Senin, 21 Oktober 2013

[ JAWA ] Borobudur - Setumbu - Sendang Biru - Goa Cina - Sidoarjo - ( INI INDONESIA )

Tak seperti biasanya saya membeli tiket kereta pergi beserta tiket pulangnya, kali ini nekat hanya membeli tiket pergi saja dan berharap ada transpotasi lain untuk kembali ke Jakarta. Pasar Senen dengan kereta Progo tujuan Jogja stasiun Lempuyangan. Seperti halnya yang sudah- sudah naik kereta memang seninya lebih sedikit bila di bandingkan dengan naik bis. Tidur dan sesekali ngobrol dengan teman, kali ini saya bersama teman baru saya dalam dunia perjalanan karena sebelumnya memang Rival belum pernah ikut saya ngetrip. Lebih banyak tidurnya dan perjalanan malam juga tak bisa sambil menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan kami.

Tiba di Jogja langsung mencari warung makan untuk sarapan dan sekedar bertanya dimana ada rental motor. Kenyang sarapan semangkuk soto kami di sarankan untuk menyewa motor di sebelah timur stasiun Lempuyangan yang katanya harga mahasiswa. Berjalan beberapa kilometer akhirnya kami dapatkan sebuah rental motor sederhana namun tak dapat melayani kami karena kami bukan mahasiswa, syarat utama menyewa motor adalah KTP dan KTM. Disarankan oleh pemilik rental agar menyewa ke daerah malioboro yang menyediakan rental motor untuk umum. Berbalik arah kembali berjalan menuju malioboro tak jauh namun juga tidak begitu dekat, 30 menit kami baru sampai malioboro yang masih sepi pengunjung.

Menyusuri gang- gang kecil kami sempat menemukan rental motor namun syaratnya lebih berat yaitu uang jaminan 2 juta serta KTP. Mencari lagi dan lagi masuk ke sela- sela gang rupanya ada juga yang lebih percaya kepada kami meskipun syaratnya agak- agak juga. Meninggalkan KTP saya serta KTP dan SIM A - SIM C Rival teman saya barulah kami di kasih sewa motor matic dengan harga Rp 80.000 per 24 jam. Melaju meninggalkan kota Jogja menuju Magelang dengan motor sewaan.




Senin, 14 Oktober 2013

[ BANTEN ] Ujung Kulon

Dua tahun lebih keinginan saya terpendam untuk dapat mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon ini. Dengar dari berbagai cerita, membaca dari berbagai media cetak, dan melihat foto dari berbagai media maya membuat saya benar- benar ingin mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon. Letaknya yang di poncot ujung barat pulau Jawa dan masih sangat jarang di kunjungi orang membuat perjalanan menuju kesana tidaklah mudah.

Kali ini saya tidak sendiri atau cuma bepergian dengan grup kecil namun saya ngikut Cak Hafiz & Cak Andi serta satu temen baru lagi yaitu bang Diky. Berangkat dari Plasa Semanggi sebagai meeting poin awal kami hari jumat pukul 21:00. Selesai absen peserta satu demi satu akhirnya lengkap juga dan kami siap berangkat menuju Ujung Kulon. pukul 22:00 dan sempat berhenti di rest area Tol Serang untuk sekedar melengkapi logistik. Selesai istirahat sejenak dan sekedar membeli minuman dingin kami segera melanjutkan perjalanan. Saya terbiasa memanfaatkan waktu perjalanan malam hari untuk tidur karena tidak ada juga yang dapat di nikmati sepanjang perjalanan. Selang beberapa jam perjalanan sekiranya sudah menunjukka pukul 03:xx WIB bus yang kami tumpangi sering melakukan rem mendadak dan banting setir kanan kiri, rupanya jalanan yang kami lalui mulai jelek dan naik turun. Mulai pukul 03:xx itulah saya tidak dapat menikmati tertidur pulas lagi. Tak beberapa lama pukul 04:00 WIB kami sudah tiba di desa Sumur, desa terakhir yang dapat di lalui kendaraan darat untuk menuju Ujung Kulon.



Jumat, 04 Oktober 2013

[ MALANG ] Jelajah Liar Mahameru & Bromo [ INI INDONESIA ]

Setelah beberapa kali terdapat hambatan- hambatan yang akan menggagalkan acara pendakian menuju Mahameru dan Bromo. Tibalah saatnya periksa kesehatan ke klinik untuk mendapatkan surat keterangan sehat. Semenjak 3 hari sebelum datang ke klinik saya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan Jantung. Ada saatnya denyut jantung sangat lemah memompa darah mengalir ke seluruh tubuh. Sepertinya karena kecapean setelah di gempur shift yang membabi buta dua minggu belakangan. Nut... nut... nut Tensimeter menekan lengan kiri saya. Pengukuran pertama saya masih rileks namun terjadi keanehan karena Tensimeter tidak menunjukkan angka yang signifikan bahkan terus turun serasa tak ada denyut di nadi kiri saya. hingga empat kali percobaan yang akhirnya saya benar- benar cemas jikalau memang saya sedang tidak fit. Namun apa yang terjadi dokter berbicara lain bahwa tekanan darah saya normal, saya pun pasrah apakah dokter berbicara jujur atau karena memang ingin memberikan izin naik gunung kepada kami. 

St. Pasar Senen



Jumat, 05 Juli 2013

[ JAKARTA ] Berpandangan Dengan Dia

Sebuah pengalaman yang sepertinya sudah biasa saja tentang berpandangan dengan seorang wanita. Bertepatan dengan perjalanan menuju Kampung Rambutan untuk meeting poin menuju trip Krakatau. Jumat 28 Juni 2013 saya berangkat dari Palbatu Tebet, Menuju dengan angkot biru jurusan Karet- Kampung Melayu dan tiba di halte Bus Transjakarta sudah menjelang Magrib. 

Ilustrasi Bus yang Saya Naikin

Oh tidak antrian lebih panjang daripada 2 kali saya datang sebelumnya. Bus Trans Jakarta pertama pun saya biarkan lewat begitu saja. Demi sebuah tempat duduk karena untuk menghemat tenaga maka bus kedua pun juga saya biarkan lewat begitu saja, namun tetap tenang karena di belakangnya masih ada 4 bus lagi. Dan mendarat kaki di bus ke 4, cukup penuh didalam bus namun saya berhasil mendapat tempat duduk. Dalam perjalanan menuju Kampung Rambutan tentunya bus berhenti di setiap halte. Entah darimanakah seorang gadis manis ini naek saya kurang faham betul. Sedikit ngantuk dan sesekali tertidur membuat saya tidak begitu menghiraukan sekeliling. Sekiranya di sekitar Pasar Induk saya baru sadar ada gadis yang berdiri di depan tempat duduk saya. Maaf karena saya juga capek maka tempat duduk pun tak saya bagi. Berdiri sambil sesekali dia melirik ke arah saya dan sekali-duakali kepergok oleh saya dia sedang melirik. Tak lama dia berdiri sampai di halte apa lupa namanya dia pun akhirnya dapat tempat duduk dan entah kebetulan atau apa dia duduk tepat di depan saya. Gadis manis bersahaja dan pemalu yang ternyata kalau di perhatikan semakin mirip Sulis penembang Ummi. 

Ilustrasi Gadis Manis mirip dengan Sulis

Masih belum bosan dia mencuri pandang kepadaku dan meskipun berkali-kali juga ketahuan. Pada akhirnya saya terkena semacam sirep dan berbalik menjadi saya memandangi matanya yang sesekali dia mengetahui dan seperti ingin- ingin tersenyum padaku tapi malu. Yasudah sudah terlanjur ini maka nikmati saja toh dia juga tidak risih berpandangan denganku. Hingga akhirnya halte terakhirpun tiba, yaitu halte Kampung Rambutan. Semua orang turun termasuk Dia dan Saya, turun dari bus pun saya masih mencari-cari apakah dia akan ke terminal dalam kota dan apakah malah dia adalah salah satu peserta trip krakatau lampion trip??? Oh saya terlalu berharap banyak kepada gadis manis yang mirip Sulis ini. Bayangan serta pandanganku hilang bersamaan seret langkahku meninggalkan halte bus Trans Jakarta itu.


Rabu, 03 Juli 2013

[ LAMPUNG ] Pendakian Anak Gunung Krakatau " LAGI "

Pada 9-11 September 2011 usai hari raya Idul Fitri adalah pertama kalinya saya mengikuti trip secara partai besar, karena sebelumnya saya selalu jalan-jalan dengan teman kuliah kira-kira 4-8 orang sekali jalan. Berangka dari bandung dan meeting poin di kampung rambutan. Diantara puluhan orang yang tidak saya kenal saya cuma bisa berdiam diri menunggu kapan trip di berangkatkan. Hingga akhirnya saya di panggil oleh dua orang yang juga datang sendiri untuk trip krakatau 9-11 September ini. Sesungguhnya saya kurang suka dengan trip skala besar karena selain akan ramai dan susah mendapat gambar saya juga merasa asing diantara orang-orang yang tidak saya kenal. Alhasil saya pun berasa jalan-jalan sendiri atau bersama 3/4 orang. Saat itu Ocin dan Agung lah orang yang saya kenal. Justru seusai trip dan pulang masing-masing saya dapat mengenal lebih banyak teman atau peserta trip kala itu. Enaknya trip skala besar adalah dapat menambah teman dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Bertemu dengan berbagai macam orang asing yang kadang menurut saya mereka unik dengan caranya masing- masing.
Dibawah ini adalah foto krakatau pada 11 September 2011

kata om rio ini adalah pegunungan alpen
























Sepulang dari Krakatau trip ini saya tidak tau harus kemana karena sampai di kampung rambutan sudah larut malam, namun karena kebaikan seroang Hafiz Darmawan saya di berikan tumpangan menginap sementara sampai keesokan harinya ketika terang. Tidak sampe tumpangan menginap saja namun paginya saya diantarkan dari Ciledug hingga kosan waktu itu masih di Bintaro.
#Terima kasih banyak untuk Cak Hafiz Darmawan.

Sepertinya cukup prakata dalam tulisan ini, selanjutnya maka akan saya tuliskan tentang pendakian Anak Gunung Krakatau yang kedua dan ketiga.
Pendakian kedua adalah ketika saya mendapat ajakan dari Cak Andi dan Cak Hafiz yang dulunya adalah tourleader saya. Membantu mengkoordinir dan dokumentasi menjadi tugas saya dalam pendakian kedua ini. Kali ini saya jalan- jalan bukan untuk sekedar menikmati namun saya juga bertanggung jawab bagaimana agar peserta minimal tidak kecewa dalam trip yang kami adakan.
Krakatau trip 1-2 Juni 2013 dengan jumlah peserta hampir 50 orang, dan saya tidak mampu mengenal kesemuanya. Seperti trip yang pernah saya ikuti yaitu spot pertama adalah fotofun di pulau sebuku kecil, ketika kami tiba cuacanya sedang kurang bersahabat karena agak sedikit mendung. Selesai foto-foto spot berikutnya adalah snorkling di Sebuku Besar, hemmm spot yang kurang menarik kala itu karena hampir semua karang di tutupi oleh lumut atau rumput saya kurang paham betul. Sebelum mendarat di pulau Sebesi kami mampir di Pulau umang-umang untuk berfoto ria kembali. Cuaca masih belum berubah langit keabu-abuan membuat foto kurang ceria dan cenderung sendu seperti menjelang hujan.
Sebuah Pulau besar dengan berdiri tegak menjulang gunung danau pak nahkoda menyebutnya menjadi penanda bahwa itu adalah Pulau Sebesi. Rumah- rumah berdiri di beberapa tepian pantai yang sengaja di sediakan sebagai homestay. Beberapa rumah hancur berantakan seperti sudah puluhan tahun ditinggalkan tergelatak di beberapa sudut jalan setapak. Berderet perkampungan warga pulau Sebesi di kaki gunung Danau seakan berlindung dari panas dan hujan di bawah Gunung. Beberapa rumah penduduk kami pergunakan sebagai homestay dan beberapa lagi homestay tepian pantai kami tinggali untuk tidur sementara. Berbeda dengan trip pertama kali saya yaitu sunset bukan lagi di pulau umang-umang namun mencoba spot yang baru yaitu Ujung seng, ujung barat pulau Sebesi. Sepertinya bagi beberapa orang spot ini kurang menarik karena matahari tidak dapat dinikmati ketika betul- betul tenggelam. Hmmm saya sendiri suka karena saat itu langit penghujung waktu senja justru sedang bergejolak merah merona membakar kabut- kabut.
ujung seng

Malam hariya kami habiskan waktu dengan barbeque dan belajar foto galaksi bintang. Seusai babeque dengan Cak Hafiz dan Uda Kurniawan kami membidikkan kamera ke langit guna mencari letak milky way, karena malam itu milkyway kurang begitu jelas terlihat oleh mata.

milkyway on Sebesi island

 Tanggal 2 Juni 2013 mata masih dalam keadaan susah di buka karena kantuk yang belum tertahan. Pukul 02.30 kami semua di bangunkan karena perjalanan harus segera di lanjutkan. Namun apa daya ketika salah satu kapal kami mengalami keruskan pada starternya maka kami harus rela menunggu hingga pukul 05:00.
Tiba di Anak Gunung Krakatau matahari sudah gagah menyambut kedatangan kami. Teriknya yang mulai meninggi mulai menghangatkan tubuh kami. Satu jam di puncak sepertinya kurang lama karena masih banyak peserta yang ingin bernarsis ria dari segala sudut dan penjuru Puncak Krakatau.

Krakatau 2 Juni 2013
























krakatau 1-2 Juni 2013

Ketiga kalinya saya belum bosan diajak oleh Cak Hafiz Darmawan mengunjungi Dangerous Place  ini. Tanggal 30 Juni - 2 Juli 2013 belum lama jika di tengok ke pendakian yang kedua. Dengan suasana yang berbeda dan peserta yang berbeda pula. Beberapa peserta saya sudah mengenalnya diantaranya teh Nenden, mbak Azizah, Cak ilham, dan Tengku Hary. Teh Nenden dan mbak Azizah adalah peserta waktu ke Kiluan, kemudian cak Ilham adalah peserta yang pernah ikut trip ke Pahawang. Ternyata Tengku Hary ini belum bosan juga datang ke Krakatau sampe akhirnya dia ikut lagi.

Oke perjalanan berawal dari kampung rambutan seperti biasanya, saya beserta 9 peserta yang lain menuju Merak untuk bertemu dengan Cak Hafiz Darmawan juga peserta trip yang lainnya. Sekitar 2.5 jam perjalanan menuju Merak saya habiskan untuk tidur dan apa yang terjadi??? Bangun-bangun saya kaget dan buru-buru turun alhasil topi kesayangan ketinggalan di bis dan yasudalah. Tiba di Merak tak lama menunggu membeli tiket kapal kami pun segera naik ke kapal fery untuk menyebrang ke Bakauheni. Sudah menjadi hal yang biasa atau bahkan harus jika ke Dermaga Canti dari Bakauheni itu menggunakan Angkot Kuning. Setibanya di Canti tanah basah dan becek habis hujan lebat sedari pagi. Peserta juga saya serta Cak Hafiz sarapan pagi sembari menunggu kapal yang akan menyebrangkan kami siap mengantar.

dermaga Canti setelah hujan

Tujuan pertama adalah Pulau Sebuku kecil, Karena air pasang dan ombak lumayan besar maka segera berpindah ke spot selanjutnya yaitu Spot snorkling di Sebuku besar. Seperti yang sudah sudah snorkling di sini tidak bagus dan ikannya tidak banyak. Namun apa yang terjadi ketika saya hendak naek ke kapal sambil mata mengarah ke bawah tampak terlihat anemon dengan ikan berwarna kuning putih hitam. Oh cantiknya apakah itu ikan jenis Nemo juga??? langsung saya samperin dan arahkan kamera jepret jepret dapatlah si cantik kemudian barulah naik ke kapal.

Mr Hafiz dengan peserta

exsahabatjalan with media traveller


Nemo jenis baru di P. Sebuku Besar

Lanjut saja ya biar tidak kelamaan berceritanya, sesungguhnya saya juga sudah capek menulis apalagi nanti kalian pembaca juga malas kalau terlalu banyak ocehannya :D. Istirahat sebentar di Pulau Sebesi seperti cerita di pendakian kedua hehehe. Kembali kepada konsep awal dahulu kala yaitu spot sunset adalah ke Pulau Umang-umang bukan lagi ke Ujung seng. Ternyata memang cuaca belum bersahabat dengan #exsahabatjalan. Langit mendung ombak besar serta angin sepoi-sepoi agak mengencang sedikit. Batuan hitam kayu rapuh tepian pantai dan hijau pucat dedaunan karena tidak mendapat cahaya matahari sedari pagi. Tak banyak yang dapat saya lakukan di spot Sunset Pulau Umang-umang ini.

mendung datang melanda

Tengku Hary melompat

Mas memet jump in to the sea

Berlanjut di malam hari yang awalnya cerah bermandikan bintang-bintang namun segera tertutup mendung kami habiskan dengan barbeque seperti tradisi yang sudah berjalan.
Bedanya trip Krakatau yang ketga ini adalah di selingi oleh penerbangan lampion maka di sebutlah Krakatau Lampion Trip. Peserta sepertinya antusias menunggu penerbangan lampion ini yang tadinya terlihat malas2an menunggu ikan bakarnya matang setelah berdiri dan menyalakan api genggaman mereka masing- masing mulai terdengar riuh canda mereka.

mereka bosan menunggu ikan bakar

Api dalam genggaman mereka

Selesai penerbangan Lampion kami semua harus istirahat karena kesokan harinya papa 03:00 dini hari harus sudah siap menghadapi perjalanan sesungguhnya. Mata yang terpejam perlahan terbuka menyambut dingin angin malam serta pantulan cahaya bulan. Berseret kaki tak cuma sepasang namun berpuluh pasang menuju kapal. Saya sendiripun masih berharap dapat tidur lagi di kapal karena mata masih sangat lengket dan tak bersahabat ketika diajak membuka. Hampir dua jam mengarungi laut menuju Gunung Anak Krakatau akhirnya tiba juga.

























video perjalanan



Beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil :

1. Saya pada dasarnya penyuka jalan-jalan sendiri atau dalam grup kecil (*4-5 orang)
2. Saya suka mempunyai banyak teman, namun bukan berarti saya dapat menikmati suasana dalam keramaian karena saya akan pusing sendiri.
3. Ketika menemani sejumlah orang untuk jalan-jalan atau dalam artian sebagai tourleader tertanam rasa ingin membuat para peserta merasakan kesenangan dan kepuasan. Akan sangat senang sekali ketika orang yang bersama saya dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan. Dapat dikatakan saya berhasil ketika mereka senang.
4. Ada kalanya saya tetap ingin jalan-jalan sendiri/ grup kecil ada kalanya saya juga dengan senang hati mengantar banyak orang untuk menikmati keindahan INDONESIA tanpa merusaknya sedikitpun :D

** Jangan Kapok Berjalan-jalan Bersama Saya **

[ JOGJAKARTA ] Bukit- bukit Suroloyo

Dalam suatu perjalanan menuju puncak tertinggi di pulau Jawa saya masih penasaran dengan yang namanya bukit Suroloyo. Bukit dengan di selimuti kabut mistis nan magis seolah melindungi kemegahan sang candi Borobudur. Bukit yang tidak terlalu tinggi namun berhawa dingin saat gelap ini menyimpan banyak kesakralan dan keindahan. Bermodal nekat dan memaksa sang tuan rumah saudara Ghani untuk mengunjungi tempat ini. Terletak di sebelah barat kota godean tepatnya sudah memasuki kawasan Kulonprogo, kira- kira dengan motor agak fast and furious mengendarainya kami mampu melahapnya dalam 1jam. Dengan jalur semi pegunungan meliuk- liuk kekanan kadang kekiri dan naik turun layaknya tarian gemulai seorang gadis gemuk membuat kami harus ekstra hati-hati dalam bermanuver. Sekiranya hari mulai meredup kami baru lah sampai di penghujung jalur liak-liuk. Tak ada sesuatu yang spesial ketika kami tiba, rasa sedikit kecewa sudah tumbuh sebelum kami memanjat ratusan anak tangga itu. Tapi apakah akan sia-sia ketika kami sudah sampai namun malah langsung putar arah dan pulang???tidak. Kami tetap menaiki bukit sesuai rencana awal dan hanya sekedar have fun tanpa berekspektasi berlebih. Konon katanya melihat di foto dan cerita orang dari atas inilah kami mampu melihat kemegahan candi Borobudur dari atas. Candi yang megah dengan di pagari oleh kabut dan pepohonan raksasa seolah aura gaib yang kuat telah bersemayam di dalamnya.

kemegahan kabut Suroloyo




Jika terlihat maka konon kata seorang teman Candi Borobudur ada di pojok bawah kanan dalam foto di atas. Namun apa daya mata kami saja tak mampu menembus awan bercampur kabuttebal itu, apalagi mata kamera yang ciptaan manusia. Hari semakin gelap dan tak ada lagi yang dapat di nikmati maka kami segera turun dan pulang ke rumah Ghani untuk segera bersiap menuju stasiun Lempuyangan karena jadwal kereta ke Malang pukul 22:00 WIB. Kembali kami di hadapkan pada jalan sexy berliukliak bak penari memamerkan gemuk gemulai tubuhnya namun tak terlihat lagi tubuh sexynya karena jalanan itu gelap. Bermodal GPS dan lampu sedikit meremang kami susuri jalur yang berbeda. Tak lama bermanuver liak-liuk kami sudah tiba di jalan raya Godean- Kulonprogo. Sekiranya setengah jam di jalan raya kami sudah mendekati rumah Ghani. Begitulah ekspedisi singkat mengarungi lautan kabut kelam menuju pucuk Suroloyo.

berikut beberapa foto yang lain yang dapat saya tangkap selagi sempat.

my brother capture the sunset

tree front of sunset

















































film of Suroloyo


Selasa, 25 Juni 2013

[ MALANG ] Misteri Kabut Semeru

Jogja 14 juni 2013 pukul 10.00 pagi tiba di terminal Jombor, suasana tak begitu ramai namun juga tak sunyi sepi hanya kendaraan beberapa yang berlalu lalang lewat di depan pandanganku. Sebuah bus mikro berwarna hijau bertuliskan trans Jogja mengantarkan dari terminal Jombor menuju Malioboro. Saya dan adek saya menemui kakak sepupu yusuf namanya serta ghani teman lama di kampus, janjian bertemu di depan DPRD Prov. Terpikir untuk memesan tiket kereta perjalanan ke Malang di stasiun Lempuyangan. Berakhir dengan mendapat 4 tiket kereta malioboro expres menuju malang. Pulang menuju rumah saudara Ghani untuk melengkapi logistik dan packing. Belum selesai packing sudah di goda oleh bisik- bisik tentang bukit diatas candi Borobudur. Pukul 15.xx kami sudah melesat menuju bukit- bukit diatas awan candi Borobudur. Selama 1jam perjalanan kami di hidangkan oleh hamparan luas persawahan hijau segar dan beberapa hutan rindang memayungi jalanan. Semakin dekat dengan tujuan jalanan juga semakin menantang, jalan sempit berliuk naik turun mampu memporakporandakan tulang belulang.


selesai menikmati kabut-kabut dan awan lebat penuh misteri di atas tanah Borobudur kami segera balik ke rumah ghani untuk packing dan berangkat menuju stasiun Lempuyangan. Dengan kereta malioboro expres selama 7 jam kami tiba di stasiun malang baru. Rampung shalat subuh tiba- tiba datang sopir angkot menawarkan jasa mengantarkan langsung ke pasar Tumpang. Setelah nego tanpa alot dan ribet sopir pun mengiyakan tawaran kami dan segera tanpa babibu kami sudah sampai di pasar Tumpang. Menunggu sebentar sambil sarapan mengisi perut yang sudah merindukan nasi kami berombongan di berangkatkan dengan truck terbuka menuju Ranupane. 


Beres dengan perijinan dan tetk bengeknya, dan ternyata memang solotreking tidak di perbolehkan. The real of pendakian kami mulai pada 11.30 WIB dari Ranupane dengan jalan beraspal sekita 500m. Seusai melintasi perkebunan kentang dan kubis kami di hadapkan oleh jalur berpaving muat untuk satu orang hingga pos 1. Perjalanan dari basecamp Ranupane menuju pos 1 masih biasa saja dan di tempuh dengan lama 1,5jam. Selesai istirahat makan siang dan ibadah perjalanan pun harus di lanjutkan agar tidak terlalu malam sampai di Ranukumbolo. Tak lama pun kami sudah tiba di pos 2 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Kabut- kabut penuh misteri datang menghampiri kami ketika mulai meninggalkan pos 2 hingga Ranukumbolo. Jalanan setapak hampir tenggelam oleh rerumputan pun makin lenyap oleh kehadiran kabut-kabut tipis terjalin rapi. Sempat menyingkir sebentar itu kabut- kabut penuh misteri dari atas air Ranukumbolo namun tak beberapa saat saya mengeluarkan kamera merak turun dengan jumlah kawan yang lebih. Nafsu memotret langsung menurun dan segera meninggalkan saja itu genangan air abadi di Ranukumbolo.



To Be Continue...

mari melanjutkan cerita yang sudah menanti :D

memasuki zona waktu senja dan petang saya mencoba mengayuhkan kaki cepat- cepat agar tidak terlalu malam tiba di kalimati. Menaiki tanjakan cinta yang konon ceritanya siapa yang mampu menanjak tanpa melihat kebelakang maka gadis yang di pikirkannya akan menjadi jodohnya. Berpapasan dengan seorang gadis berkerudung ungu muda bahkan lebih cantik dari "Arinda" membuat saya tidak konsen dalam menanjak dan akhirnya lupa ternyata saya sudah menengok ke belakang.  Berakhir dengan tanjakan cinta saya berhadapan dengan turunan menjelang oro-oro ombo yang lumayan curam dan membuat dengkul bekerja ekstra. Kabut tebal semakin menggelapkan jalan setapak menuju cemoro kandang pos setelah oro-oro ombo. Berselimutkan kabut- kabut rumput raksasa berwarna ungu itupun semakin terlihat mistis dan menyeramkan. Berbeda ketika tanah seluas kira-kira 2 hektar ini pada terang hari yang indah berwarna ungu cerah begitu membuat mata terpenganga. Selesai meninggalkan lautan rumput raksasa berwarna ungu kami di sambut oleh pohon- pohon cemara raksasa di kandangkan dalam kerangkeng alam raksasa. Pukul 18:00 WIB kami memasuki kawasan pohon cemara raksasa ini, istirahat beberapa menit kemudian kami melanjutkan ke pos berikutnya yaitu Jambangan.


Beratapkan daun- daun pohon cemara sesekali bocor tersinari oleh rembulan yang membuat malam semakin terasa dingin. Tak cuma rembulan yang menemani suara desah angin berkabut tipis serta nyanyian bintang membuat semakin mantap. Naek- naek menyusuri jalanan setapak dengan sorotan dalam genggaman dan sesekali jalanan turun terjal dan curam membuat harus ekstra hati-hati. Tak perlau terlalu lama beristirahat karena sudah malam maka akan semakin dingin ketika terlalu lama berdiam diri. Lanjutkan saja langkah yang tersisa dan akhirnya tak lama pada pukul 19.xxWIB kami sudah menginjakkan kaki di pos Jambangan.

Jambangan dalam benak saya adalah kubangan air yang luas atau saya kira jamban besar ternyata adalah sebuah halaman luas di tengah hutan gunung. Dengan jalan yang landai dan lega membuat perjalanan dari jambangan menuju kalimatai lebih cepat. Namun sebelum gerbang masuk hamparan luas Kalimati kami di hadapkan oleh jalanan menurun beberapa kali dan curam. satu turunan kemudian pengkolan dan sedikit naik kemudian kembali turun dan membelok lagi dan turun dua kali dan kami sampailah di pos Kalimati.

pukul 20:00 kami sudah berisik mendirikan tenda sedangkan samping kanan kiri dan depan belakang sudah pada tidur bersiap untuk pendakian puncak pada dini harinya. Selesai kami mendirikan tenda di susul memasak air panas untuk membuat sereal sebagai pengisi perut sementara. Capek perut lapar dan ngantuk sudah beradu akhirnya tidur tak terhindarkan. 22:00 hingga pukul 01:00 dini hari sepertinya belum cukup untuk menggantikan longtravel dari ranupane selama 8 jam dan mempersiapkan tenaga untuk pendakian menuju puncak 3676mdpl. Namun apa boleh di kata jika waktu sudah berdetak maka kami tak dapat menghentikannya dan kaki pun mulai bergoyang maju untuk menuju 3676mdpl. Bersama 4 orang dari tenda sebelah kami menyusuri jalanan setapak bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya yang melintas. Tak terasa di bawah pohon yang tinggi dan rindang selama 2 jam kami sudah sampai di Arcopodo *namun tidak ada arca di sini. Bertemu dua tenda lumayan besar dan kiranya muat untuk 10 orang di Arcopodo. Tenda yang sengaja di dirikan di sini adalah untuk mengantisipasi pendaki yang tak mampu melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tak lama mendengar mas penunggu tenda dengan badan tinggi kekar dan tegap ini mengungkapkan bahwa di dalam ada 3 wanita yang tak kuasa melanjutkan melahap ganasnya medan menuju 3676mdpl. Setelah cukup beristirahat dan mendengar cerita kami bertiga pun siap untuk melahap ganasnya gundukan pasir raksasa, angin bertiup dingin, dan pekatnya gelap malam. Tak jauh dari Arcopo kira- setengah jam perjalanan kami bertemu dua orang yang sudah lemas tak mampu melanjutkan ke puncak, mereka bilang sudah tidak tahan dengan dinginnya dan kaki semakin lemas. Setengah jam dari tempat kami bertemu dua orang lemas itulah di sebut cemoro tunggal atau batas vegetasi terakhir. Istirahat sejenak mengumpulkan tenaga karena melihat keatas kami tau bahwa jalur sangat curam. Sekiranya cukup memulihkan tenaga maka semangat membara sudah mampu membakar dingin angin mahameru.

Start dengan modal semangat membara pada 06:00 dari batas terakhir vegetasi. Perlahan ayunan kaki 10-20 meter masih belum terasa bahkan dengkul kiri yang sudah cidera pun belum "mbengok" minta berhenti. Seperempat jalur perjalanan menukik tajam keatas sudah kami tempuh namun puncak belum juga terlihat jelas. Masih dengan semangat yang mulai meredup karena bertemu banyak orang yang menyerah memilih kembali turun karena alasan dingin lemas dan tanjakan tak habis-habis katanya. Dalam hati cuma terus berkata "AKU MAMPU" sambil mengayunkan kaki dan tripod yang kira-kira beratnya 2 kg. Kalau di ingat ya rata-rata kecepatan perjalanan adalah 10kali melangkah 5 menit berhenti *kapan sampainya yah???. Baru 1/3 perjalanan menuju puncak hati semakin redup antara turun atau naik hahahaha, namun semangat dalam jiwa tetap membakar agar tetap naik meskipun lama. Dua jam lebih sudah waktu yang kami habiskan namun ternyata kami belum juga dapat setengah perjalanan. Tanjakan pasir yang terjal dan curam memang membuat berat pendakian. Bekas pijakan orang dan beberapa jalur yang pasirnya padat sangat membantu karena pijakan tidak longsor jadinya istilah naik 1 turun 1/2 tidak berlaku. Sunrise yang sudah meninggi dan berubah menjadi terik tak saya hiraukan karena sudah mustahil buat saya menikmati sunrise di atas puncak Mahameru. Setidaknya saya cukup menikmati sedikit semburat merah di tengah jalur antara cemoro tunggal dan puncak. Sejam lagi waktu yang kami lahap ternyata puncak sudah semakin jelas terlihat, kira- kira 100 langkah lagi saya sampai. Semakin dekat dengan puncak jalur agak- agak melandai sedikit jadi lumayan untuk menaikkan speed. Pukul 10:00 akhirnya kaki mendarat di puncak Mahameru 3676mdpl dengan keluhan dengkul kiri positip cidera dan jari jari kaki bengkak.

reality vs expectation

im in the java highest land

i love Boyolali

Sorry i have no good view in the peak, so my selfportrait im put on this.

 Oke lanjut setelah tidak lama di puncak karena semakin siang racun yang keluar dari letusan asap belerang semakin kuat maka pendaki dilarang berlama-lama di puncak. Sekiranya cukup 20 menitan kami bertiga segera turun saja mencari selamat daripada anu terjadi hal hal yang tidak anu.

Perjalanan turun dari puncak menuju batas vegetasi jauh lebih cepat daripada waktu naiknya, kira tidak ada satu jam ya kurang lebih 45-50 menit kami sudah ready to go lagi di Cemoro tunggal. Dari Cemoro tunggal harapan pertama yang ingin segera sampai adalah Arcopodo, dengan dengkul yang sudah cidera waktu tempuh menuju Arcopodo hampir sejam sama dengan waktu naik padahal jalur menurun namun karena dengkul sudah tak ada daya apa boleh di paksa.
 Turun dari  Arcopodo dengan dengkul yang semakin melemah dengan medan menurun tanpa bonus jalur landai hingga gerbang pohon dapat di tempuh selama hampir 2 jam. Beruntunglah saya dan Mas Yusuf yang datang setelah Ghani tiba di kalimati dan menyiapkan apel segar di susul oleh mie rebus panas nikmat. Pukul 14:00, Kalimati tempat kami ngecamp selama 3 jam sebelum summit attack menjadi saksi bisu segala kejadian yang menjadi kenangan nantinya. Cukup 1 jam istirahat kemudian packing total dan bersiap meninggalkan Kalimati menuju Ranukumbolo untuk menginap malam kedua.

Start dari Kalimati sudah menjelang petang kiranya pukul 16:30 kami meninggalkannya. Sedikit terseyok langkah kaki saya tapi perjalanan tetap harus berlanjut. Pos pertama yang sangat kami harapkan segera terlihat adalah Jambangan. Well done tak ada satu jam kami sudah merehatkan badan sejenak di pos Jambangan.Tak berhenti lama kami di pos Jambangan karena matahari sudah meninggalkan maka tak ada waktu untuk terlalu bersantai. Berharap segera bertemu dengan si kandang cemara raksasa lagi. Jika di kira-kira adalah hampir sejam kami menapaki jalanan kecil penuh kegelapan, senterpun sudah mulai meredup. Menghela nafas panjang di atas tubuh cemara yang telah tumbang dan telentang. Semakin gelap malam semakin sedikit pula pasokan oksigen maka dari itu kami memilih lebih santai sambil menikmati setetes air segar. Limabelas menit tak terasa sudah kami habiskan selain udara dingin semakin merasuk ke dalam kulit dan tulang rasa capek kami juga ingin segera di istirahatkan. Menyibak padang rumput ungu perdu yang telah terbelah bagaikan tergilah oleh roda-roda. Jalanan mendatar dan panjangpun tak terasa cuma 30 menit kami lahap, namun di depan sudah menanti tanjakan terjal serta turunan tanjakan cinta. Oh my God dengkul yang sudah cidera harus di hajar lagi... meskipun carier segede kulkas sudah di bantu di bawakan adek saya namun dengkul ini rupanya sudah tak mampu menopang tubuhku sendiri. Perlahan terseret-seret akhirnya yang harusnya dengan lari cuma 15 menit dapat tiba di Ranukumbolo menjadi 30menit lebih karena harus meraba jalanan yang curam, sekenanya salah menapak dan terpeleset bisa fatal buat dengkul.

Ranukumbolo pada malam kedua di sinilah kami mendirikan tenda kemudian segera istirahat. Harapan dengkul sembuh di pagi harinya ternyata belum terkabul, namun perjalanan tetap harus di selesaikan. Masak seadanya dan makan kemudian bersih-bersih badan serta diakhiri fotofun bersama.


 Setengah Sebelas Siang mungkin lebih beberapa detik kami meninggalkan tempat yang akan menjadi saksi sekaligus sejarah besar. Ranu Kumbolo pada ketinggian 2300mdpl dengan hamparan danau air tawarnya yang begitu segar terus akan tersimpan dalam ingatan. Tak lama kami berjalan sudah sampailah di pos 4 dan disambut oleh gerimis serta kabut tebal menuruni bukit. Sejenak kami berhenti sambil melepaskan canda tawa di tengah dingin dan gelap kabut putih kehitaman. Terdengar bunyi crek crek shutter dari kamera mengiringi gelak canda tawa kami. Entah sepertinya sudah 15 menit kami berhenti dan dingin makin terasa memang sebaiknya kami segera melanjutkan perjalanan. Pukul 11.00 sekiranya lebih beberapa menit kami sudah meninggalkan pos 4 dan menuju pos 3. Jalanan becek bekas hujan sedari pagi membuat langkah agak melambat karena harus hati- hati agar tidak terpeleset. Masih banyak pula kami temui di sepanjang perjalanan menurun para pendaki. Saling sapa dan aruh sepertinya tidak perlu mengenal terlebih dahulu karena di gunung kita semua saudara. Jalanan mulai menurun agak curam dan perlu ekstra hati - hati, rupanya kami sudah sangat dekat dengan pos 3. Di pos 3 kami disambut oleh pendaki yang akan naik dan salah satu porternya. Porter ini tugasnya adalah membawakan beberapa barang yang tidak terbawa oleh pendaki sehingga meringankan beban pendaki. Biasanya porter ini mendapat imbalan jasa 150.000 perhari. Dalam satu bulan rata- rata porter mampu membawakan barang pendaki sebanyak 4-5 kali pendakian.

Sambil ngobrol dengan porter dan 3 pendaki dengan kamera D90nya itu kami sembari menghabiskan sisa apel yang mampu mengganjal perut lapar. Sudah tidak ada sisa makanan bagi kami selain apel dan mangga muda. Air yang akan menggantikan makanan ketika apel dan mangga pun habis. Lanjut langkah kaki mengayun hingga pos 2 pada pukul setengah dua kami baru sampai dan seperti di pos 4 dan 3 yaitu beristirahat sejenak. Karena lapar dan sisa makanan kami adalah mangga muda maka apa boleh buat kecut manis kecut pun kami sikat. 15- 20 menit waktu yang cukup lama untuk kami berleha-leha sedangkan senja sudah menanti kami di ujung gerbang pintu semeru. Tanpa mengingat capek kami terus menggenjot tenaga kami hingga tiba di pos satu dan di sambut oleh rombongan pendaki yang akan naik juga. Masih sekitar pukul 3 sore lebih beberapa menit akhirnya kami menginjakkan kaki di pos 1 dan kabar baiknya pos satu maka sudah dekat dengan basecamp ranupani. Ternyata lumayan lama kami di pos satu hingga hampir satu jam kami istirahat. Pukul 15.40 lebih beberapa detik kami baru mulai melanjutkan perjalanan menuju ranupani. Tak seperti perkiraan yang kami bayangkan bahwa perjalanan akan lama ternyata pukul 16.30 sekian detik kami sudah di gerbang pintu penyambutan semeru. Dan kami telah selesai menyelesaikan misi kami menaklukhkan puncak Mahameru.

Namun sedikit cerita seru kami masih belum selesai, dimulai ketika sampai ranupani sudah menjelang magrib kami sudah belingsatan bingung mau naik apa kalau truck ke Tumpang sudah tidak ada. Beres repacking dan sekedar membasahi kerongkongan kami berempat berjalan menuju lapangan dimana yang di gunakan sebagai tempat parkir truck dan jeep. Alhamdulillah masih ada beberapa truck yang akan mengangkut pendaki turun gunung. Kami masuk ke antrian truck ke dua, jadi ya sabar menunggu beberapa puluh menit menunggu jeep yang sudah parkir di depan berjalan. Perjalanan senja menuju Tumpang akhirnya di mulai dengan hiasan langit memerah seolah matahari membakar awan awan putih. tak sampai 2 jam kami sudah tiba di Tumpang di sambut keramaian pasar Tumpang dengan segala hiruk pikuk dan hiburannya. Karena perut sudah sangat lapar kami makan nasi pecel ayam goreng terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali ke jogja. Selesai makan kami segera mencari angkot untuk menuju terminal arjosari, namun apa boleh kata kalau rupanya penumpang menuju Arjosari sudah tidak ada dan para pendaki pun sudah bersih dari jalanan pasar Tumpang. Menunggu hingga pukul 23:00 kami masih di tempat ngetem angkot berharap ada pendaki yang tersisa agar bisa diajak share cost menuju terminal Arjosari. Akhirnya saya menyerah dan bertanya kalau kami berempat saja yang berangkat ke terminal Arjosari berapa biayanya? "150 ribu dek jawab supirnya". Turun gunung duit menipis tidak cukup kalau memaksa dengan harga segitu sampai ke Arjosari, akhirnya saya menelpon Pak Supri ( 0812 4908 1890 ) supir angkot trayek St. Malang - Termn. Arjosari untuk di jemput dan diantarkan ke Terminal Arjosari. Karena kasian akhirnya pak Supri memberikan harga 60 untuk kami berempat sampai di terminal arjosari. Setibanya di terminal Arjosari kami langsung disarankan naik Engkel menuju bungur asih karena bus Arjosari - Bungur asih sudah berangkat terakhir jam 23:00. Setelah terombang ambing di Tumpang berjam- jam dan mendapat hiburan dangdut koplo super kenceng di Engkel Arjosari- Bungur asih di Terminal Bungur asih kami di hadapkan oleh calo- calo serta preman terminal. Karena saya beberapa kali sudah pernah ke Terminal ini saya tau apa yang harus saya lakukan, cukup mereka bertiga saya suruh diam dan saya yang menjawab para Calo dan Preman. Berharap mendapat tumpangan bus Mira malam itu, namun apa boleh di buat jika ternyata 3 urutan parkir terdepan yang terlihat adalah bus Sumber Group *Nama baru bus Sumber Kencono.

foto diambil dari mbah GOOGLE * http://1.bp.blogspot.com

Yasudah lah jika kami harus naik Sumber Kencono, Bismillah banyak berdoa agar dalam perjalanan Surabaya- Jogja ini kami selamat sampai tujuan. Partner saya bertiga Ghani, Ahsin, Yusuf masih tidak percaya bahwa kami naik Bus Sumber Kencono. Saya sendiri juga masih merinding jika mengingat reputasi Bus ini sering terjadi laka- lantas. Dengan predikat bus yang merajai jalanan Surabaya- Jogja ini membuat pengendara lainnya harus berhati- hati dan mengalah jika masih ingin selamat. Bus berjalan sejam pertama masih belum terasa adrenalin dan pemacu senam jantungnya, karena rupanya masih sambil mencari penumpang di sekitar Surabaya. Namun setelah lepas dari terminal Madiun bus sudah mulai pencet klakson dan sein nyala kanan. Saya yang sudah tertidur pun terbangun karena sempat terjadi rem mendadak dan mengagetkan beberapa penumpang yang sadar. Madiun - Sragen bus sudah tidak lagi bersahabat hantam kanan banting kiri sepertinya sudah menjadi mainan bagi supir. Tiba di perbatasan Sragen - Ngawi saya di sambut oleh padang sawah dan belantara kebun di selimuti kabut sepertinya sangat terasa dingin di luar. Namun lamunan sesaat buyar karena suara klakson sangat kencang dari bus dari arah berlawanan kami memaksa bus yang kami tumpangi mengalah dan membanting setir ke kiri. Mulai matahari memburatkan cahayanya di langit Sragen hingga Kartasura membuat bus semakin terkendali karena kondisi jalan yang macet. Kemacetan kembali kami temui di jalur Klaten - Jogja mebuat bus benar- benar merayap tak berkutik bagaikan Singa di copot taringnya. Sampai di gerbang masuk Jogja kami disuruh bersiap agar duduk didepan supaya lebih mudah turun dari bus. Sambil menunggu sampai di halte bus TransJogja terdekat saya sempet ngobrol dengan supir dan kernet, katanya 5 tahun yang lalu ketika masih menggunakan bus lama mereka bisa menempuh perjalanan Surabaya- Jogja cuma 5 jam. Kini karena faktor macet dan bus yang tidak bisa diajak ngebut mereka rekor tercepat adalah 7 jam perjalanan Surabaya- Jogja.
Semoga Supir Sumber Kencono mulai tobat dan mengutamakan Keselamatan Penumpang :D

foto diambil dari lensaindonesia.com


cerita di balik semuanya dalam gambar bergerak



Minggu, 05 Mei 2013

[ JAKARTA ] Merasakan Jakarta Yang "Lain", Pulau Perak

Malam masih menjadi perebutan antara bulan dan matahari. Dalam heningnya lolongan anjing dan aumannya bagai srigala menambah kesunyian menuju pagi. Sebelum alarm berdening membangunkanku auman anjing bagai srigala mendahului membuatku terbangun. 03.30 pagi buta aku sudah terbangun dan siap- siap untuk meninggalkan Tebet. Sembari menunggu adzan subuh berkumandang aku sempatkan sarapan lebih dahulu dengan membuat mie instan dan sereal sebagai pengganjal perut. Usai sembahyang subuh segera kutinggalkan rumah kos-kosan berlantai dua di tepi jalan itu. Berjalan menggendong tas sebesar kulkas dua pintu yang lama teranggurkan karena sudah lama aku tidak naik gunung. Belum genap 10menit berjalan sudah sampai di jalan raya yang sepi hanya sesekali ada mobil pribadi yang lewat, angkot yang kutunggu malah takkunjung lewat. Akhirnya tak lama kudengar lirih suara kernek bus mikro berkata "karet- kareettt". Kukejar bis mikro yang berjalan perlahan tersebut. Setibanya di halte busway karet waktu masih pukul 05:16 wib yang artinya masih cukup sampai untuk tiba di muara angke. Alhamdulillah perjalanan lancar dari halte Karet hingga Penjaringan jalur busway steril dari "sampah" jalanan pagi itu. Dari penjaringan menyambung angkot 01 menuju pasar ikan muara angke. Setibanya di kawasan Muara Angke tinggal sedikit lagi masuk ke area pasar Muara Angke malah macet tanpa pergerakan sama sekali. Ternyata ada truk mogok dan memblokir akses masuk ke area pasar muara angke, maka terpaksa aku jalan kaki menuju pom bensin tempat miting poin.



























Masih seperti satu tahun yang lalu dermaga muara angke penuh sesak dengan manusia, teriakan teriakan dari petugas pom bensin pun sepertinya masih sama saja yaitu melarang merokok dan jangan menghalangi jalan. Waktu menunjukkan semakin mepet dengan jam keberangkatan menuju pulau harapan. Sang pemandu pun sudah menunggu di perahu yang akan menyebrangkan melauti menuju pulau Harapan. Dengan menginjakkan kaki di beberapa perahu untuk dapat ke perahu Bahtera. Estimasi 3jam perjalanan pun melambat menjadi 4 jam pukul 11:00 kami baru tiba di pulau Harapan. Sambil berkoordinasi dengan perahu carteran beberapa diantara kami yang sebagian besar belum saling kenal ada yang repacking tas, ada yang beli makan, ada yang membuat kopi dengan trangia, ada juga yang melamun. Perahu carter siap dan penumpang sudah isi tenaga dengan lauk ikan maka sailing trip menuju pulau Perak pun di mulai.


































setelah capek bersnorkling ria dan bersailing dengan perahu kami bersantai di pulau perak. Hingga menikmati sunset dengan sebelumnya ada beberapa yang mendirikan tenda dan mempersiapkan makan malam. Saya sendiri malah memilih hunting foto dan menunggu sunset hehehehe


























selesai makan malam bintang bertaburan mulai meredup dan menyiutkan niat saya untuk motret milky way karena memang tidak akan dapat hasil. makanya saya memilih tidur saja agar dapat bangun subuh dan segera hunting sunrise hehehehe



























Setelah usai menikmati keindahan sunrise pagi itu kami bersiap untuk menyelesaikan sisa selam selam di bawah air. tak begitu ingat saya urutan ke pulau apa saja waktu itu, seingat saya sebelum balik ke muara angke kami mampir di pulau kayu angin bira kecil dan pulau bunder kemudian baru transit di pulau harapan. Di pulau kayu angin bira dunia bawah airnya memang lebih yahud tak menyesal saya paksakan untuk turun karena sesungguhnya saya sudah capek. mendapatkan beberapa foto dan sedikit olah raga renang lagi yang memaksa. Di pulau bunder saya cuma tiduran di perahu karena memang sudah lemes dan capek :P