpa bonus di Merapi mirip dengan jalur di Cikuray cuma bedanya pada saat sampai puncak di Merapi terdapat kawah berapi yang masih aktif. Dengan lama pendakian 5 jam santai kata orang yang sering mendaki Merapi lebih enak jika di lakukan tiktok yaitu naik turun tanpa ngecamp. Sepertinya pendakian kedua saya nanti akan tiktok juga :D





























6. Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau ini seolah bukan seperti gunung karena letaknya yang di laut dan sebagian besar badan gunung terendam air laut maka pucuknya pun hanya terlihat seperti bukit yang tidak setinggi gunung di daratan. Karena lokasinya di tengah laut maka akses menuju gunung ini lebih sulit jika di bandingkan dengan gunung lainnya. Dahulu ibunya sang krakatau pernah menggelapkan seluruh daratan bumi karena letusannya yang sangat dasyat hingga sebagian besar badan gunung ikut meledak ke angkasa. Karena kharisma sang ibu yang begitu dasyat membuat gunung anak krakatau ini kini menjadi tempat tujuan favorit bagi para penikmat jalan jalan.
























7. Gunung Rinjani
Yang terakhir ini adalah gunung paling special buat saya, ya karena selain kecantikannya juga karena untuk menuju ke Rinjani membutuhkan persiapan yang tidak sederhana. Mulai dari persiapan fisik, dana, keciapan mental dan mata serta otak untuk siap menerima keindahan yang tak akan terlupakan. Gunung yang terletak di lombok ini memang memberikan pesona keindahan yang sungguh menawan. Dengan lama pendakian 4-5 hari membuat gunung ini tak bisa di lupakan begitu saja. Jalur pendakian yang begitu lengkap membuat mata terperana menikmatinya. Dimulai dengan jalur padang savana, perbukitan, kemudian lembah, sungai, danau, panjat tebing, dan hutan. Ketinggian 3726mdpl membuat puncak gunung ini tetap dingin meskipun hari sudah siang, serta tiupan angin yang kencang membuat udara semakin dingin. Pada musim kemarau lah pendakian yang membuahkan hasil manis pada gunung ini.







Selasa, 11 Desember 2012

[ BONDOWOSO ] Menghampiri Si Api Biru Kawah Ijen

Ini adalah sebuah cerita lanjutan perjalanan keliling jawa timur, cielah keliling jawa timur si ceritanya padahal baru secuil hahaha. Oke mari di mulai saja ceritanya, melanjutkan dari pantai tanjung papuma pada hari jumat seusai shalat jumat di masjid baitul muttaqin ambulu. Selesai shalt jumat saya segera bergegas dan berjalan menuju terminal ambulu yang katanya ada bus yang langsung menuju bondowoso. setelah berjalan sekiranya 5km saya sampai juga di terminal bondowoso dengan di lihatin orang di sepanjang perjalanan. Jalan kaki, ya karena tidak ada angkot yang menuju terminal ini. Begitu sampai terminal ambulu saya heran kok sepi ya terminalnya??? eh ada tukang cendol di pinggir jalan akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya, "mas ini terminal ambulu ya???kalo bus yang ke bondowoso ada ya mas dari sini???" dijawab oleh bapak yang sedang jajan es cendol bapak : "wah ndak ada mas kalo yang ke bondowoso, adanya ke arah surabaya. kalo mau ke ajung dulu mas nanti disana ada bus arah bondowoso. sini duduk dulu minum minum dulu nanti saya anter ke pangkalan taksi yang ke ajung". Dalam hati "waduh mati ni kalo naek taksi bakal kena mahal dah..." eh ternyata taksi yang dimaksud si bapak adalah angkot omprengan. Setelah diantar bapak yang mengaku aslinya dari Madura ini saya tiba di pangkalan taksi menuju ajung. Terima kasih banyak kepada bapak yang dari madura dengan motor thunder biru, saya berangkat menuju ajung dengan membayar tarif 10ribu. Belum lama berjalan taksinya hujan turun dengan deras, karena kondisi taksi memang sudah bapuk maka aer hujannya banyak yang masuk kedalam taksi. Hujan berlangsung dan tidak berhenti sampai saya turun angkot di Ajung. Di Ajung ternyata sudah tidak ada bis yang ke bondowoso sesuai saran ibu yang naik taksi bersama saya maka saya ikuti ibu ini ke Arjasa dengan menyambung lagi menggunakan len (* mungkin menulisnya line ) dengan membayar tarif 5ribu.
Alhamdulillah sesampainya di terminal arjasa jember hujan sudah reda. Dari terminal Arjasa jember saya naek bus sedang menuju situbondo, tadinya mau duduk di depan satu kursi sama mbak cantik ntah sapa namanya hahaha, eh tapi inget tas saya segede kulkas dua pintu tidak jadi deh. Di belakang agar si kulkas dapat tempat bersandar juga saya melintasi jalur arjasa menuju bondosowo dengan pemandangan di sekitar di dominasi hutan dan perkebunan. setelah 1 jam bus sampai di terminal bondowoso sebuah terminal kecil yang menghubungakan kota - kota kecil dengan kota besar surabaya. Pada awalnya saya mau turun dan berganti mobil yang menuju sempol, tapi kata petugas terminal sudah tidak ada mobil menuju sempol. Akhirnya saya naek kembali ke atas bus dan melanjutkan perjalanan sampai ke gardu ata bondowoso dengan tarif 7ribu. Sesampainya di gardu ata saya makan mie ayam dan sekaligus bertanya tanya apakah masih ada mobil menuju sempol. Hasil pencarian info mampu membuat saya bingung dan pasrah. Ya kenapa saya pasrah karena sudah tidak ada mobil menuju sempol mobil menuju sempol adalah terakhir jam 2an siang. Kemudian saran penjual mie ayam adalah dengan jasa ojek, setelah di tanyakan pun jasa ojek sampai paltuding adalah 150ribu "wanjerrr duit saya tinggal 200rebu ini mana cukup nantinya kalo buat naik ojek!!!" maka saya anggap bukan pilihan yang tepat. sepertinya saya akan menginap ngemper di sekitar gardu ata, namun ketika sedang ngobrol dengan tukang ojek saya lihat ada mobil elf biru yang melintas kencang spontan saya bertanya "pak apakah itu mobil ke sempol???", pak ojek menjawab : "oh iya mas itu mobilnya mari saya antar mengejarnya sapa tau masih ada kursi kosong". dengan diantar pak ojek saya mengejar mobil elf itu, dan sekitar 5km akhirnya kudapati juga mobil tersebut. setelah di klason dan meminta untuk berhenti mobilnya akhirnya berhenti juga, namun saya tidak menyangka setelah sudah naek di dalam ternyata mobilnya adalah mobil carteran warga telojek sepulang dari ziarah ke banyuwangi. Namun karena sopir dan penumpang baik hati saya di ijinkan menumpang sampai desa sempol. Selama dua jam perjalanan melewati hutan dan jalur yang berliuk liuk tak terbayang kalau tadi naik ojek pasti bakal serem banget dan dihantui oleh rampok rampok liar. Tak lama berhayal tentang rampok mobil berhenti di sebuah desa ya desa telojek dan semua penumpang sudah turun tinggal saya sendiri yang menuju desa sempol. Di sebuah rumah sederhana yang sebagian besar terbuat dari kayu saya dan sopir di persilahkan mampir dulu untuk meneguk kopi hitam dan beberapa batang rokok, namun sayangnya saya tidak merokok jadi saya tolak dengan halus tawaran bapak ahmad. Dengan sedikit pemahamana saya pun berusaha mencerna apa yang pak ahmad dan sopir bicarakan. Mereka sebagian besar berasal dari madura dan berasimilasi dengan warga asli desa telojek dan sempol. Karena saya tidak paham bahasa madura maka saya cuma bisa mengambil inti cerita ketika mereka mencampurnya dengan bahasa jawa, intinya mereka menceritakan anak- anaknya yang yang pandai bahasa inggris dan bahasa arab. Selain itu juga pak sopir sering bolak balik ke madura untukmenengok keluarga besarnya. Setelah saya selesai menumpang cas hape, buang air, shalat dan membersihkan muka serta tangan, begitu pula selesai juga urusan pak sopir dengan pak ahmad kamipun melanjutkan perjalanan ke desa sempol.

Dalam perjalanan pak sopir ahmad mukadzir bilang bahwa satu jam lagi paling cepat untuk sampai desa sempol. Dalam perjalanan pak kadzir banyak bercerita waktu remajanya, Dia menjadi sopir sudah sejak tahun 1995. Pertama kali pak kadzir jadi sopir adalah menjadi sopir truk penambang belerang. Namun setelah cukup modal untuk kredit mobil sendiri pak kadzir beralih profesi menjadi sopir taksi pada tahun 1998. Selain cerita tentang mobilnya yang baru sekali di repaint dan belum turun mesin pak kadzir juga menyarankan agar jangan berkendara motor menuju sempol pada malam hari karena di tengah hutan masih banyak rampok. Tak terasa sambil mendengarkan cerita pak kadzir kami sampai juga di desa sempol.

Karena mulai lapar saya sekalian makan di warung dan sekaligus mengorek info untuk menuju paltuding. Sambil makan saya tanya ke pada ibu penjual , saya : "bu, kalau ojek ke paltuding biasanya berapa ya bu?" ibu : "wes gak onok ojek le... sesok ae yo!!". Akhirnya saya lanjutkan makan dulu bersama seorang bapak dari banyuwangi yang sedang bakti sosial di puskesmas desa Sempol. Setelah beberapa suap nasi masuk kedalam mulut saya si ibu menghampiri dan bertanya :
"le koe arepe neng ngendi kok malam malam takok ojek paltuding??" ,
saya : "hehehe mau ke kawah ijen bu nonton api biru iku lo bu".

Trus saya melanjutkan makan dan si ibu malah ngomong dengan bahasa madura entah apa artinya saya tidak tau. Tapi karena si bapak yang didepan saya mengerti bahasa madura saya mendapat penerjemah dan arti kata - kata si ibu adalah : "mas jare ibu'e sampean besok ae ke paltuding, saiki nginep di rumah ibu'e. tapi tenang ae jare ibu'e gak usah bayar". Uhhhh jadi tersanjung si ibu baik banget sampai menawarkan nginep gratis segala, Tapi kan saya pengen melihat api biru, setelah si ibu melihatku tetap gelisah gara- gara ngotot pengen ke Paltuding malam itu juga akhirnya di telp lah seorang tukang ojek barang kali mau mengantar. Tak lama kemudian datang pak ojek yang menawarkan untuk mengantar ke paltuding. Saking baeknya si ibu sampai di bantuin nego ke tukang ojek biar lebih murah ke paltudingnya. Entah ngomong apa si ibu bilang "bla bla bla bla sewidek ewu totok paltuding yo.. bla bla bla " yang ku tangkep intinya si ibu nawar kalo sampai paltuding 60ribu mau gak?? trus bapak ojek bilang : "yowes gak opo ayok tak anterno". kalo siang katanya 50ribu ojek ke paltuding. pikirku beda sepuluh ribu malam malam gini yaudah lah saya setuju saja. Namun masih aja keusilan untuk nawar :
"pak 50ribu ae yo pak duite cekak iki aku pak..."
pak ojek : "wah gak wani aku mas 60 ribu iku wes murah".

Basa basi doank si hahaha yasudah ayok berangkat pakkk wes gak sabar iki aku pengen ndelok api biru...
 
api biru kawah ijen

Pukul 20:30 WIB saya berangkat menuju paltuding diawali dengan menyusuri desa kecil kemudian berganti hutan dan kami sempat melewati dua desa sebelum sampai paltuding, di desa terakhir pak ojek membeli bensin karena bensin dalam tengki tinggal sedikit. Karena semakin malam semakin dingin dan jalan semakin menanjak motor pak ojek sempat mengalami kendala yaitu ngadat dan mogok di tengah hutan yang sangat sepi. Namun setelah di genjot terus akhirnya motor kembali nyala dan jalan. Setibanya di paltuding keadaan sepi gelap gulita tanpa ada kehidupan. Saya segera menuju posko untuk melapor bahwa saya ingin mendaki gunung ijen untuk melihat api biru. Di pos penjagaan ada pak sutebi, kata pertama yang beliau ucapkan adalah "loh sampean gak kademen le??? kok gak pakai jaket", setelah itu di persilahkan masuk dan awalnya dilarang untuk naek sampai kawah. Karena kasihan melihat saya datang dari jauh akhirnya pak sutebi memberi tumpangan menginap sampai jam 2 malam sebelum naik ke kawah melihat api biru. Alhamdulillah dapat tumpangan menginap gratis dan bisa ngecas hape sama batere kamera. Setelah tidur dalam kedinginan tanpa jaket pada pukul 01:00 WIB saya mendengar ada suara jeep datang. Dua orang bule dan satu pemandu yang baru datang dari banyuwangi, bule tersebut dari ceko. Sesuai saran pak sutebi kepala petugas pos penjagaan di paltuding saya ikuti dua bule beserta pemandunya mas pendi. Pukul 02:00 saya mulai menapakkan kaki di jalur berpasir sedikit terjal gelap gulita. Tak lama kemudian jalur menjadi semakin terjal dan menanjak, namun dua bule dari ceko masih segar bugar menggeber laju langkah kaki mereka. Karena saya tak mau kalah maka saya paksakan untuk tetap mengikuti laju langkah kaki mereka. Setelah setengah jam perjalanan kira kira 1km sudah kami tempuh bule cewe bilang "wait wait give me a minute" detik berganti menit menit berganti puluh menit si bule cewe belum juga siap untuk melanjutkan perjalanan, karena mungkin mas pendi mengira akan lama saya di sarankan jalan duluan. Oke sepuluh menit sudah saya berhenti dan tubuh makin merasakan dinginnya udara malam saya segera melangkahkan kaki agar terjadi pembakaran untuk memanaskan tubuh. Ayunan langkah kaki mendentingkan alunan nada nada pasir yang bergesek di bawah sendalku. Gemuruh dari kawah yang sudah mulai terdengarpun seirama dengan nafasku yang memburu. Tak kuhiraukan pula nyanyian belalang dan jangkrik pada malam sunyi. Sejam berlalu perjalananku sudah tiba di pos penimbangan belerang hasil tambang. Bertanya kepada para penambang katanya untuk ke kawah masih sekitar 1,5 km lagi dengan waktu tempuh kira- kira 2 jam lagi paling lama. Tak lama setelah 30 menit saya sampai diatas puncak bukit dan melihat tarian bintang yang indah yang sayang untuk di lewatkan. Beratapkan bintang malam serta beralaskan lampu kota banyuwangi dan bondowoso benar seperti sedang di negri entah dimana.

taburan bintang di puncak bukit pegunungan ijen
























Diatas puncak bukit itu saya sebentar menikmati indahnya malam dan menghirup dingin udara bercampur sedikit belerang yang menandakan bahwa kawah dan api biru sudah dekat. Ya ternyata benar kata penambang belerang yang lewat tinggal menuruni jalur bebatuan terjal sejauh 1km lagi maka sampailah di sumber api biru. Dengan ku ikuti langkah para penambang yang sedang turun dengan hati hati ku injakkan kaki di bebatuan yang terjal nan rapuh akhirnya 30 menit sedah berlalu saya sampai di sumber api biru yang sangat indah namun mematikan itu. Berdasarkan info dari penambang bahwa kalau matahari sudah nampak maka tandanya petugas keamanan kawah ijen sudah berpatroli. "jam berapa le sekarang???" tanya seorang penambang, dan saya jawab : "jam 4 pagi pak", kata pak penambang bahwa saya harus naik paling lambat pukul 05:00 karena petugas patroli biasanya sampai di kawah pada pukul 06:00. 

api biru dari jauh
api biru dari dekat
Namun baru 15 menit saja saya sudah merasa hampir mati keracunan asap belerang yang sangat pekat dan kuat. Berbarengan dengan datangnya 3 bule dari polandia dan jerman saat itulah saya meninggalkan api biru. "too much smoke!!! this is no good no good!!!" teriak si bule dari jerman, "yes no good mister no good!!!lets go from here" sahut saya dengan keras juga. Segera saya meninggalkan area di selingi batuk terpingkal pingkal hingga sesak susah bernafas, ya memang salah saya sendiri saat itu lupa tidak membawa masker. pelan perlahan mulai menjauh dari sumber api dan asap belerang dengan menaiki jalur setapak berbatu terjal selama satu jam sampailah saya di bibir puncak kawah.



penambang belerang







penambang belerang
Sebelum sampai di puncak bibir kawah saya sempat mendapatkan foto para penambang yang sungguh luar biasa perkasa dengan beban 70-90 KG mereka terbiasa melalui jalur menanjak serta terjal. Semua itu dilakukan demi menghidupi diri dan keluarga mereka. Dan info yang saya dapat dari mas pendi ketika bareng menanjak menuju bibir kawah bahwa para penambang memiliki jantung yang berukuran lebih besar dari manusia normal lainnya, padahal di lakukan test medis mereka sehat secara medis namun ada perbedaan ukuran jantung bisa jadi di sebabkan aktifitas mereka yang begitu ekstrim. Bisa di bayangkan mereka bekerja menambang belerang sehari 24 jam dengan rata- rata istirahat 4 jam selama 24 jam, dan libur penuh pada hari jumat. jadi kalo di simpulkan para penambang ini bekerja 6 hari seminggu 20jam sehari. Selain bareng dengan mas pendi dan bule ceko saya juga barengn dengan pak budi beserta bulenya dari german dan polandia. Berdasaran cerita dari pak budi bahwa kawah ijen sudah terkenal sejak tahun 1975 di temukan oleh warga negara perancis dan di populerkan di eropa, makanya lebih banyak bule dari eropa yang sudah datang ke kawah ijen daripada bule dari asia dan indonesia. Kemudian barulah mulai di kenalkan ke asia sendiri pada tahun 1990an. Sedangkan nama ijen adalah diambil dari kata "ijen = sendiri", yang artinya pada zaman dahulu kawah ijen ini di temukan oleh seorang diri. Untuk terjadinya kawah ijen adalah dahulu sebelum terbentuk kawah adalah sebuah gunung aktif yang meletus dengan dahsyatnya sehingga terjadi cekungan yang sangat besar dan kemudian terisi oleh air hujan dan bercampur dengan belerang dari kawah gunung berapi tersebut. Seiring berjalannya waktu maka semakin besarlah luas kawah ijen di tambah pula dengan letusan letusan susulan berikutnya.

penambang belerang meninggalkan kawah



























Sesampainya di puncak bibir kawah saya masih bersama 3 bule dari polandia dan german. Sempat saya bertanya tentang perjalanan mereka, ya ternyata andieas yang berasal dari german bertemu dengan maciek dan pacar maciek di bali. Karena saya merasa enak ngobrol dengan andieas maka saya lebih banyak tau tentang andieas yang katanya setelah dari ijen mau ke surabaya kemudian jogja dan balik ke german. Sebelum say goodbye dengan andieas dan maciek saya beranikan diri untuk meminta alamat email, barang kali bisa berkomunikasi dan bertukar cerita tentang perjalanan.
Setelah menunggu pemandangan danau kawah ijen sampai jam 07:00 belum juga terlihat dari tertutup kabut akhirnya kami berempat memutuskan untuk turun. Perjalanan turun ternyata lebih cepat padahal sambil hunting foto dan berinteraksi dengan para penambang. setengah jam dari puncak bibir kawah saya dan 3 bule sudah sampai di pos penimbangan belerang. Kemudian setelah foto bersama sebagai kenang kenangan kami melanjutkan perjalanan turun dan bertemu dengan banyak orang yang baru saja datang dan naik untuk melihat kawah dari puncak bibir kawah. Tak lama berjalan akhirnya setelah 1,5 jam saya dan 3 bule sampai di paltuding. 
di puncak bibir kawah ijen
Kawah ijen tertutup kabut dan asap belerang
dari kanan : maciek, maciek girlfirend, andieas, fathur, penambang belerang
view selama menuruni pegunungan ijen
pemandangan selama menuruin pegunungan ijen di pagi hari
jalur pegunungan ijen
pepohonan hijau tertutup kabut
jalur pegunungan ijen
satu persatu penambang berjalan menuruni pegunungan ijen
Pak sutebi di pos paltuding
Setelah cukup bercakap cakap dengan pak sutebi bertanya tentang banyak hal di kawah ijen saya di sarankan untuk menumpang truk material sampai di erek-erek (jalur hutan menuju banyuwangi ) karena memang tidak ada ojek yang standby di paltuding. Menumpang truk material saya bisa turun di erek erek dengan gratis namun, ada namunnya. Ternyata dari erek erek ke desa terdekat sebelum licin masih sangat jauh kata orang yang sedang memperbaiki jalan jika di tempuh dengan ojek bisa 1 atau 1,5 jam dan 2 atau 3 jam sampai licin. Namun mau bagaimana lagi karena dompet tak memenuhi standar untuk menyewa jip yang sedang parkir di erek erek maka saya beranikan diri untuk jalan kaki semampunya menyusuri jalanan tengah hutan itu. 500 meter pertama jalur yang saya lewati masih ramai dengan lalu lalang orang yang sedang memperbaiki jalan. Ketika di tambah 500 meter lagi ternyata terakhir orang yang saya temui adalah ibu penjual dadakan di ujung perbaikan jalan, setelah itu hanya suara burung dan angin yang menggesekkan daun yang menemaniku. Tanpa terpikir adanya rampok atau hewan buas ataupun setan dedemit saya terus melangkahkan kaki agar tak terasa jauhnya perjalanan. Tak kusangka hampir 2 jam sudah berlalu dan kira kira perjalanan sudah sekitar 3km berbanding lurus dengan lemasnya kaki untuk melangkah. Entah hanya "krungu- krungunen" bahasa jawanya atau memang ada jip dari belakang saya dengar suara deru mesin mobil. Tanpa menoleh ternyata benar tiba tiba mobil jip sudah mendahuluiku dan sempat ku tengok ke arah kaca pintu mobil berharap pak sopir menawarkan tumpangan. Tapi harapan tinggal harapan mobil tetap melaju beberapa puluh meter kedepan. Beberapa kali berkedip mata saya melihat ntah sedang berhalusinasi atau nyata mobil jip yang lewat tadi berhenti sekitar 50 meter di depan saya. Dalam hati gembira tak terkira dan segera menghampiri ke kaca pintu depan dan bertanya "pak ate nengdi?? neng desa licin gak pak?? entuk numpang aku pak??", jawab sang pak sopir : "iyo le ayo munggah wae iki aku ate neng banyuwangi". Wahhh terima kasih banyak pak sopir sudah mau memberi tumpangan, betapa senang dan tak menyangka pertolongan Allah datang tak disangka sangka. Kaki yang sudah lemas akhirnya bisa di istirahatkan dan si kulkas dua pintu bisa di lepas dari punggung. Di dalam mobil saya banyak di ceritakan oleh pak didik yang saat itu sebagai sopir juga sebagai bos bisnis travel adventure are banyuwangi. Pak didik biasa mengantar para bule untuk melihat indahnya kawah ijen dan beberapa wisata lainnya di banyuwangi seperti pantai teluk ijo, pulau merah, pantai plengkung dan sebagainya. Tidak ada salahnya karena saya sudah diberi tumpangan dari erek erek sampai kota banyuwangi maka saya ikut promosikan travel adventure milik pak didik.

jalur via banyuwangi sedang di perbaiki







































































































































































































































jalur hutan menuju jambu sebelum licin



























Terima kasih banyak untuk pak didik dan semoga sukses dengan bisnis travel adventurenya. Sesampainya di banyuwangi saya di sarankan untuk ke terminal ketapang banyuwangi. Setelah dari terminal ketapang saya menuju situbondo dan berhenti di taman nasional baluran, tidak sesuai rencana awal yang tadinya akan ke pulau merah. Karena pulau merah masih jauh dari sentuhan pemerintah sebagai tempat wisata maka tidak ada kendaraan umum dan ojek pun tidak semua mau mengantar karena jalur yang jelek dan tak mudah. Lanjut menuju taman nasional baluran. Dari terminal ketapang saya naek bus selama satu jam perjalanan dengan membayar tarif Rp 7000.

sedikit video perjalanan



*Info penting :

1. jika ingin berkunjung ke kawah ijen sebaiknya pada musim kemarau karena api biru akan lebih besar dan indah.
2. Jika kamu seorang cewe maka saya dan warga sempol menyarankan jangan bepergian sendiri pada malam hari, pilihlah sampai di sempol siang hari. Atau kamu dapat memilih jalur banyuwangi tapi untuk 2 atau 3 bulan kedepan karena sekarang jalur sedang di perbaiki.
3. Jika kamu rombongan kamu bisa menyewa jip agar lebih nyaman dan tidak terasa mahal membayar sewanya, untuk no pak didik adalah sebagai berikut :
4. akses menuju kawah ijen dapat di tempuh melalui jalur bondowoso dan banyuwangi, saran saya jalur yang dekat adalah jalur banyuwangi namun lebih ekstrim dan terjal.
5. untuk rincian biaya :
a. bus dari surabaya menuju ambulu 26ribu + 14 ribu
b. angkot dari ambulu ke arjasa 10ribu + 5 ribu
c. bus dari arjasa menuju gardu ata 7ribu
d. taxi dari gardu adat menuju sempol 15ribu
e. ojek dari sempol ke paltuding 50-60 ribu
f. ada penginapan seadanya yang sekarang sudah ada di paltuding dan sedang di tambah lagi homestay di paltuding.
g. untuk transpotasi turun saya alhamdulillah dapat full gratis sampai banyuwangi jadi kurang tau harga tarifnya :D