Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2022

Mampir Puncak Gunung Telomoyo

Kali ini ada ajakan dari paknur buat riding ke dieng lagi. Karena meeting point dirumah pak nur yaitu temanggung dan sigit serta ucup gak bisa riding bareng yasudah kami sepakat berangkat sendiri sendiri. Saya start dari rumah sehabis subuh. Kali ini mencoba jalur yang lain yaitu lewat kopeng- grabag. Namun sebelum menuju rumah pak nur saya sengaja belok sebentar ke puncak telomoyo. Ya selain penasaran telomoyo sekarang seperti apa juga karena sigit baru bisa otw pukul 09:00 dari sukoharjo. Laju motor saya mengarah salatiga dan berhenti kira2 setelah polsek tengaran pas di gang masuk menuju jalur baru yang saya cari. Ancer ancernya kalau tidak salah searah ke sebuah sekolah/ pondok modern namun lurus aja terus ikutin jalan dan petunjuk jalan kearah kopeng. Seperti biasa jalur ini saya suka karena kontur pegunungan selain hawanya dingin tentunya pemandangan pun juga menyejukkan mata. Setelah terus mengikuti jalan utama saya tiba di pertigaan besar saya lurus aja searah pasar kopeng atau pasar apa ya saya lupa. Tak jauh dari pasar saya perhatikan petunjuk jalan alternatif kearah temanggung saya belok kanan dan memang itu rute kearah puncak telomoyo. Karena masih di area lereng gunung jalurnya pun naik turun dan berkelok. Tak terasa kira2 sudah 30menit riding saya membaca disebelah kiri jalan ada tulisan puncak telomoyo dan tanda panah kearah kanan. Ternyata saya sudah tiba di pintu loket menuju puncak telomoyo. Setelah membayar tiket masuk 15ribu saya lanjut riding menuju puncak. Dari pintu loket sampai beberapa ratus meter jalan masih aspal bagus, namun di tengah perjalanan beberapa kali saya dapati jalan sudah hancur sepertinya sudah sangat lama tidak di perbaiki. Namun setelah pertigaan jalan kembali mulus sampai dipuncak Telomoyo. Kira- kira 10menit dari puncak kanan kiri jalan sudah ramai para pelancong memarkirkan motornya. Saya sambil melihat2 mana tau bisa berhenti sebentar untuk motret, namun karena saking ramainya saya skip dan langsung menuju puncak saja. Dipuncak ada tempat parkir di halaman tower, sepertinya tower milik tvri. Setelah parkir saya jalan kaki buat hunting foto di sekitar puncak. Alhamdulillah pagi itu saya tiba masih di beri kesempatan menikmati langit cerah dan pemandangan indah. Udara dingin dan sejuk terik matahari pun belum terasa karena memang masih pagi. Saya berjalan menuju tikungan / pojok yang terdapat sebuah bangunan shelter sepertinya ada spot yang bagus disana. Nampak keluar masuk orang silih berganti di lokasi tersebut. Tak jauh dari parkiran motor saya jalan kaki santai kurang lebih 300meter. Ternyata benar dugaan saya, view nya ciamik disini lebih luas dan tak terhalang bangunan warung atau pohon. Ada salah satu gunung yang lancip terlihat begitu keren saya jadikan sebagai objek. Saya belum tau gunung apa ini, bentuknya mirip gunung batok namun diatasnya lancip kalau gn batok kan alus puncaknya. Langit diatasnya biru dengan hiasan awan putih di sekitar gunung. Selain saya juga ada rombongan lain yang sedang berswafoto di lokasi ini. Karena saya sendiri saya gak sempat ada foto narsis disini, dan saya rasa cukup jepret jepretnya saya pun pindah ke lokasi lain. Dari pojok / tikungan saya belok kanan turun lagi agak kebawah. Pagi itu sangat ramai pengunjung, apalagi di spot yang saya tuju. Spot dengan papan kayu sepertinya buat take off paralayang atau bukan ntah lah saya kurang paham. Di papan kayu ini justru sering di pakai untuk berfoto. Tak hanya manusia yang narsis disini bahkan motornya pengunjung pun di taruh didepan papan paralayang untuk difoto dengan background pemandangan yang indah. Sayangnya pas saya sampe tak lama kemudian kabut turun dan view menjadi putih / abu- abu pekat. Saya sempat menunggu barangkali tak lama kabut pergi. Karena masih ada janji ketemu yang lain di rumah pak nur temanggung saya pun segera kembali ke parkiran motor. Sudah menunggu 15-20 menit nyatanya kabut tak jua pergi. Namun saat saya turun dengan motor terlihat kabut sedikit terbuka sehingga terlihat perbukitan atau lipatan bukit di kejauhan. Saya berhenti sebentar parkirkan motor dan ambil beberapa foto serta video pendek kemudian lanjut jalan lagi. Turun dari spot paralayang saya berhenti sekali lagi untuk ambil scene video pendek sedang riding. Pengennya sih dengan background gn lancip tapi apa daya gn lancip sudah tertutup sedikit awan.

Lanjut lagi sekalian nyari warung kopi barangkali ada mie rebus, biar gak gemetaran nanti pas riding menuju temanggung saya mendingan sarapan dulu. Setelah persimpangan jalan saya ambil kanan kembali ke jalan saat saya berangkat tadi. Tak jauh dari simpang ada sebuah warung kopi plus bonus view cukup bagus di depan warung tersebut. Sarapan mie rebus dan kopi hitam supaya terasa hangat di badan. Selesai sarapan mumpung ada view saya foto- foto lagi secukupnya baru lanjut turun menuju loket/ parkiran mobil.

Karena menuju temanggung keluar dari kawasan wisata gn telomoyo saya belok kekanan arah grabag. Jalan lumayan lebar cukup untuk bersimpangan dua mobil minibus / sedan. Selain lumayan lebar juga aspal masih cukup alus cuma ada satu dua yang berlubang dan bekas tambalan. Setelah riding kurang lebih 30 menit saya sudah sampai di jalan raya Magelang – Bawen. Saya belok ke kiri arah temanggung. Beberapa kilometer kemudian belok kanan motong jalan langsung tanpa harus lewat terminal Secang. Dan tak lama saya sudah sampai dirumah pak nur, sambil menunggu sigit pak nur membuatkan kopi gayo wine. Perjalanan berlanjut sejam kemudian setelah sigit sudah tiba.

Rabu, 19 Januari 2022

Pendakian Random ke Puncak Songolikur, Mt Muria

Awalnya gak ada niat buat mendaki puncak 29 gunung muria. Karena sudah di kudus dan belum tau mau nginap dimna akhirnya saya nekat aja gas arah basecamp rahtawu. Perjalanan dengan motor dari jembatan selamat datang kudus kurang lebih selama 1jam30menit. Dengan berdasar maps saya ikuti terus jalan dan petunjuk arah. Perjalanan malam melewati jalan yg cukup sempit dan berliku dengan sebalah kanan jurang dan kiri tebing.

Setiba nya di desa rahtawu saya segera mencari mushola terdekat dengan basecamp. Karena belum shalat isya saya sambil istirahat menunggu adzan isya dan ikut berjamaah shalat isya. Selesai shalat saya seperti biasa mencari informasi dengan masuk warung kopi sambil menikmati seduhan kopi lokal rahtawu saya korek2 info dri ibu pemilik warung.

Cukup segelas kopi hitam nikmat dan sebungkus roti saya kemudian merapat ke parkiran basecamp. Setibanya di parkiran langsung di hampiri mas mas dan diberi kartu parkir. Terlihat di basecamp ada satu rombongan yang bersiap untuk menanjak. Saya sengaja hampiri dan ngobrol sebentar kemudian mengutarakan ingin nanjak bareng drpd g ada temannya. Awalnya bukan karena sombong ingin mendaki sendiri ke puncal 29 tapi memang dr awal gak ada plan buat nanjak, namanya jg tibatiba nanjak.

Alhamdulillah dari ngobrol2 saya bisa memastikan adek2 rombongan ini ramah2 dan baik hati suka menolong. Sudah pukul 08 kami segera berangkat menuju puncak 29 dengan estimasi normal 4 jam pendakian.

Detail pendakian terlampir.

Awal pendakian di penuhi dengan jalur kebun kopi milik warga yang termasuk landai bahkan datar dan ada menurun. Udara belum terlalu dingin dan suasana malam kami di terangi temaram cahaya bulan. Semerbak terium aroma wangi bunga kopi yang sudah bermekaran. Sepanjang perjalanan kami menikmati harumnya aroma bunga kopi yang menambah perjalanan kami tidak membosankan.
Tiba di pertigaan jalur cepat dan bunton, kami sepakat lewat jalur bunton saja karena infonya jalur cepat sempat ditutup karena longsor. Dari pertigaan jalur cepat dan bunton masih di dominasi perkebunan kopi. Jalur sudah mulai menanjak namun laju perjalanan kami masih terkondisika. Kemudian kami tiba di sendang bunton istirahat sebentar baru kemudian kami lanjut lagi agar tidak terlanjur mager. Dari sendang bunton treking mulai semakin menanjak dan terasa di paha serta dengkul. Pos terdekat dari sendang bunton adalah pos 5 atau warung seng. Di pos 5 kami istirahat sebentar, sambil mengamati ada beberapa pohon murbei tapi sayangnya belum matang.

Biar gak kedinginan kami lanjut lagi melakukan perjalanan. Karena malam mungkin tidak terasa sudah tiba di pos berikutnya yaitu pertapaan eyang pandu dewata. Nah sebagian besar pengunjung yang melakukan perjalanan spiritual atau ziarah salah satu destinasinya adalah pertapaan eyang pandu. Di pertapaan eyang pandu kami hanya lewat dan tetap lanjut terus menuju puncak karena jika di lihat dari googlemaps puncak masih cukup jauh. Semakin mendekati puncak treking pun semakin menanjak tajam. Dengkul saya memang tak bisa bohong karena baru 10-15 langkah sudah harus minta istirahat. Ini salah satu nya yang membuat pendakian dari pertapaan eyang pandu dewata sampai ke puncak memakan waktu kurang lebih 45menit.
Jalur semakin dekat puncak ini bisa di sebut jika dahulu ada pelajaran waktu SMP di sebut dengan istilah jalur ulir baut. Dengan berjalan memutar kekanan kemudian ganti memutar kekiri begitu terus sampai puncak. Dan jalur ini termasuk jalur yang harus ekstra hati hati karena jika terpeleset bisa nyemplung ke jurang.
Setibanya di puncak kami tak langsung mendirikan tenda namun sempat survey lokasi dimana kami akan mendirikan tenda, hah kami?? Sebetulnya mereka sih karena saya sendiri gak bawa tenda hehehehe. Dan eng ing eng rupanya semua warung 24 jam sudah tutup beserta penginepannya. Setelah mendapat tempat mendirikan tenda yaitu di dekat gapura selamat datang puncak 29 di sebelahnya pendaki yg sudah datang duluan, kami pun segera mendirikan tenda. Alhamdulillah kebaikan hati temen2 dari jepara ini menawarkan kepada saya untuk bergabung menginap di tenda mereka. Memang lah saya kenal nya anak anak gunung itu baik dan ramah sekali.

Karena sudah pukul 01.00 dan mereka tau saya perjalanan balik ke boyolali sangat jauh akhirnya saya di silahkan tidur duluan dan mereka menghabiskan malam dengan main kartu. Saya beberapa kali terbangun yang sudah jelas alesannya apa? Ya memang betul saya terbangun karena kedinginan. Bagaimana tidak kedinginan kostum yang saya pakai celana jeans, kaos rangkap 2 dan jaket levis. Tapi sudah syukur saya bisa tidur di dalam tenda, bagaimana jika saya tidur di luar tenda? Mati? Mungkin saja karena di gunung kita gak tau seberapa kejam suhu dingin ketika mendekati subuh dan seberapa kuat daya tahan tubuh ketika lelah dan tertidur. Jadi? Jadi saya sangat berterima kasih pada Allah dan juga teman2 dari jepara mas erik dan teman teman. Setelah kebangun yang ke 3 kali saya melihat jam rupanya memang sudah waktu subuh dan segera saya keluar tenda mencari tempat yg cukup untuk shalat subuh.

Selesai shalat subuh saya kembali menghampiri temen2 ke tenda dan mengajak mereka berburu sunrise. Tak jauh dari tenda kami menuju spot perburuan mungkin sekitar 10menit dari tenda. Pagi itu memang sunrise tak secerah yang saya harapkan, namun itulah yang Allah berikan pada kami, yang terbaik yang dihidangkan untuk kami nikmati pagi itu.

Selesai hunting sunrise kami balik ke tenda dan erik beserta teman2 memasak mie juga kopi. Lagi lagi saya gak enak alias pekewuh karena di masakin mie dan kopi hangat penambah kenikmatan hakiki pagi di gunung. Lagi lagi terima kasih sebesar2nya buat erik dan temen temen untuk semua pertolongannya, semoga Allah yang membalaskan semua kebaikan kalian.

Sembari menunggu temen temen packing tenda saya sempatkan foto foto di sekitar. Oiya pas lagi jepret sana jepret sini ada mas- mas gimbal rasta yang juga menikmati dinginnya pagi gunung muria. Saya sambil ngobrol sedikit tentang gunung muria, tentang jalur pendakian juga tentang perjalanan. Dari luar mas gimbal ini terlihat kalem, apa adanya dan pemberani. Rambut gimbal, kulit putih, berkumis dan berjenggot tipis. Mas gimbal bercerita kalau dia mendaki gunung muria dari jepara seorang diri. Dia bercerita perjalanannya di lalui dengan santai dan menikmati. Normalnya dari jepara sampai di puncak songolikur gunung muria bisa di tempuh selama 4 jam namun kata si mas gimbal malah di tempuhnya selama 6jam. Kalau saya perhatikan dia memang tipe orang yang mencari ketenangan dan kesunyian. Saya mendengar di tawari tidur dalam tenda pendaki yang mendirikan tenda sebelah tenda erik tapi gak mau. Kalau saya dengar juga pas dia ngobrol sama orang lain mas gimbal ini adalah anak pespa. Dari ceritanya saya tangkap mas gimbal ini gak banyak “umuk” atau nyombong tapi justru terlihat rendah hati dan tidak sombong. Saya sering mengambil pelajaran hidup dari orang- orang yang saya baru kenal ya contohnya mas gimbal ini. Karena erik dan temen2 sudah selesai packing usai sudah obrolan saya dengan mas gimbal. Dan saya turun bersama erik serta teman- teman menuju basecamp rahtawu.

Waktu menunjukkan pukul 08.00 dan kami sudah mulai menuruni gunung menuju basecamp dan parkiran motor. Dari puncak turun menuju pertapaan eyang pandu dewata jalur curam dengan kanan kiri jurang. Ketika malam pendakian saja sudah terbayang bagaimana kondisi jalurnya, pada saat turun semakin terlihat jelas bagaimana ekstrimnya jalur pertapaan eyang pandu dewata – puncak. Kami sangat berhati- hati pada saat turun agar tidak terpeleset atau terperosok ke jurang. Langkah demi langkah perlahan namun pasti kami tiba di pertapaan eyang pandu pukul 08.30. Istirahat sebentar dan erik sekalian berniat membeli air mineral atau meminta air mentah malah di kasih air matang dari ceret oleh simbah pemilik warung. Tak lama kami istirahat kemudian berpamitan sama simbah dan melanjutkan perjalanan turun. Jalur turun dari pertapaan eyang pandu menuju warung seng sudah mulai landai jadi kami bisa bergerak lebih cepat. Kami memakan waktu 15 menit sudah tiba di pos warung seng. Di warung seng kami tidak berhenti dan lanjut lagi menuju pos sendang bunton. Jalurnya masih sama agak landai dan bersahabat dengan dengkul. Sambil menikmati aroma wangi bunga kopi dan dinginnya udara khas gunung tak terasa pukul 09.10 kami sudah sampai di sendang bunton. Nah di sendang bunton kami istirahat cukup lama, tak cuma istirahat kami juga beberapa menyempatkan sarapan di warung bunton. Erik memesan nasi dengan telur dadar seharga 7000 rupiah dan saya memesan kopi hitam lokal muria secangkir dengan harga 3000 rupiah. Lanjut meninggalkan sendang bunton kami geber lagi dan perut sudah full bahan bakar jadi lebih semangat lagi. Dari sendang bunton jalur sudah di dominasi kebun kopi lokal muria. Saya lihat sepintas kopinya bagus2 dan ada beberapa petak kebun yg sudah siap panen. Tak terasa suara riuh desa terdekat dengan parkiran kendaraan sudah terdengar. Kami tiba di basecamp dengan selamat dan saya langsung memesan es teh buat menyegarkan kerongkongan. Karena saya masih ada urusan di kudus saya pamit duluan sama erik dan teman2 lainnya. See you next time di lain pendakian ya brother…

Jumat, 18 Juni 2021

Mudik Sumatera, Boyolali-Padangsidimpuan [Part 1]

“Jarang-jarang nih dapet izin dari Bos,, bismillah kita mudik aja yokkk libur natal tahun baru ini”, kata suami.

Jujur sebenarnya batinku masih ragu karena Hawqal masih kecil (baru 6bulan kala itu). Tp melihat antusias suami, akhirnya aku bismillah aja. Qodarullah, pas mendekati hari keberangkatan Hawqal malah sakit (demam & diare). Akhirnya dibawa ke dokter dan alhamdulillah demamnya menurun. Kami pun “bismillah” berangkat dari Boyolali menuju Padangsidimpuan tgl 22 Desember 2020.

Perjalanan dimulai pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB. Aku, Suamiku, Hawqal, Ibu mertua dan Rezky temannya suamiku yang tujuannya ke Pasaman Barat, Sumatera Barat serta ceweknya Rezky yang ikutan nebeng sampai Jakarta. Hari yang cerah menuju mudik pertamaku Jawa-Sumatera melalui jalan darat. Awal pemberhentian di Salatiga mengisi bbm pertalite200rb.

Pukul 12.00 siang kami sudah sampai Pekalongan, istirahat sebentar makan siang soto. Suamiku memang sengaja memilih jalan biasa, bukan dari tol. Selain menghemat biaya perjalanan, jalanannya masih bagus dan tidak begitu macet. Kemudian tidak jauh dari warung makan, kami pun sholat dzuhur sekalian jamak ashar disebuah mesjid dipinggir jalan. Perjalanan pun berlanjut, masih suamiku yang nyetir dan disekitaran Brebes kami berhenti sebentar dipom bensin karena aku dan ibu mau ke toilet.

Pukul 16.00 kami sudah sampai Cirebon, dan masuk tol Palimanan sekitaran pukul 17.00. Tujuan peristirahatan pertama adalah rumahnya mas Hafiz di Tangerang. Namun sebelumnya kami berhenti dulu di rest area shalat magrib jamak isya beserta makan. Kemudian lanjut lagi perjalanan, kira-kira pukul 21.30 sudah sampai Jakarta. Sebelum ke rumah mas Hafiz, kami mengisi bensin pertalite 200rb dan mengantar pacarnya Rezky ke rumah saudaranya. Kira-kira pukul 23.00 kami sudah sampai rumah mas Hafiz. Kedatangan kami ternyata sudah dismbut Ahsin, mas Seno dan nasi kebulinya mbak Zifah. Maturnuwun nggih mas, mbak atas suguhannya JJ. Istirahat sebentar dirumah mas Hafiz sambil meluruskan badan, bisa dibilang hanya tidur-tidur ayam saja. Suamiku, mas Hafiz, Ahsin dan mas Seno malah ngobrol diteras. Bisa dibilang mereka enggak tidur sama sekali. Ya gitu deh klo sudah ketemu teman dekatnya JJ.

Pukul 03.00 dini hari kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan merak. Dari rumah mas Hafiz kami pun langsung masuk tol, kali ini yang nyetir Rezky. Ayah Hawqal gantian istirahat. Kira-kira 5km sebelum keluar tol menuju pelabuhan merak, kami berhenti direst area untuk sholat subuh, suamiku membeli tiket penyeberangan online Kapal Ferry 420rb (mobil pribadi) dan sekalian mengisi bbm pertalite 70rb.

Pukul 06.00 pagi kami sudah masuk ke Kapar Ferry. Kami dapat kapal ferry  yang besar, kebetulan parkiran agak dibelakang sehingga tidak menunggu lama kapalnya pun sudah melaju. Selama perjalanan Hawqal kupangku ganti-gantian dengan ibu. Hawqalnya agak rewel karena belum sepenuhnya pulih dari sakitnya. Selama perjalanan dikasih makan hanya di Pekalongan saja karena dia sempat muntah diperjalanan. Hawqal wartu itu usianya masih 6bulan 2minggu, jadi dia baru dikenalin MPASI. Kami memutuskan Hawqal dikasih ASI saja, MPASInya distop selama perjalanan karena Hawqalnya sempat muntah. Kalau bisa dibilang aku capek banget, karena tidurnya hanya tidur2 ayam ditambah Hawqal yang rewel. Di Kapal Ferry kami memilih masuk keruangan dalam yang bisa buat selonjoran dan berbaring. Ternyata ditarik tiket 10rb per-orang. Klo mau gratis duduk diemperan kapal diluar.

Selama di Kapal Ferry ada satu peristiwa yang sangat menyesakkan hatiku. Sambil menggendong Hawqal, punggungku dan punggung suamiku saling menyanggah karena dinding tempat selonjoran sudah penuh sehingga kami memilih ditengah. Aku melihat ada seorang anak yang kurang sempurna fisiknya (“maaf: bibirnya sumbing), dia merengek seperti meminta Handphone ditas ibunya. Ibu itu seperti marah dan dengan gampangnya menggampar anak itu. Anak itu masih merengek, ibu itu pun mengasih dan tidak tau apa yang dipencet anaknya, si ibu itu kembali marah menggampar anak itu dan mencubitnya dengan ringan tangan sekali. Tak terasa air mataku mengalir, aku nangis segugukan sambil nyiumin Hawqal dipangkuanku, tega banget ibu itu padahal ini tempat umum, tempat keramaian. Suamiku heran dan menanyakan kenapa aku menangis. Setelah kuceritaan, posisi dudukku diubah sama suamiku agar mataku tidak tertuju ke anak tersebut. Hawqal rewel lagi, aku dan ibu pindah ke ruang Laktasi di kapal ferry itu. Ruang yang tidak begitu besar, hanya dibatasi tirai diruang kaca bening dan cuma difasilitasi satu sofa. Ternyata Hawqal eek, setelah popokny diganti dan saya susui dia pun tertidur disofa itu.

ruang peristirahatan kapal ferry
menuju pelabuhan Bakauheni

Pukul 08.00 pagi kami sudah sampai kepelabuhan Bakauni. Rencana awal memang full tol setelah masuk pulau sumatera. Kali ini suamiku lagi yang nyetir. Kami berencana mau sarapan direst area, namun belum ada rest area yang berfungsi dengan semestinya. Untuk mengganjal perut sementara makan roti dan biskuit yang dibawa dari Boyolali. Akhirnya menemukan rest area yang agak ramai, kamipun berhenti sebentar untuk istirahat dan mandi. Hawqal makin menjadi-jadi rewelnya, dia menagis terus. Sedikit-sedikit eek, mencret. Mungkin karena kecapean dan sebenarnya dia belum pulih betul dari sakitnya yang kemarin. Pantatnya sampai merah, iritasi popok karena sebentar2 dia eek. Suasana makin mengharukan karena suara Hawqal sampai serak sakin seringnya menangis. Mau mundur ke belakang (Boyolali) sudah jauh banget, mau dilanjutin ke depan (Padangsidimpuan) juga masih jauh banget. Ayah Hawqal sampai menangis melihat anaknya yang nangis terus. Baru pertama kali aku melihat suamiku menangis, menangis karena anaknya. Setelah kami mandi, akhirnya ibu menyaranin keluar tol sebentar untuk mencarikan oralit buat Hawqal. Malah suamiku menyarankan kami mencari dokter.

Akhirnya kami keluar tol Kotabaru dan aku menyadari bahwa tol tersebut dekat dengan kampus ITERA (Institut Teknologi Sumatera). Pertama kali aku menyarankan ke minimarket dulu buat beli sufor, karena faktor kecapean ditambah Hawqal rewel banget, ASIku sempat mampet rasanya (Sufornya pun kebuang karena Hawqal enggak mau minum). Setelah itu kami mencari apotik, ibu membelikan oralit dan salep anti ruam popok. Kemudian kamipun lanjut sarapan sekalian makan siang di warung yang tidak jauh dari kampus ITERA tersebut. Sudah memasuki sholat jumat, karena dalam keadaan safar akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menjamak dzuhur dan ashar. Alhamdulillah, Hawqal berkurang rewelnya setelah oralitnya rutin diminum. Sebelum melanjutkan perjalanan, bbm diisi penuh pertalite 240rb.

Tol Trans Sumatera ini bisa dibilang masih kurang baik, banyak jalan yang berlubang dan tidak rata. Akhirnya Rezki menggantikan suamiku nyetir karena sering banget ditabrakin kelubang. Wajar aja mata suamiku sudah minus. Kira-kira pukul 17.00 kami sudah sampai Pelembang. Singgah sebentar di Jembatan Ampera, ikon kota Palembang yang melintas diatas sungai Musi. Kami menikmati sore dengan hidangan mie tek-tek dan teh anget. Menurutku mie tek-tek dipalembang ini agak beda dengan yang di Medan, mienya lebih kecil dibanding mie tek-tek yang di Medan.

Kami memutuskan untuk menginap semalam di Palembang, selain buat istirahat tujuannya agar Hawqal lebih baikan. Suamiku pun mencarikan hotel yang searah dengan jalan Trans Sumatera. Kami memesan 2 kamar. Rezky dan suamiku dikamar yang sederhana dengan harga 100rb, fasilitasnya hanya kipas angin. Sedangkan aku, Hawqal dan ibu dikamar ber- AC dengan harga 250rb. Menurutku itu tergolong mahal, salahnya diawal sih enggak cari diaplikasi, kami main datang langsung aja. Sebelum istirahat, kami mandi dan sholat isya-magrib jamak takhir. Untuk meredakan ruam popoknya, malam itu Hawqal hanya dipakaikan celana dan perlak. Setelah pagi, ku lihat dia masih mencret dan meninggalkan noda eeknya disprei hotel, aihhhhh mohon maaf ya petugas hotel, ihihihih.

Pukul 04.00 pagi, kami sudah siap-siap melanjutkan perjalanan. Sebelum subuh semuanya sudah mandi dan beres-beres. Setelah adzan subuh, kami pun sholat subuh dan melanjutkan perjalanan kembali. Tol Trans Sumatera hanya sampai kota Palembang. Jadi perjalanan selanjutnya melewati jalan trans sumatera biasa. Tujuan selanjutnya kota Solok, Sumatera Barat. Kami memilih lintas tengah agar lebih nyaman dan jalannya tidak terlalu berliku. Pukul 08.00 kami sarapan disebuah warung makan Padang. Dari penampilan pelayannya yang rapi bisa ditebak harganya mahal. Agak susah mencari warung makan di lintasan Sumatera Selatan-Jambi, jadi ya sedapatnya saja.

Pukul 12.00 sudah masuk daerah Jambi. Kemudian kami mengisi bbm premium 170rb dan sekalian sholat dzuhur jamak ashar. Tidak jauh dari pom bensin itu kami makan siang, kali ini makan bakso supaya lebih seger diperjalanan. Kami tidak memasuki kota Jambi karena tujuannya memang ke Solok ke rumah teman masa kecilku dahulu. Namun kami masih menjumpai aliran sungai Batang Hari yang merupakan sugai terpanjang di pulau sumatera. Pukul 16.00 kami sudah sampai di Kabupaten Batanghari, singgah sebentar dipinggir jalan untuk membeli degan. Suamiku dan Rezky memesan Degan murni, sedang aku dan ibu memesan Degan komplit. Kelapa muda dicampur sirup coco pandan dan susu serta ditambahin selasih, rasanya begitu nikmat menghilagkan dahaga selama perjalanan.

Jalan perbatasan Jambi-Sumbar sangat parah, terlebih di daerah Dharmasraya. Banyak jalan berlubang dan  tidak rata sehingga tidak bisa ngebut dan harus ekstra hati-hati. Kira-kira pukul 23.00 ban mobil kami kempis, mungkin karena begitu banyaknya lubang yang dilewati. Akhirnya suamiku dan Rezky menggantinya dengan ban serep. Aku, Hawqal dan Ibu istirahat nungguin disebuah warung. Warung itu sepertinya buka 24jam, banyak supir truk yang makan disitu sambil istirahat dari perjalanan jauhnya.

Pukul 03.00 dini hari baru tiba dirumahnya Eeng, dia tetanggaku sekalian teman SD sampai SMP waktu aku masih kecil. Karena ayahnya pindah tugas, akhirnya kami terpisahkan waktu SMP kelas 2. Dia pindah ke Sosa dan kemudian balik lagi ke kampung halamannya di Solok Sumbar. Hanya tidur sebentar dan istirahat dirumah Eeng, paginya kami sudah harus siap-siap melanjutkan perjalanan lagi. Setelah sholat subuh, mandi dan disuguhin sarapan dirumah Eeng. Kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan lagi. Tidak jauh dari Solok,kira-kira setengah jam kami singgah sebentar di danau Singkarak Batusangkar. Sekedar menikmati segelas kopi dan memanjakan mata atas keindahan danau yang Allah ciptakan. Alhamdulillah pertama kali melihat senyum Hawqal, dia sudah tidak rewel lagi dan diarenya pun sudah mulai sembuh.

dirumah Eeng
Hawqal di danau Singkarak
Danau Singkarak Batusangkar

Akhirnya kami pun berpisah dengan Rezky, dia ke arah Padang Panjang karena ada urusan sebelum balik ke kampung halamannya di Pasaman Barat. Selanjutnya suamiku yang nyetir menuju Bukit tinggi. Kebetulan libur tahun baru, walaupun dalam kondisi pandemi tetap saja macet menuju bukit tinggi. Kami memang berniat singgah sebentar walau hanya sekedar melihat jam gadang. Tapi karena parkirnya rada susah akhirnya kami hanya ke Panorama Ngarai Sianok.

Pukul 02.00 dari bukit tinggi kami pun menuju Padangsidimpuan. Sebelumnya singgah di daerah Kabupaten Sijunjung, mengisi bbm pertalite 200rb sekalian sholat jamak takhir dzuhur ashar. Selanjutnya kami pun melanjutkan perjalanan. Sungguh bisa bertafakur akan kebesran Allah, masih dimampukan badan ini dan mata ini melihat jalan berliku2 tiada henti, sehingga dikatakan kelok 1001. Ibu sampai mengucap terus, belum selesai belok kiri sudah belok kanan. Disebelah kanan bukit, disebelah kiri jurang. Tapi aku melihat supir didaerah ini sangat bersahabat, terlebih-lebih truk. Dia akan memberikan jalan kepada kami kalau ada jalan yang agak lapang dan lurus, sehingga mudah menyalipnya dijalanan yang tiada henti berkelok itu.

Pukul 18.30, pas magrib kami sudah di Kotanopan. Kamipun berhenti di pom bensin istirahat sebentar karena suamiku mengantuk, sekalian sholat magrib dan mengisi bbm pertamax 100rb. Setelah melanjutkan perjalanan, pukul 22.00 kami sudah dipanyabungan. Suamiku ngantuk lagi dan kami berhenti dipinggir jalan agar ia bisa tidur walau 15menit. Bapakku sampai nelpon apa kami dikirimin supir atau disusul kesana, tapi ku bilang tidak perlu pak, Akhirnya nyampai sidimpuan pukul 23.00. Alhamdulillah…

Foto Hawqal bersama Oppung
Foto Hawqal bersama Tulang Yugi, Kak Muti dan Bang Adzriel

Tidak lama disidimpuan, hanya 4hari saja karena suamiku bakalan balik kerja lagi. Hari pertama hanya dihabiskan nyuci pakaian dan istirahat saja. Hari kedua, aku cuma istirahat dan main sama Hawqal sedang ibu dan mama sempat jalan2 kepasar supaya ibu tahu pasar Padangsidimpuan. Hari ketiga kami keliling silaturrahmi kerumah saudara Bapak, sedang saudara dari mama sudah datang kerumahku menyambut kedatangan Hawqal. Hari keempat istirahat dan paking untuk pulang.  

‘- BY : RIZQI EKA PUTRI

Senin, 29 Juni 2020

Qashid Hawqal Yervant Nokilalaki, " Hawqal "

Dear Hawqal

“QASHID HAWQAL YERVANT NOKILALAKI”

Menantimu adalah harapan
Mengandungmu adalah anugerah
Melahirkanmu adalah nikmat
Membesarkanmu adalah tanggung jawab

Nak, ibu mau cerita sedikit tentang kelahiranmu.

Menantimu
Setelah kakakmu kemarin dipanggil Allah ke surgaNya, enggak lama menanti setelah ibu menyelesaikan tanggung jawab study ibu di Medan. Allah pun mengabulkan harapan ibu dan ayah yaitu kehadiranmu.

Mengandungmu
40week5day (9bulan lebih) bukan waktu yg sebentar untuk mengandungmu. Tapi penuh anugerah yg di berikan Allah untuk ibu dan ayah. Mulai dari ibu yg mabok2, rewel, sensitif, sakit yang tak bisa dijelaskan sampai ayahmu pernah satu kali gerah karena kerewelan ibu. Itu semua enggak dibuat2, bawaannya memang begitu. Kelak kau nanti besar jadi seorang suami, perhatian lebihlah untuk istrimu yang mengandung. Itu cukup banget mengurangi semua rasa yang gak enak yang iya rasakan.

Masuk TM2 mabok itu mulai hilang, ibu sudah bisa mulai beraktifitas sedia kala walau kadang klo kecapean sering kram dan rewel. Klo week end ayah bawa jalan2 walau hanya sekedar ke Solo nyari iwak, pernah kesawah agak ekstrim jalannya buat nyari cetul 😅, ke yogya juga pernah. Intinya hamil gak kudu dirumah aja, memang tipikal ayah gak suka diam, makanya namamu Hawqal kelak jadi seorang penjelajah muslim.

Masuk TM3 semua kerasa berat tapi makan makin lahap, timbangan makin menuju ke kanan. Ibu naik 15kg padahal sudah di diet2 in. Rada deg degan mendekati HPL, ibu berusaha jalan2 pagi tiap hari, yoga sendiri pakai youtube (sdh daftar kelas yoga eh uangnya dibalikin perkara korona 😅). Semakin dekat HPL jalan jongkok di kamar mandi (krn malu klo di dalam rumah 😂), ngepel jongkok juga tapi kamu tak kunjung mau lahir.

Akhirnya kontrol lagi, kata dokter ini sudah lewat 5hari, yaudah kita induksi saja. Khawatir kondisi kamu melemah nak. Tapi karena BPJS ibu kadaluarsa tanggal rujukannya, jadi ibu minta besoknya aja, pagi ibu ke puskesmas dulu ngurus rujukan. Allah Maha Baik, Dia memberikan ibu rasa kontraksi alami, ibu pecah ketuban malamnya jam 11. Jadi gak mesti pakai2 rujukan krn masuknya lewat IGD bukan Poli, jadi BPJS nya tetap bisa dipakai.

Melahirkanmu
Selasa (16 Juni 2020) Jam 11 malam itu masih bukaan 1, dibiarin sampai paginya masih bukaan 3. Akhirnya dokter induksi melalui infus jam 8 pagi dan jam 12 sudah bukaan 7. Bagus mbak kata bidannya paling jam 2 sudah lahir. Tapi apa yang terjadi macet sampe sore cuma sampe bukaan 8. Di mulut rahim ibu terjadi pembengkakan karena ibu ngeden sebelum waktunya. Sebenarnya ibu gak ngeden nak, itu reaksi obat induksi yang begitu dahsyatnya. Dokterpun memberi pilihan, klo mau sesar timnya masih lengkap, klo di RS ini malam tidak ada operasi. Paling klo melemah saya rujuk ke RSUD Pandanaran. Yg ada dipikiran ibu itu kamu, kamu yg terpenting bisa lahir dengan selamat. Mau normal kek, sesar kek, pokoknya kamu selamat nak. Tapi ayah sungguh luar biasa,, dia bisa memotivasi ibu, sungguh ayahmu sangat cuek tapi ibu dapat merasakan gimana sangat sayangnya ayah sama ibu saat berjuang melahirkanmu. Akhirnya kamu pun lahir nak persis selesai adzan isya mesjid RS PKU Aisyiyah Boyolali Rabu 17 Juni 2020 pukul 19.00, BB: 3,5kg, Tinggi: 51cm. Sungguh kamu anak yang kuat, semoga jadi anak yang sholeh dan penyejuk hati bagi setiap orang.

Membesarkanmu
Bidan melarang memberikan apapun sementara ASI ibu blom keluar. Semalam nginap di RS kamu anteng2 aja. Pulang ke rumah masyaAllah,, ibu blom pulih bergerak juga masih sakit tapi kamunya rewel banget. Lama2 ibu pegang kok badanmu panas nak,, ibu rada panik sambil ngomelin ayahmu, “dr kapan dibilang beliin pompa ASI ny, gak dibeli2. Ini ASI nya blom keluar dikasih sufor dulu, tapi gak usaha2”, akhirny ibu nelpon bidan yang biasa ngasih penyuluhan dari puskesmas katanya kamu memang dehidrasi, gpp kasih sufor dulu mbak Eka sebelum ASI keluar nanti klo sdh keluar berhentiin sufornya. Akhirny ayah dan semua bergerak buat beliin. Mungkin itu yg dirasakan ibu2 post partum, baby nya nangis dianya masih sakit ditambah lingkungan yang gak mendukung,, aih aih… jangan sampe dah jadi baby blues…
Besoknya ASI ibu sudah keluar, masyaAllah setelah dapat ASI kamu tu anteng banget, baik budi banget nak e, bahkan pipis pun enggak nangis kuat kayak sebelumnya cuma menggeliat2 aja gak nyaman. Karna membesarkanmu juga butuh proses belajar,, bantu ibu ya nak buat belajar lebih sabar…

 

‘- BY : RIZQI EKA PUTRI

Jumat, 19 Juli 2019

Ngabuburide Part 2, Ngajak Istri Touring ke Dieng

Jumat 24 mei 2019. Waktu menunjukkan pukul 16:00 tapi hati dan pikiran rasanya sudah tidak di kantor lagi. Segera selesaikan kerjaan biar pas jam 5 teng bisa pulang dan langsung berangkat gas ke dieng. Namun cerita jadi berbeda saat sudah gendong tas dan waktu menunjuk pukul 17:05 ada telp dari atasan jakarta yang meminta di follow up kan salah satu kerjaan. Gak jadi pulang jam 5 teng tapi buka laptop dulu selesain tugas nya biar gak jadi PR dan gak jadi masalah.

Akhirnya beres juga kerjaan dan langsung pulang dari kantor. Karena sudah terlanjur mepet buka puasa akhirnya saya dan Eka berangkat gas diengnya setelah buka puasa. Pulang dari kantor karena mau di traktir si Kirun saya mampir dulu sebentar di angkringan dekat kosan beli bukaan sama nasi kucing. Sampai kosan makan sekalian trus barulah kami berangkat menuju dieng nyusul si Yasin yang sudah berangkat sejam lebih dulu. Oiya kali ini saya mengendarai merzy selain kondisi motor paling sehat diantara RX dan GL juga penasaran pengen jajal kalo merzy buat boncengan dan nanjak seperti apa. Dari Klaten merzy saya gas agak kenceng supaya dapat mampir taraweh sekitar prambanan. Pas banget denger adzan isya sudah mau dekat Prambanan, begitu ada masjid kiri jalan saya langsung menepi dan masuk ke parkiran masjid.

Selesai Taraweh kami lanjut lagi gas Temanggung meeting poin dengan Yasin. Karena gak mau melintasi Jogja sayapun milih jalur Prambanan – Denggung selain memotong jalur juga sedikit menghindari keramaian dan kemacetan. Begitu sampai denggung saya ambil belok kanan dan lanjut gas ke arah Magelang. Masuk Muntilan jalan jadi agak ruwet dan kondisi sedang pemadaman PLN sehingga gelap total dan riding harus hati hati gak usah ngebut. Biasanya saya milih lewat ringroad Magelang tapi kali ini karena penasaran saya bablas terus masuk kota dan malah muter- muter bingung keluarnya mau ke arah Temanggung. Besok gak lagi lagi deh masuk jalur kota Magelang, malah mubeng mubeng ora menyingkat waktu justru tambah lama. Setelah berhasil keluar dari kota saya lanjut gas agak ngebut arah Temanggung karena Yasin sudah menunggu. Karena mulai hafal jalur alternatif ke Temanggung saya ambil jalur alternatif ini, lumayan memotong jalur tanpa harus lewat Secang. Karena perkiraan bensin merzy di tangki tinggal sedikit saya mampir dulu sebentar di pom dekat terminal sekalian ngecek posisi Yasin dimana. Selesai isi bensin kami lanjut lagi menghampiri Yasin yang jaraknya hanya 10menit.

Lanjut lagi gas menuju wonosobo setelah ketemu yasin di pom bensin tal jauh dari pom saya mengisi bensin. Karena membawa boncenger makluk lembut saya dan yasin sepakat memilih jalur umum atau jalur yg biasa orang lewati bukan lewat hutan atau lewat perkampungan. Dari Temanggung sampe Wonosobo alhamdulillah jalur cukup lancar dan agak sepi. Setiba nya di Wonosobo kami berhenti sebentar di alun- alun karena perut lapar. Sambil makan saya buka HP ada pesan dari cakmim sudah menunggu di Dieng. Tinggal setengah jam lagi kami sudah tiba di Dieng, selesai makan pun perjalanan kami lanjutkan agar tidak terlalu malam nyampai Dieng. Karena sudah malam dan jalan banyak kelok dan naik turunnya kami pun riding dengan hati hati dan mengutamakan safety tidak perlu ngebut yang penting cepat sampai.

Alhamdulillah tiba di pertigaan Dieng kami langsung berhenti di depan tulisan wellcome to Dieng dan berfoto foto sebagai kenang2an bahwa pernah ke Dieng. Setelah foto foto saya mendapat pesan dari cakmim untuk ketemu di depan SD dieng kulon karena homestay yang di pesanin cakmim letaknya di belakang SD. Homestaynya bagus, bersih, rapi, simpel, dan nyaman. Terima kasih banyak cakmim homestaynya sangat rekomended. Karena sudah capek dan ngantuk kami segera istirahat dan jam 3 pagi harus sudah bangun untuk sahur.

Singkat cerita kami bangun jam 03.00 untuk sahur makan roti dan minum teh hangat. Kemudian setelah shalat subuh karena masih ngantuk dan capek kami kembali tidur sampai matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 07.00 saya bangun dan bangunkan temen temen menawari mau pergi kemana. Kami deal pagi itu menuju destinasi pertama yaitu telaga dringo. Karena sudah lupa jalurnya saya pun inisiatif menggunakan google map menuju telaga. Setelah 15 menit melintasi jalan aspal bagusnya dieng kemudian jalur mulai menanjak dan berupa tatanan bebatuan. Istirahat sebentar sambil memastikan jalur. Kami lanjutkan perjalanan dan tanjakannya pun semakin kejam dengan kontur jalan yang sudah rusak. Karena tak kuasa menanjak binter merzy saya mati mesin di tengah tanjakan. Untuk mengurangi beban akhirnya Eka saya minta turun dan jalan kaki sedikit sampe jalan agak datar. Saya sudah lupa berapa panjang jalan rusak dan nanjak esktrim ini, dan ternyata hampir separo perjalanan dari homestay menuju dringo adalah jalur rusak dan menanjak esktrim ini. Alhasil merzy saya mati berkali kali setiap melintasi tanjakan yang ekstrim. Alhamdulillah setelah bersusah payah kami tiba di parkiran telaga dringo. Ya memang masih sepi dan tergolong sangat sepi telaga dringo ini. Setelah parkir kami jalan treking sedikit untuk sampai di telaga nya. Pepohonannya masih cukup rapat dan tumbuh subur rindang dedaunnya meneduhkan pejalan yang lewat. Bahkan kalau saya ingat kembali tahun 2013 hutannya masih sama hingga sekarang. Artinya kawasan hutan dringo dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Tak jauh dari parkir motor kira kira 10menit kami sudah sampai di bibir telaga. Langit biru airnya tenang angin bertiup sepoi sepoi. Terdengar pula kicau burung dari kejauhan. Hanya ada kami berempat, sungguh sahdu memang rasanya. Saya lihat juga ada banyak pohon baru ditanam di kawasan telaga dringo ini, ya mudah2an beberapa tahun lagi semakin rindang dan indah. Rumput yang tinggi dan lebat menunjukkan memang sangat jarang ada orang yang berkunjung ke telaga ini. Saya pribadi pun sangat puas bisa menikmati keindahan alam telaga Dringo bahkan dengan kesunyiannya. Setelah puas berfoto di sekitar telaga kami pindah berfoto di hutan yang juga eyeketching untuk berfoto narsis ala india. Pohon yang tumbuh pun menurut saya juga agak aneh, daun yang sangat lebat serta seperti sudah hidup ratusan tahun namun ukurannya tidak terlalu besar. Kalau boleh berandai andai saya seolah sedang di film film seperti harry potter dan sejenisnya.

IMG_20190611_193837_415  IMG_20190620_210637_783 IMG_20190710_163252_254 IMG_20190710_172131_868 IMG_20190710_192552_221 IMG_20190531_181337_312 IMG_20190602_053701_237 IMG_20190602_053238_574 IMG_20190531_110128_220

Karena sudah mulai siang dan masih ada destinasi selanjutnya kami segera balik ke parkiran kendaraan dan meninggalkan telaga dringo. Alhamdulillah perjalanan dari telaga dringo menuju dieng lebih banyak jalan menurun dan datar sehingga binter merzy saya aman. Dari parkir kendaraan sampai pos jaga / loket kami melaju perlahan dan hati hati karena jalan yg tidak rata serta kanan kiri ada yang curam. Sekiranya kami riding selama 20 menit sudah tiba di jalan beraspal menuju dieng. Perjalanan arah balik pun mata sangat dimanjakan oleh pemandangan kanan kiri jalan. Terasering perkebunan kentang khas dieng dengan di payungi langit biru yang cerah. Pepohonan hijau tumbuh agak jarang menghiasi sela sela kebun kentang. Udara dingin langit cerah biru dan kicau burung sungguh menyempurnakan hari kami di dieng. Tak terasa sudah 20 menit perjalanan kami sudah sampai di pom bensin dieng, ya satu satunya pom bensin yang ada di dataran tinggi dieng. Dari pom bensin kami memutuskan untuk mampir sekalian ke kawah sikidang dan candi arjuna.

IMG_20190528_230330_654

Setibanya di kawah sikidang saya sendiri sudah hafal segala sudut dan penjurunya. Di kawah saya sekedar mengantarkan eka, yasin dan ratna. Sambil melihat mereka saya arahkan kamera dan ambil beberapa foto mereka yang sedang asik menikmati kawah sikidang. Kawah sikidang yg biasanya sangat ramai pengunjung karena puasa berubah menjadi sangat sepi, bahkan cuma ada rombongan kami dan satu rombongan lain lagi. Kawah sikidang ini memang ada beberapa kawah yg pindah pindah tempat jadi ada bekas kawah juga ada calon kawah baru. Saat saya berkunjung pun ada calon kawah baru. Makanya disebut lah kawah sikidang karena sifatnya seperti hewan kijang yang lompat2. Setelah sudah mulai bosan dan mati gaya berfoto kami meninggalkan kawah dan menuju parkiran motor. Terik matahari siang semakin panas namun udara dingin mampu mengelabuhi kami sehingga saking tak terasa lagi panasnya matahari tiba tiba kulit wajah pun mulai terbakar. Sudah mulai malas malasan mau kemana karena teriknya matahari semakin terasa. Tapi rugi jika saat sepi seperti bulan puasa malah gak sekalian di explore. Karena tiket terusan dari kawah sikidang adalah candi arjuna maka kami manfaatkan daripada tiketnya hangus kan sayang.

Dari kawah sikidang cuma berjarak beberapa ratus meter saja ditempuh dengan 15menit naik motor. Tiba di parkiran candi arjuna sudah ada kang parkir yang mengarahkan agar motor di parkir dengan rapi. Dengan menunjukkan tiket dari kawah sikidang kami kemudian masuk ke kawasan candi arjuna. Karena cuma sebagai ampiran ya kami sekedar pengen melihat lihat ada apa saja di kawasan candi arjuna. Jalan beberapa puluh meter dari parkiran kami sudah tiba di candi arjuna. Tak ramai pengunjung hanya ada beberapa orang saja yang sedang duduk bersantai maupun berfoto di sekitar candi. Selain foto foto saya sendiri justru memanfaatkan untuk bersantai dan istirahat sebentar tidur tiduran samping candi. Dari candi kami balik ke parkiran untuk cari mushola shalat dzuhur dan lanjut lagi ke bukit scotter.

IMG_20190525_153814_186 IMG_20190710_192102_071

IMG_20190614_142056_670

Awalnya sih kepincut ke puncak seroja, karena cukup jauh akhirnya kami banting setir destinasi menuju bukit scotter. Dari candi arjuna sudah tidak jauh. Tak sampai 30 menit kami sudah tiba di bukit scotter. Hanya ada petani kentang yang sedang memanen kentang. Karena belum tau lokasi tepatnya sebelah mana saya tanyakan ke mas petani kentang. Kami disarankan jalan kaki menyusuri jalan setapak naik ke puncak bukit scotter. Kalau saya menilai memang belum bisa di sebut tempat wisata, tapi view nya yang keren jadi menarik wisatawan untuk berkunjung. View yang membuat saya terkesan adalah bisa menikmati pemandangan desa dieng wetan dan kulon dari atas. Terlihat perumahan padat penduduk dan jalan utama dieng. Perumahan padat dengan dinsekelilingnya adalah perkebunan kentang yang berada di kaki dan puncak bukit. Alhamdulillah sore itu langit cerah biru berawan foto yang saya peroleh pun menjadi lebih berwarna. Di bukit scotter kami agak lama karena memang tempatnya enak adem dan sepi. Karena bulan puasa dan kami harus segera bersiap untuk mencari buka puasa kami pindah destinasi hunting sunset sekalian berbuka dengan yang manis di batu ratapan angin.

Batu ratapan angin biasanya di manfaatkan turis untuk melihat telaga warna dari atas. Dari batu ratapan angin memang terlihat telaga warna dan telaga pengilon layaknya hasil foto sebuah drone. Tapi kali ini kami memang beda, ya salah satunya karena memang sengaja melihat dieng dari sudut yang berbeda. Termasuk melihat dieng dengan cara yang berbeda, kalau biasanya pagi atau siang turis menikmati batu ratapan angin kami justru sengaja datang sore hari sekalian untuk melihat sunset. Selain hari sudah sore juga karena dalam bulan puasa jadi turis pun sedikit bahkan bisa di bilang sepi di batu ratapan angin. Saya sendiri puas bisa hunting foto kesana kemari dengan bebas tanpa ada hasil foto yang bocor. Untungnya saya bawa kurma dan sebotol air minum, karena rupanya warung yang biasanya buka sampe sore tidak ada yang buka mungkin dari pagi sekalipun. Buka puasa di batu ratapan angin dengan pemandangan matahari terbenam dan menunya adalah kurma juga air mineral. Nikmat manalagi yang mau kamu dustakan kalau kata para penyair.

IMG_20190710_150619_100 IMG_20190528_214728_445

Hari semakin gelap dan sudah tiada turis lain lagi selain kami. Sudah waktunya shalat magrib dan kami meninggalkan batu ratapan angin menuju masjid dieng. Selesai shalat magrib kami mencari warung makan untuk mengisi perut sebelum lanjut camping di bukit sidengkeng. Tak jauh dari masjid ikonik dieng kami makan di depan indomaret sebelum masuk kawasan candi arjuna. Ada banyak pilihan menu di warung ini, dan saya sendiri memilih makan nasi goreng. Selesai makan kami balik lagi ke mesjid untuk mengikuti shalat taraweh. Seusai shalat taraweh saya sudah janjian sama amim untuk camping di bukit sidengkeng. Tak lama kemudian datanglah jokowiyono dan kami balik ke homestay untuk prepare sebelum mendaki sepetak bukit. Ada yang belum kami bawa yaitu seperangkat alat kompor dan panci nya, akhirnya setelah diantar ke awal pendakian bukit jokowiyono mencarikan kompor dan panci/nesting.

Mendaki bukit sidengkeng tidaklah tinggi dan jalurnya cukup bersahabat. Meskipun tidak tinggi tapi bukit ini di kawasan dieng dan sudah jelas kalau malam hawa nya tetap saja sangat dingin. Pendakian kami buat sesingkat mungkin, kurang lebih 15 menit kami sudah sampai di camping ground. Segera mendirikan tenda biar gak kedinginan. Malam itu langit sangat terang berkerlipan cahaya bintang. Berbagi rasi bintang juga terlihat dengan jelas, galaxy paling fenomenal di hati rakyat indonesia bersinar benderang sangat jelas di nikmati dengan mata telanjang. Malam itu ada milyaran bintang yang menyala, bulan pun juga ikut menyumbangkan cahayanya meskipun cuma segaris. Namun yang namanya dieng kalau malam tetap sangat dingin meskipun sudah di hangatkan oleh milyaran cahaya bintang. Untuk mengurangi dingin yasin berinisiatif membuat api dari serpihan kayu dan ranting. Hanya saya dan yasin yang diluar tenda, saya asik memotret dan yasin membuat api unggun kecil kecilan. Sedangkan eka kedinginan bersembunyi di dalam tenda. Konon angin dari ausi sudah mulai berhembus mendinginkan indonesia. Apa memang karena pengaruh angin ausi sampai- sampai eka sudah pakai jaket dan sleeping bag dan bersembunyi di dalam tenda masih kedinginan. Akhirnya saya suruh pakai jaket saya biar digunakan untuk double an jaket agar lebih hangat. Begitupun eka masih bilang kedinginan padahal sudah pakai dua jaket dan sleeping bag. Dan saya sendiri cukup pakai kaos dan celana panjang sambil menghangatkan badan di depan api unggun. Kedinginan gak?? Saya sudah terbiasa kedinginan bahkan saya sendiri pun juga dingin atau malah sangat dingin. Malam semakin larut dan rasa kantuk mulai datang, battere kamera juga tinggal 2 bar untuk berhemat esok hari masih ada sunrise kemudian saya sudahi malam itu sampai pukul 22.xx. karena tinggal sarung yang bisa dimanfaatkan untuk menghangatkan diri mau bagaimana lagi saya tidur berselimut sarung andalan penghalau dingin ketika di gunung. Kalau dibilang nyenyak ya enggak juga sih, sebelum sahur saya sempat terbangun karena kedinginan dan badan sampe bergetar karena menggigil. Tapi rupanya gak cuma saya, yasin pun justru tidak bisa tidur karena dia merasa ada yang sering lewat2 di sekitar tenda. Membuat yasin tidak jenak untuk tidur, dan sampai waktu sahur tiba kami memasak air dan popmi.

IMG_20190606_212018_806 IMG_20190604_085124_733 IMG_20190604_084747_203 IMG_20190603_041534_634

Waktu selesai sahur dan menunggu adzan subuh saya menunggu di luar tenda sedangkan yasin, ratna dan eka masih bersembunyi di dalam tenda. Sebenernya tempat kami camping sudah langsung menjadi spot sunrise jadi tak perlu kemana mana lagi untuk menikmati sunrise. Adzan terdengar dari kejauhan menunjukkan waktu shalat subuh telah tiba. Kami shalat subuh bergantian kemudian yasin balik masuk ke tenda untuk tidur, begitu juga ratna dan eka memilih di dalam tenda kembali tidur. Saya memilih di luar sembari menikmati dinginnya dieng sambil menunggu matahari menyapa. Waktu menunjukkan pukul 05.00 dan semburat merah sudah nampak di ufuk timur. Saya yang sedari tadi menunggu sudah siap dengan kamera dan tripod. Karena bulan puasa camping ground di bukit sidengkeng ini cuma kami berempat jadi tak perlu khawatir tidak kebagian spot motret. Api unggung sisa semalam yang masih menyala kembali saya nyalakan dengan sisa- sisa ranting pohon yang terjatuh dan telah kering. Kenyataannya ketika menjelang matahari terbit justru udara semakin dingin, makanya saya kembali nyalakan api unggun biar agak hangat. Bertemankan api unggun kecil yang kadang nyala kadang cuma berasap karena bahan bakarnya cuma remukan ranting dan daun saya menikmati perubahan langit pagi buta bukit sidengkeng. Perlahan langit mulai terlihat merah dan oranye. Nampak pula telaga warna dibawah bukit terciprat sinarnya mentari. Warna merah berubah menjadi warna kuning dan langit semakin membiru, tidak lupa saya bangunkan yasin, ratna dan eka memberitahukan bahwa sunrise telah datang. Pagi yang cerah untuk jiwa yang tenang. Sunrise dan langit pagi saat itu sungguh indah memanjakan mata. Udara dingin di lengkapi oleh kicau burung bersahutan menyanyi bebas di alam liar. Suara gemuruh angin dari bukit sebelah terdengar merdu dari tempat kami nenda. Siraman sinar matahari perlahan mulai menghangatkan badan saya yang kedinginan. Jangankan malam atau pagi bahkan siang hari pun udara yang berhembus di dieng adalah dingin. Saya pun sudah tidak peduli siraman sinar mentari akan menghanguskan kulit muka. Rasanya tidak panas karena terik matahari karena hembusan udara dingin seolah menipu panasnya terik matahari yang jatuh ke kulit. Sambil bersantai dan berleha leha saya, eka, yasin dan ratna menikmati pemandangan serta udara segar yang jarang kami dapat sehari- hari. Eka masih betah di dalam tenda sambil melihat keluar dari balik pintu tenda. Sedangkan yasin dan ratna sudah mulai membuat hammok diantara dua pohon untuk bersantai.

IMG_20190527_161315_507 IMG_20190604_085953_213 IMG_20190724_112532_479 IMG_20190716_214100_622 IMG_20190716_160056_173 IMG_20190531_105735_230 IMG_20190530_211810_056 IMG_20190531_105533_399 IMG_20190528_083627_151

Hari semakin siang terik mentari juga semakin terasa membakar kulit. Puas menikmati keindahan alam serta udara segar khas dieng kami packing dan prepare untuk turun bukit. Turun menuju parkiran petak 9 dengan waktu tempuh kira- kira 15menit. Sesampainya di bawah langsung telpon jokowiyono untuk minta di jemput. Sudah lebih 30menit saya mencoba menelpon jokowiyono namun belum terhubung, langsung coba ganti telpon amim dan langsung terhubung alhamdulillah amim segera datang menjemput. Rupanya amim dan jokowiyono sedang di kebun memupuk kentang. And then kami menuju homestay untuk mandi dan beberes bersiap untuk pulang. Oiya tak lupa mampir ke rumah amim untuk berpamitan sama bapak dan ibu dirumah. Agar tak kemalaman dijalan kami berempat segera pamit setelah shalat dzuhur meninggalkan rumah amim juga meninggalkan dieng.

Kami menuruni jalan berkelok dari dieng menuju Wonosobo. Langit sudah mulai berkabut tak terlihat biru lagi. Tak lama riding kami tiba di pasar kejajar dan sesuai info amim kalau ingin mencoba jalur baru disarankan belok kiri dekat BRI pasar kejajar. Kami ikuti saran amim dan kebetulan setelah belokan ada penjual bensin eceran, yasin dan saya sempatkan isi tangki bbm. Lanjut lagi menuju ngadirejo, namun belum lama riding mata sudah dimanjakan pemandangan yang indah. Berhenti lagi sebentar untuk ambil foto. Oke gas lagi agar tak kemalaman di perjalanan, dan pemandangan indah selama riding saya nikmati dengan mata telanjang. Kalau boleh di gambarkan atau di imajinasikan saya sedang di pedesaan plosok dengan di kelilingi bukit yang tinggi. Benar- benar seperti tidak sedang di Indonesia (maaf klo lebay). Nah kurang beruntungnya pas mau mendaki jalur diatas bukit merzy saya mogok lagi karena tak kuat. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya saat merzy mogok di tanjakan, Eka boncengers saya minta turun dulu dan jalan duluan menunggu di jalan agak datar diatas. Alhamdulillah satu tanjakan sadis sudah terlewati dan kami lanjut lagi riding melintasi perkampungan. Di perkampungan padat penduduk dan jalan sempit cuma muat satu mobil ini rasanya juga bukan seperti di Indonesia. Setelah melewati satu perkampungan kami dihadapkan pertigaan jika lurus kearah basecamp pendakian Prau (new) dan ke kanan menuju ngadirejo tujuan kami. Saya sungguh terpana dengan jalur ini, suatu saat nanti pengen lewat sini lagi dan mudah- mudahan cuacanya cerah tak berkabut. Lanjut riding dengan melintasi yang dominan perkebunan kentang dan jalan sudah relatif turun terus di variasi berkelok.

IMG_20190530_204455_292

Dan tak lama kemudian kami sudah dekat dengan pasar ngadirejo. Dari pasar ngadirejo kami riding terus sampai menemukan pom bensin terdekat. Istirahat sebentar juga sekalian shalat ashar. Selesai shalat beberapa menit kemudian hujan turun dengan deras dan kami berempat sudah siap untuk gas. Langsung saja gas pol menuju temanggung sambil menghindari hujan yang sudah turun di ngadirejo. Ya sempat memang kami kehujanan sebentar dan setelah Parakan alhamdulillah hujan reda. Parakan lanjut gas terus lewat Temanggung kota (alun-alun) tanpa berhenti atau mampir gas terus menuju Magelang. Saya dan Yasin masih riding beriringan hingga Blabak Magelang, dan berpisah di pertigaan Blabak karena saya belok menuju Boyolali via Kopeng. See you next trip Yasin dan Ratna bye bye.

Lanjut ya gaes, kali ini saya riding berdua sama Eka. Melintasi jalur favorit saya kalau dari Magelang pulang ke Boyolali. Blabak- Kopeng sepertinya sempat gerimis karena jalanan masih basah dan saya tetap berhati- hati dalam berkendara. Alhamdulillah jalur relatif sepi padahal hari mulai sore pasti banyak warga keluar rumah mencari takjil untuk bersiap buka puasa. Karena jam sudah mendekati waktu adzan magrib saya dan Eka setuju untuk mencari warung makan terdekat. Setelah sambil melihat kiri-kanan jalan banyak warung yang tutup akhirnya saya berhentikan motor di depan warung mie ayam sebelum pertigaan Muntilan-Kopeng. Kami memesan mie ayam sebelum adzan berkumandang dan sama penjualnya di bilangin ” saya buatin agak nanti ya mas biar gak medok mie nya “, saya sih iya iyain aja. Beberapa belas menit kemudian alhamdulillah adzan berkumandang kami segera berbuka. Mumpung berhenti saya meminta ijin numpang shalat magrib di ruang shalatnya penjual mie ayam dan di persilahkan. Selesai shalat magrib saya dan Eka lanjut perjalanan menuju Boyolali. Hari sudah gelap cuma penerangan motor yang menerangi jalan kami. Saya tetap fokus meskipun badan sudah capek. Tak lama kemudian sampailah di Ketep dan saya ambil jalan kekanan arah Boyolali. Mulai dari Ketep selain hari sudah gelap kami di temani gerimis serta kabut tebal sepanjang perjalanan. Harapan bisa geber motor supaya cepat sampai dirumah pun sirna. Saya lajukan motor perlahan saja serta dengan hati- hati karena jarak pandang sangat minim. Jalur khas pegunungan Ketep- Selo ini kalau gak kabut sangat syahdu untuk banting kanan dan kiri. Biasanya saya bisa menempuh waktu satu jam dari Ketep sampai dirumah, namun karena gerimis dan berkabut satu jam saya baru tiba di Selo. Jam sudah menunjukkan waktunya shalat isya dan kami berhenti di masjid pasar Selo untuk shalat isya dan taraweh.

Rabu, 13 Maret 2019

Camping Ceria Bukit Klangon Bersama Bikepacker Reg. Soloraya

Perjalanan saya mulai pukul 15.30 start dr Boyolali. Saat itu saya memutuskan riding pakai binter merzy aja sekalian manasin mesin karena sudah lama gak di pakai riding. Gas tipis- tipis alon alon sing penting cepet sampai. Lewat jalur Boyolali Jatinom yang kini sudah sangat ramai kendaraan lalu lalang jam 16.00 saya sudah sampai di pom bensin ngupit tikum pertama. Nunggu yasin yang jam 16.50 baru sampai sambil ngitungin truck pasir yang lewat.

Ada miss komunikasi sedikit, saya dan yasin nunggu mas susilo sampe jam 17.55 kok gak sampai juga. Karena penasaran saya buka lagi grup WA dan cek sharelokasi live nya mas sus tapi masih di daerah Solo baru. Kemudian yasin yang cek siapa tau hasilnya beda, eh beneran ternyata di map nya yasin mas susilo sudah jalan sampai klangon.

Hari semakin gelap dan tetesan air langit perlahan menyapa penghuni bumi. Saya kenakan baju jas hujan kemudian langsung gas menuju klangon. Dengan penerangan lampu kendaraan masing masing melewati jalur tengah sawah. Jalan aspal di beberapa titik sudah rusak jadi kami harus hati- hati. Hujan semakin deras dan waktu sudah menunjukkan shalat magrib. Kami mampir sebuah pom bensin sebentar untuk menunaikan kewajiban terlebih dahulu.

Usai shalat magrib perjalanan kami lanjutkan. Karena hujan makin deras saya langsung saja pakai sekalian celana jas hujan nya. Menyusuri jalan kecil gelap ditambah hujan yang cukup deras kaca helm saya jadi kurang untuk penglihatan. Kami riding pelan dan hati- hati agar tetap selamat. Sudah hampir 1 jam kami riding pastinya klangon hill sudah dekat. Jalanan semakin kecil dan mulai menanjak. Iya betul saya rasa memang sudah dekat, namun justru hujan yang mengguyur semakin deras. Jas hujan tembus air masuk ke bagian dada dan pergelangan tangan. Helm fullface karena jika di tutup kacanya akan susah untuk melihat jalan dalamnya jadi basah karena kaca terbuka sedikit untuk mengintip jalan. Hujan turun sangat deras kenapa kami gak berteduh dulu??? Iya pengennya juga berteduh dulu sebentar namun saat itu jalan yang sedang kami lewati kanan kiri nya berupa persawahan. Yaudah kami tetap gas pelan pelan saja karena visibilitynya juga sangat pendek. Terlihat petir dengan sangat jelas menyambar bumi yang kemudian di ikuti gemuruh suara geledek. Ya malam itu memang ngeri sekali. Setelah persawahan berganti ruko atau warung di kanan kiri jalan dan saya lihat yasin susah menepi duluan untuk berteduh, saya pun langsung ikut berteduh meskipun beda tempat berteduhnya.

Sambil berteduh menunggu hujan agak reda saya tersenyum sendiri sambil berfikir sejenak. Seru juga ya riding malam sambil hujan- hujan dan sesekali di kasih bonus pemandangan petir menyambar- nyambar. Alhamdulillah binter merzy saya jg baik baik aja di guyur hujan sangat deras. Hujan sudah tidak terlalu deras dan yasin yang berteduh beberapa ruko di bawah saya sudah mulai jalan dan lewat depan saya. Langsung saja saya panggil biar mampir dulu sambil membicarakan selanjutnya bagaimana. Ngobrol sebentar dan melihat map ternyata tinggal 9km lagi sudah sampai klangon hill. Saya dan yasin mulai jalan lagi hujan juga sudah tidak terlalu deras. Perlahan terus gas menaiki jalanan menanjak. Tak jauh dari tempat kami berteduh hujan turun dengan sangat deras lagi dan saya riding sambil tersenyum hati gembira. Setelah meninggalkan perkampungan jalan berkelak kelok dan beberapa kali kami kena genangan air yang sangat dalam. Karena gelap mungkin tidak terlihat oleh yasin dan terjadilah motor membelah air bagaikan speedboat. Karena tau di depan yasin membelah genangan air saya langsung kurangi kecepatan motor saya. Alhamdulillah binter merzy masih aman setelah membelah beberapa genangan air yang cukup dalam. Tak jauh dari beberapa genangan air itu akhirnya nampak sebuah motor pulsar merah terparkir di sebuah warung. Saya dan yasin langsung menghampirinya.

Alhamdulillah kami berempat sudah bertemu di warung klangon. Karena lapar saya dan yasin memesan nasi goreng dan teh manis hangat. Selesai makan karena hujan masih sangat deras kami berteduh dulu di warung si ibu sambil ngobrol- ngobrol. Mulai dari membahas tempat piknik sampai membahas youtuber indonesia yang sudah sampai kardung la himalaya.

L1392073

Setelah hujan beneran reda kami sepakat memutuskan untuk mendirikan tenda di camping ground, gak jadi numpang tidur di warung. Camping ground nya gak jauh dari warung cuma beberapa ratus meter saja. Motor juga kami parkir di samping tempat kami mendirikan tenda. Malam itu klangon cukup ramai padahal sorenya kondisi hujan sangat deras. Selesai mendirikan tenda saya dan yasin tak langsung tidur. Yasin sibuk menyeseti kayu bakar dan membakarnya sedangkan saya standby kamera untuk memotret aliran lava pijar merapi. Dari waktu kami tiba dan hujan sudah reda merapi telah mengeluarkan lava pijarnya sebanyak 3 kali sampai pukul 00.00. Jika di buat rata- rata bisa di bilang setiap jam nya merapi mengeluarkan lava pijar.

L1090179 L1090181

Meski sudah reda hujannya tapi malam itu rasanya semakin dingin. Karena tidak bawa jaket saya pakai saja jas hujan saya untuk tidur agar tidak kedinginan. Jam 00.30 kami berempat sudah di dalam tenda dan bersiap untuk tidur.

Pukul 03.xx yasin terbangun karena kedinginan dan keluar sebentar nyari kaos kaki, karena pintu tenda dibuka udara dingin masuk saya pun ikut terbangun. Hasil mencari kaos kaki gagal dapatnya kantong plastik dan dijadikannya kaoskaki hangat. Karena masih jam 3.xx saya lanjut tidur lagi menunggu alarm hp berbunyi pukul 04.30. Tidur lagi sampe pukul 04.30 dan terbangun kemudian keluar tenda bersiap shalat subuh dan lanjut motret lahar merah. Rupanya diluar tenda sudah ada masus entah standby dari jam berapa dia sudah siap aja motret lahar merah. Alhamdulillah pagi cuaca cerag langit bersih dari mendung. Di ujung timur mulai berubah kemerahan namun justru lahar merah mulai semakin pudar dan tak terlihat. Sebagai gantinya tanda bahwa merapi erupsi adalah keluarnya kepulan asap putih.

L1090195

L1090233 L1090251

 

Sambil menikmati sejuknya udara pagi dan pemandangan cerah kami memuat kopi dan mie rebus untuk mengganjal perut. Berfoto dengan motor di depan gagahnya sang merapi yang sedang batuk. Silih berganti untuk berfoto narsis dengan background gunung merapi. Hunting foto ke sekitar lokasi kami mendirikan tenda. Suasana masih sangat pagi matahari belum terlalu pecah dan terik. Selain tanah lapan untuk mendirikan tenda juga ada hutan dengan pohon belum telalu besar dan tinggi. Ada beberapa spot foto yang menurut saya bagus, menyebrang semacam jurang kecil atau aliran air ada gazebo juga pepohonan yang tumbuh rapi bisa dimanfaatkan untuk framing si merapi. Ada juga anjungan yg dulunya mungkin pernah di gunakan sebagai wahana selfie. Sayangnya saat saya ingin naik terlihat kayu sudah mulai lapuk.

Setelah cukup puas hunting foto kami segera packing melipat tenda dan bersiap untuk pulang. Sebelum pulang tak lupa untuk foto bareng dulu sebagai tanda bahwa kami pernah di klangon.

L1090263 L1090267

Rabu, 09 Januari 2019

Dines ke Tegal nyobain jalur Dieng- Kajen- Slawi

Pagi kala itu kami awali dengan berkumpul di Irung Petruk, sebuah nama tempat yang kalau di lihat dari udara berbentuk seperti hidungnya Petruk salah satu tokoh wayang. Saya datang lebih dulu kemudian parkirkan motor dan ambil kamera untuk sedikit foto- foto pemandangan. Niat awalnya memang pengen melihat sunrise namun karena agak mendung matahari pun terlihat ketika sudah agak tinggi. Tak lama kemudian Sindi tiba dan beberapa belas menit kemudian di susul Cakra juga telah tiba. Rute kami adalah Dieng- Tegal dan Semarang. Karena pasukan sudah lengkap kami langsung saja berangkat menuju check point pertama yaitu Dieng. Oiya jika temen- temen belum tau kalau lewat Boyolali menuju Dieng lebih cepet maka boleh mencoba jalur ini ya. Dari Irung Petruk kami terus saja naik sampai Ketep kemudian ambil jalur yang arah Magelang/ Blabak. Alhamdulillah cukup sepi dan cuaca saat itu cerah dan sedikit berkabut di beberapa titik Selo. Bagi yang suka jalur berkelok naik turun pasti termanjakan apalagi jalannya sudah halus setelah perbaikan total beberapa bulan lalu. Selain jalur berkelok naik turun yang sudah mulus juga pemandangan indah di hamparkan sepanjang jalur hingga sampai Blabak. Saat kami dari Boyolali menuju Blabak maka ada gunung Merapi yang gagah berdiri di sebelah kiri dan terlihat dengan jelas bahkan hingga puncak nya. Juga pemandangan indah perkebunan warga desa yang menanaminya dengan sayur mayur. Meskipun hari mulai siang namun udara yang menghembus melewati kami pun terasa sangat dingin dan sejuk. Sudah mata sejuk melihat pemandangan hijau segar dan sejuk pula udara yang berhembus, hemmm kurang apalagi coba? terlalu kalau tidak bersyukur. Kami melintasi jalur Selo- Blabak ini memakan waktu sekitar 1 jam karena memang santai sedang tidak buru- buru di kejar waktu.

Tiba di Blabak kami mengambil jalur arah Magelang. Jalan Raya Jogja- Magelang sudah ramai di lewati kendaraan berlalu lalang. Kami terus melaju dengan hati- hati sampai terminal Secang kemudian mengambil jalur arah Temanggung. Di Secang kami berhenti sebentar membeli air minum sekalian ambil uang untuk beli bensin. Dari Secang lanjut lagi sampai terminal Temanggung kami sudah merasa lapar dan setuju segera mencari sarapan. Tak jauh dari terminal ada penjual SOP ayam kami berhenti dan sarapan dahulu. Sekalian sedang sarapam kami bertanya apa ada penjual durian yang enak sekitar Temanggung? ah sayangnya si ibu penjual sop kurang tau. Selesai sarapan kami lanjut perjalanan tapi karena tau mas Nur Rozi sedang ada dirumah kami sempatkan untuk mampir dulu sebentar. Ngobrol sebentar di rumah mas Nur sambil nengokin anaknya yang lucu dan imut- imut kamudian kamu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Dari Temanggung menuju Parakan kami melewati jalur pedesaan dan kota kecamatan. Kalau orang lain mungkin setelah dari Parakan menuju Wonosobo dan kearah Dieng. Karena kami memang beda dan sengaja mengambil jalur melewati perkebunan Teh maka dari Parakan ambil jalur ke pasar Ngadirejo. Setelah sampai di pasar Ngadirejo mentok belok kiri dan lurus terus ikuti jalan saja sampai ketemu perkebunan. Karena jalan dari pasar Ngadirejo kecil dan di tengah kampung kami melaju agak perlahan karena memang bagusnya ketika melintas di perkampungan tak boleh ngebut. Hawa udara mulai dingin lagi setelah sebelumnya sempat kena panas di jalur Blabak hingga Parakan. Semakin naik jalur semakin kecil dan menanjak berkelok kiri dan kanan. Terlihat beberapa warga sekitar sedang berkebun.